Oleh: Latief
Qomaruddien Sy[1].
Mendefinisikan agama bukanlah suatu hal yang mudah[2],
apalagi realita yang ada menunjukkan bahwa di dunia ini agama amat beragam.
Pandangan seseorang terhadap agama, ditentukan oleh pemahamannya terhadap ajaran agama yang ia anut[3].
Disatu sisi agama dipandang -oleh
penganutnya- sebagai sumber moral dan nilai, sementara di sisi lain agama
dianggap menjadi pemicu terjadinya konflik di dunia[4].
Dalam hal ini, Afif Muhammad mengistilahkan agama sebagai sesuatu yang kadang
kala menampakkan wajah ganda[5].
Persoalan yang kemudian
muncul dan menjadi inti pembicaraan kita sesuai dengan realita di atas, apalagi
ditambah dengan kompleksitas problematika yang disebabkan perkembangan dunia
mutakhir adalah, “masih relevankah agama bersanding dengan manusia dalam
kehidupan dunia masa kini?”
Agama (penj: menurut ajaran Islam) merupakan fitrah yang dimiliki oleh
setiap manusia ( Q.S. Ar-Rum; 30). Ini berarti manusia tidak dapat melepaskan
diri dari agama, karena agama merupakan kebutuhan hidupnya, walaupun kadang hal
itu dapt ditangguhkan. Sebab adanya perbedaan kebutuhan manusia terhadap
sesuatu, kebutuhan manusia terhadap air lain dengan kebutuhannya terhadap
udara, mungkin ia tahan beberapa hari tanpa air namun tidak demikian dengan
udara. Hal ini sesuai dengan pandangan para sosiolog mengenai teori asal usul
agama[6].
Kebutuhan manusia akan agama juga dinyataka Wiliam Jaes sebgaimana
dikutip Quraisy Syihab, bahwa selama manusia masih memiliki naluri cemas dan
mengharap (pen; sebagai mana konsep khouf dan roja’ dalam agama Islam), selama
itu pula ia beragama –dalam artian berhubungan dengan Tuhan[7]
Namun, walaupun agama menjadi kebutuhan manusia yang tak dapat
ditinggalkan, tidak berarti ia (agama) selalu mendapat tempat yang selayaknya
pada setiap orang. Sebab –apalagi- dengan semakit pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan, ekskalasi penyimpangan ataupun tantangan terhadap agama justru
semakin signifikan. Amsal Bakhtiar memaparkan adanya beberapa paham/ aliran dalam
pemikiran yang dapat menimbulkan keraguan terhadap agama –bahkan meningkat
menjadi penolakan.[8]
Fungsi Agama Di Era Sains
Dalam hubungannya dengan
pengembangan ilmu pengetahuan, agama sesungguhnya sangat berperan, terutama
jika manusia tetap ingin jadi manusia. Sebagai contoh, kemajuan yang dicapai
ilmu pengetahuan dibidang bio-tekhnologi. Ilmu manusia sudah sampai batas yang
menjadikannya dapat berhasil melakukan rekayasa genetika. Apakah keberhasilan
ini akan dilanjutkan sehingga menghasilkan makhluk-makhluk hidup yang dapt
menjadi tuan bagi penciptanya sendiri? Apakah ini baik atau buruk? Hanyalah
agama yang dapat memberikan jawaban tidak juga seni ataupun filsafat.
Agama juga dapat mengontrol manusia dari pemberhalaan dan pemutlakan
terhadap ilmu pengetahuan[9].
Murtadha Mutahari, sebagaimana yang dikutip oleh Quraisy Syihab menjelaskan
fungsi agama hubungannya dengan ilmu bagi manusia;
* Ilmu mempercepat sampai ke tujuan, agama menemtukan arah tujuan
* Ilmu menyesuaikan manusia dengan lingkungannya, agama menyesuaikan dengan jati dirinya
*Ilmu tidak jarang mengeruhkan pikiran pemiliknya, agama selalu
menenangkan jiwa pemeluknya yang
tulus[10].
Sisi Positif Gerakan Orientalisme
Bagi
Dunia Islam*
Oleh:
Latief Qomaruddien, Sy.[11]
Pendahuluan
Orientalis
dalam kacamata mayoritas Muslim dipandang sebagai suatu gerakan yang
membahayakan eksistensi keimanan umat Islam –terutama kaum bazaar (awam).[12]
Dengan karya-karya yang terbungkus dengan kemasan yang menggiurkan dan berlabel
ilmiah, mereka menebarkan kebohongan dan kepalsuan serta interpretasi
menyesatkan terhadap Islam. Padahal, menurut Wilfred Cantwell Smith sebagaimana
dikutip oleh Ihsan Ali-Fauzi, mengatakan bahwa sebuah studi atau penelitian
mengenai sesuatu –yang ada pada pihak lain- baru dapat dikatakan valid dan
diterima, jika kesimpulan yang dihasilkan dari studi tersebut telah disepakati
(di”iya-kan”) oleh pihak yang dikaji.[13]
Pandangan dan kecurigaan
umat Islam terhadap orientalis ini berkaitan erat dengan pengalaman buruk yang
dialami kaum Muslim dalam lingkaran histories mereka ketika bersinggungan
dengan kaum non-Muslim (disamping disebabkan oleh berbagai karya-karya
kontroversial mereka). Namun, bagaimanapun juga tidak bisa dipungkiri, bahwa
gerakan dan eksistensi orientalis dengan ribuan karyanya telah membuka lembaran
keilmuan baru bagi dunia Islam. Kendatipun karya-karya mereka merupakan hasil
kesinambungan histories dari karya-karya besar para ilmuwan, filosof serta para
cendekiawan Muslim pada masa keemasannya. Mereka telah terlebih dahulu
meletakkan pondasi dasar ilmu pengetahuan dan sains yang sampai saat ini masih
terasa pengaruhnya. Hal itu mereka (para ilmuwan Muslim) hasilkan dari
pembacaan kreatif mereka terhadap sumber ajaran Islam (al-Qur’an).[14]
Latar Belakang Sejarah Munculnya Orientalisme
Dalam melacak akar kemunculan
orientalisme, terjadi kesimpang-siuran dan perbedaan di antara para pakar.
Menurut Dr. Husain Haikal, sebagaimana dikutip Dr. Qosim Assamurai, bahwa
kelahiran orientalisme berawal dari adanya persinggungan antara orang-orang
Islam dan orang-orang Romawi dalam perang Mut’ah dan perang Tabuk (terjadi
sekitar abad ke-6 H.).[15]
Pendapat lain mengatakan bahwa
orientalisme muncul akibat berkecamuknya perang salib (1097-1295).[16]
Peristiwa itu dianggap sebagai awal mula terjadi pergesekan politik dan agama
antara Islam dan Kristen Barat di Palestina. Pemusuhan politik ini juga
disebabkan oleh kekalahan beruntun yang diderita pasukan Kristen saat melawan
pasukan Islam yang saat itu dibawah pempinan Nuruddin Zanki dan Sholahuddin
al-Ayubi yang berlanjut hingga al-Adil (saudara dari Sholahuddin).
Pendapat ketiga, menitik-beratkan
kelahiran orientalisme pada peristiwa berdarah yang yang terjadi di Andalusia (Spanyol) dalam peperangan antara orang-orang
Islam dan orang-orang Kristen, terutama setelah Alfonso VI menaklukkan Toledo (488 H/ 1085 M).
Kemudian setelah itu terjadi gerakan tobat dan penghapusan dosa yang berpusat
di biara Kluni dipimpin Santo Peter the Venerable dari Perancis. Peristiwa itu
diikuti dengan munculnya gerakan perubahan Kristen Spanyol beserta semua kitab
dan upacara ritualnya, serta ditetapkannya Kristen Katolik Romawi sebagai agama
yang benar. Tak ayal peristiwa tersebut memicu tejadinya perang salib
-implikasi dari pernyataan menyesatkan para pendeta saat itu. Adapun musuh yang
harus diperangi adalah orang-orang Islam dan juga Kristen Spanyol.[17]
Ketiga pendapat di atas sama-sama
dilandasi argumentasi yang kuat dan berdasarkan fakta histories persinggungan
antara Islam dan Kristen (Nasrani) pada waktu itu. Namun, kita dapat mengambil
benang merah dari ketiganya, bahwa gerakan orientalisme muncul disebabkan
adanya kecurigaan dan ketakutan kalangan Kristen terhadap Islam. Di samping
adanya kekaguman dan kecemburuan pada diri mereka –umat Kristen- atas prestasi
umat Islam yang sangat spektakuler. Adapun ketegangan yang terjadi ketika para
orientalis berhadapan dengan Islam, tidak lain disebabkan gugatan Islam atas
supremasi Barat sekaligus menawarkan jalan tengah yang lebih ramah dan
manusiawi. Hal ini tidak mereka jumpai dalam agama-agama Timur lainnya (semacam
Budhisme-Hinduisme), sehingga persinggungan mereka relatif aman.[18]
Pengaruh Peradaban Islam di Dunia Barat
Siklus histories (perputaran roda
sejarah) peradaban dunia merupakan sunnatullah yang tidak mungkin
manusia menggugatnya. Namun, sebagai pelaku sejarah, manusia
bertanggungjawab atas semoga itu. Jadi, kemajuan ataupun kemunduran sebuah
peradaban sangat bergantung pada manusia itu sendiri sebagai pelaku sejarah
dunia.
Kesadaran akan ketertindasan dan keterbelakangan
serta keinginan untuk menjadi dirinya sendiri akan berimplikasi terhadap world
view suatu bangsa. Kesadaran tersebut pada tahap selanjutnya akan
memunculkan fajar kebangkitan dari ketidakberdayaan serta ortodoksi.[19]
Demikian juga kebangkitan yang terjadi dibelahan dunia bagian Barat (Eropa).
Pengaruh peradaban Islam pada masa
kejayaannya -jangan disamakan dengan kondisi dunia Islam sekarang- atas Barat
tidak bisa dinafikan. Hal itu diakui oleh mereka sendiri, Gustave Le Bon dalam
bukunya The World of Islamic Civilization sebagaimana dikutip Syafi’i
Ma’arif, ia mengatakan bahwa peradaban Islam-lah yang telah membawa Eropa
menjadi dunia yang beradab (abad ke-9 dan ke-10 M). Menurutnya, pada saat pusat
peradaban Islam Spanyol sedang berada pada puncak keemasannya, pusat-pusat
intelektual Barat hanyalah berupa benteng-benteng perkasa yang dihuni para
bangsawan semi-barbarik yang dihinggapi rasa kebangggan atas kebodohan mereka.[20]
Pengaruh Islam di Barat ini terutama
dapat dilihat dari berkembang pesatnya pemikiran rasional Ibn Rusyd di kalangan intelektual mereka. Demikian luar
biasanya apresiasi Barat terhadap pemikiran Ibn Rusyd, sampai-sampai muncul
aliran yang menamakan diri averroeisme [21](Ibn-Rusyd-isme)
yang menuntut kebebasan berfikir dan menggugat otoritas gereja yang mereka
anggap sebagai biangkeladi keterpurukan bangsa Barat. Namun tidak lama kemudian
otoritas gereja melarang gerakan tersebut, karena dianggap akan mengikis
otoritas gereja yang telah mapan saat itu. Tetapi gerakan itu tetap masih
survive walaupun intensitasnya sangatlah kecil dan terus mendapat tekanan yang
sangat dahsyat.
Selain karya-karya Ibn Rusyd
karya-karya para ilmuwan dan folosof Islam lainnya-pun sangat digemari di
Barat. Di antaranya karya-karya filsafat al-Farabi dan Ibn Sina.[22]
Jadi, walaupun Islam mengalami kemunduran dan kekalahan serta terusir dari
benua Eropa (Spanyol khususnya), namun ia telah menanamkan kesadaran pada Barat
yang termanifestasikan dengan muncul beragam gerakan kebangkitan di Eropa. Di
antara gerakan-gerakan tersebut adalah; pertama, kebangkitan kembali
kebudayaan Yunani klasik (renaissance) pada abad ke-14 M yang bermula di
Italia; kedua, gerakan reformasi pada abad ke 16 M rasionalisme pada
abad ke-17 M dan yang ketiga, pencerahan (aufklaerung)
pada abad ke-18 M.[23]
Kontribusi Orientalis Bagi Dunia Islam
Studi
Barat terhadap dunia Timur –terlepas dari segala kontroversinya- telah menambah
perbendaharaan kepustakaan intelektual yang tidak sedikit jumlahnya. Bahkan
tidak sedikit dari karya para orientalis mendapat tempat yang cukup baik di
kalangan umat Islam, dan tidak jarang karya ilmiah mereka dijadikan sebagai
bahan rujukan.[24]
Selain
karya-karya tersebut masih banyak karya lain yang telah menguak sisi-sisi yang
belum terjamah para ilmuwan Muslim terdahulu yang justru menunjukkan kebenaran
Islam dan keunggulan Islam atas lainnya. Begitu besarnya perhatian Barat
terhadap Timur, khususnya Timur Islam, hingga Edward W. Said, seorang
cendekiawan Arab Kristen dan pengarang buku Orientalism, sebagaimana
dikutip Syafi’I Ma’arif, mengatakan bahwa antara tahun 1800 hingga 1950 saja
tidak kurang dari 60.000 buku telah ditulis pihak Barat mengenai Timur Dekat (The
Near Orient).[25]
Tanpa mengesampingkan kehawatiran para
intelektual Muslim akan bahaya agenda orientalisme yang terselubung, perlu
dicatat bahwa pada dasawarsa terakhir abad ini telah muncul beberapa nama besar
dari kalangan orientalis yang menunjukkan kecenderungan positif terhadap
peradaban Islam[26]. Salah
satu diantara mereka adalah Montgomery Watt, yang berusaha menggugat
mispresepsi, prasangka, serta citra keliru Barat Kristen terhadap Islam[27].
Selain itu, Louis Massignon, termasuk dalam kategori orientalis yang menaruh
simpati terhadap Islam. Ia secara aktif ikut berperan memberikan masukan
positif tentang Islam kepada dunia Katolik, yang akhirnya membuahkan Konsili
Vatikan II.[28]
Pada tahap selanjutnya banyak juga
para orientalis –terutama yang dalam mengkaji islam Berdasarkan motifasi
ilmiah- yang kemudian masuk Islam dan menjadi pioneer menghadapi para
penentangnya. Keberadaan mereka sangat berarti di tengah-tengah gelombang
kebencian terhadap agama ini, sebab dengan semangat mereka setelah menemukan
kebenaran, mereka akan melawan segala bentuk distorsi dan diskrimrnasi yang
dilakukan para penentang agama ini.
Kesimpulan
Menurut penulis, walaupun keberadaan
para orientalis menyembunyikan kehawatiran di kalangan intelektual Muslim
dengan agenda terselubung mereka, namun hal itu akan sangat bermanfaat, jika
semua itu dihadapi dengan sikap arif dan bijaksana. Karena mereka bisa
dijadikan sebagai “guru”[29]
yang dapat meningkatkan spirit kita dalam berjuang menggali harta karun yang
terpendam dalam Islam. Tetapi, di samping itu kita harus tetap waspada terhadap
bahaya laten yang ditebarkan oleh para orientalis.
Akhirnya, penulis berharap agar para
intelektual Muslim bangga dengan predikat yang disandangnya, dalam artian tidak
terbawa arus menyesatkan yang dibawa oleh musuh-musuhnya. Tetapi mempertahankan
kebenaran Islam dengan mendalami khasanah ilmu-ilmu Islam yang telah dirintis
para pendahulu kita, sehingga kebangkitan Islam akan menjadi suatu keniscayaan.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmaanirrahiim
Puji syukur kehadirat
Allah, karena hanya dengan rahmat, taufiq dan hidayah-Nyalah kami dapat
menyelesaikan makalah ini.
Sholawat dan salam tak lupa kami haturkan
kepada junjungan kita nabi Muhammad Saw. yang merupakan revolusi-oner dunia.
Pemberi syafa’at kepada umat-nya kelak di yaumul
akhir.
Adapun penulisan makalah ini merupa-kan
tugas kuliah terstruktur yang telah diberi-kan oleh dosen Logika. Tentunya
dalam pe-nulisan makalah ini penulis tidak luput dari kesalahan-kesalahan baik
dari segi bahasa maupun metodologi yang
penulis gunakan. Maka dari itu kami sangat mengharap kritik konstruktif dan
saran serta masukan dari manapun dan siapapun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………………... 1
DAFTAR ISI …………………………………. 2
BAB I PENDAHULUAN
…...................... 3
BAB II KEKELIRUAN/ KESALAHAN BERFIKIR
.................................... 4
A. Macam-macam Kekeliruan Berfikir ... 4
B. Sebab-sebab Kekeliruan Berfikir ..... 14
C. Cara Untuk Membantah Kekeliruan Berfikir
............................................. 15
BAB IV PENUTUP .................................
18
BAB I
PENDAHULUAN
وأن هذا صراطى مستقيمافتبعوه
0ولاتتبعواالسبل فتفرق بكم عن سبيله
ذلكم وصكم به لعلكم تتقون
“Inilah jalan-Ku yang benar,
maka ikutilah dia, dan janganlah mengikuti jalan-jalan yang lain.. Karena jalan
jalan-jalan yang lain akan mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya, yang demikian
itu diberikan kepadamu agar kalian bertaqwa” (Al-An’am: 135)
“Jalan” dalam ayat
tersebut berarti metode, sistem, pedoman, pola laku, pola tindak dan pola
tindak serta pola pikir yang menghantarkan manusia untuk selalu berpegang teguh
kepada logika Qur’an agar tidak sesat pikir dalam mencapai kebenaran.
Berpikir adalah tingkah
laku yang menggunakan pengertian (idea), yakni proses mengenal simbol-simbol
tertentu. Kalau kita makan bukan berfikir namanya, tetapi kalau kita
membayangkan makanan yang tidak ada maka kita menggunakan simbol-simbol
tertentu dan tingkah laku itulah yang disebut “berfikir”.
Jadi berfikir juga suatu proses belajar mengenal
sesuatu untuk memperoleh pengetahuan (pengetahuan yang benar).
BAB II
KEKELIRUAN ATAU KESALAHAN BERFIKIR
Melalui
metode deduksi maupun induksi, kini dapat kita kumpulkan berfikir menjadi :
Macam-Macam Kekeliruan Berfikir
Kekeliruan Formal
a. Fallacy
of four term (kekeliruan kerena
menggunakan 4 term)
Kekeliruan berfikir karena menggunakan 4 term dalam sosiologisme,
terjadi karena term penengah diartikan ganda, sedangkan dalam patokan
diharuskan hanya terdiri dari tiga (3) term, seperti:
>. Semua perbuatan
mengganggu orang lain diancam dengan hukuman.
Menjual barang di bawah harga tetang-ganya adalah
mengganggu kepenting-an orang lain. Jadi, menjual dengan harga di bawah
tetangganya diancam hukuman
>.
Orang yang berpenyakit
menular harus disingkirkan
Orang yang berpenyakit panu adalah menular. Jadi
dia harus disingkirkan
b. Fallacy of undistributed middle (keke-liruan karena kedua term penengah
tidak mencakup)
Kekeliruan
berfikir karena tidak satupun dari kedua term penengah mencakup-, seperti:
>. Orang yang terlalu
banyak belajar, kurus. Dia kurus sekali, karena itu ia banyak belajar
>. Semua anggota PBB
adalah negara merdeka. Negara A tentu menjadi ang-gota PBB karena negara itu
merdeka
c. Fallacy of illicit process (kekeliruan karena proses tidak benar)
Kekeliruan
berfikir karena term premis tidak mencakup (undistributed)
tetapi dalam konklusi mencakup, seperti:
>. Kura-kura ialah binatang melata. Ular bukan
kura-kura, karena itu ia bukan binatang melata
>. Kuda adalah binatang.
Sapi bukan ku-da, karena itu sapi bukan binatang.
d.
Fallacy of two negative premis (keke-liruan karena menyimpulkan dari 2
premis yang negatif)
Kekeliruan
karena mengambil kesim-pulan dari dua premis negatif. Dan apabila terjadi
demikian sebenarnya tidak bisa ditarik konklusi, seperti:
>. Tidak satupun drama
yang baik mudah dipertontonkan dan tidak satupun dra-ma shakespeare mudah
dipertonton-kan , maka semua drama shakespeare adalah baik.
>. Tidak satupun barang yang baik itu mu-rah dan
semua barang di toko itu ada-lah tidak
murah, jadi kesemua barang di toko itu adalah baik.
e. Fallacy of affirming the consequent (ke-keliruan karena mengakui akibat)
Kekeliruan
berfikir dalam silogisme hipotetika karena membenarkan akibat kemudian
membenarkan pula sebabnya, seperti:
>. Bila kita bisa
berkendaraan secepat cahaya, maka kita bisa mendarat di bulan. Kita telah dapat
mendarat di bulan berarti kita telah dapat berkendaraan secepat cahaya.
>. Bila pecah perang,
harga barang-barang naik. Sekarang harga barang naik, jadi perang telah pecah.
f. Fallacy
of denying antecedent (kekeliru-an karena menolak sebab)
Kekeliruan
berfikir dalam silogisme hipotika karena mengingkari sebab kemudi-an
disimpulkan bahwa akibat juga tidak terlaksana, seperti:
>. Bila permintaan
bertambah, harga naik. Karena sekarang permintaan tidak ber-tambah, jadi harga
tidak naik.
>. Bila datang elang maka
ayam berlarian, sekarang elang tidak datang, jadi ayam tidak berlarian.
g. Fallacy of desjunction (kekeliruan dalam
bentuk disjungtif)
Kekeliruan
berfikir terjadi dalam silogis-me disjungtif karena mengingkari alternatif
pertama, kemudian membenarkan alternatif lain. Sedangkan menururt patokan,
penging-karan alternatif pertama, bisa juga tidak terlaksananya alternatif yang
lain, seperti:
>. Dia lari ke Jakarta
atau ke Bandung, ternyata tidak di Bandung, Berarti dia ada di Jakarta.
>. Dia menulis cerita atau pergi ke Sura-baya,
dia titak pergi ke Surabaya, jadi tentunya ia menulis cerita.
h. Fallacy of inconsistency (kekeliruan
karena tidak konsisten)
Kekelurian
berfikir karena tidakruntut-nya pernyataan yang satu dengan pernya-taan yang
diakui sebelumnya, seperti:
>. Anggaran Dasar Organisasi kita su-dah sempurna, kita
perlu meleng-kapi beberapa pasal agar komplit.
>. Tuhan adalah Maha
Kuasa, karena itu Ia bisa menciptakan tuhan yang lain yang lebih kuasa dari
Dia.
2. Kekeliruan Informasi
a. Fallacy
of hasty generalization (keke-liruan
karena membuat generalisasi yang terburu-buru)
Kekeliruan
berfikir karena tergesa-gesa membuat generalisasi, yaitu mengambil kesimpulan
dari kasus individual yang terlampau sedikit, sehingga yang ditarik melampi
batas lingkungannya, seperti:
>. Dia orang Islam,
mengapa membunuh, kalau begitu orang Islam memang jahat.
>. Panen di kabupaten
ini gagal, kalau begitu tahun ini indonesia harus mengekspor beras.
b. Fallacy
of forced (kekeliruan
karena memaksakan praduga)
Kekeliruan
berfikir karena menetapkan sesuatu dugaan, seperti:
>. Seorang pegawai
datang ke kantor dengan luka di pipinya. Seorang mengatakan bahwa istrinyalah
yang melukainya dalam suatu percekcokan karena diketahui selama ini orang itu
kurang harmonis hubungannya dengan istrinya, padahal sebenarnya karena goresan
besi pagar.
c. Fallacy
of begging the question (keke-liruan karena mengundang perma-salahan)
Kekeliruan
berfikir karena mengambil konklusi dari premis yang sebenarnya harus
dibuktikandahulu kebenarannya, seperti:
>. Allah itu mesti ada
karena ada bumi. (di sini orang akan membuktikan bahwa Allah itu ada dengan
dasar adanya bumi, tetapi tidak dibuktikan bahwa bumi adalah ciptaan Allah)
d. Fallacy
of circular argument (kekeliru-an karena menggunakan argumen yang berputar)
Kekeliruan
berfikir karena menarik konklusi dari satu premis kemudian konklusi tersebut
dijadikan sebagai premis, sedang-kan premis semula dijadikan konklusi pada
argumen berikutnya, seperti:
>. Ekonomi negara X
tidak baik karena banyak pegawai yang korupsi.
Mengapa banyak pegawai yang korupsi? Jawabanya,
karena akonomi negara kurang baik.
e. Fallacy
of argumentative leap (kekeliru-an karena berganai dasar)
Kekeliruan
berfikir karena mengambil kesimpulan yang tidak diturunkan dari premisnya, jadi
mengambil kesimpulan melompat dari dasarnya, seperti:
>. Ia kelak menjadi
mahaguru yang cer-das, sebab orang tuanya kaya.
>. Pantas ia cantik
karena p[endidikannya tinggi.
f. Fallacy
of apealing to authority (keke-liruan karena mendasarkan pada otoritas)
Kekeliruan
berfikir karena mendasarkan diri pada kewibawaan/ kehormatan sese-orang tetapi
dipergunakan untuk perma-salahan diluar otoritas ahli tersebut,seperti:
>. Bangunan itu sungguh
kokoh, sebab dokter haris mengatakan demikian. (Dokter Haris adalah ahli
kesehatan bukan insinyur bangunan)
g. Fallacy
of appealing to force (kekeliruan karena mendasarkan diri pada kekuasaan)
Kekeliruan
berfikir karena berargumen dengan kekuasaan yang dimiliki, seperti menolak
argumen seseorang dengan menyatakan:
>. Kau masih juga
membantah kepadaku. Kau baru satu tahun duduk di bangku perguruan tinggi, aku
sudah lima tahun.
h. Fallacy of abusing (kekeliruan karena menyerang pribadi)
Kekelirian
berfikir karena menolak argumen yang dikemukakan seseorang dengan menyerang
pribadinya,seperti:
>. Dia adalah orang yang
brutal, jangan dengarkan pendapatnya.
i. Fallacy
of ignorance (kekeliruan karena kurang tahu)
Kekeliruan
berfikir karena menganggap bila lawan bicara tidak bisa membuktikan kesalahan
argumentasinya, dengan sendiri-nya argumentasi yang dikemukakan benar.
>. Kalau kau tidak bisa
membuktikan bahwa hantu itu ada maka teranglah bahwa pendapatku benar, bahwa
hantu itu tidak ada.
j. Fallacy
of complek question (kekeliruan karena pernyataan yang ruwet)
Kekeliruan
berfikir karena mengajukan pernyataan yang bersifat menjebak, seperti:
>. Jam berapa kau pulang
semalam? (yang ditanya sebenarnya tidak pergi. Penanya hendak memaksakan
pengakuan bahwa yang ditanya semalam pergi)
k. Fallacy
of oversimplikation (kekeliruan
karena alasan terlalu sederhana)
Kekeliruan
berfikir karena menatapkan sifat bukan keharusan yang ada pada suatu benda
bahwa sifat irtu tetap ada selamanya, seperti:
>. Kendaraan buatan Honda
adalah ter-baik, karena paling banyak diminati
l. Fallacy
of accident (kekeliruan karena menetapkan sifat)
Kekeliruan
berfikir karena menetapkan sifat bukan seharusnya yang ada pada seatu benda
bahwa sifat itu tetap ada selamanya, seperti:
>. Daging yang kita
makan hari ini adlah dibeli kemarin, daging yang diberli kemarin adalah daging
mentah, jadi hari ini kita makan daging mentah.
m. Fallacy
of irrelevant argument (keke-liruan karena argumen yang tidak relevan)
Kekeliruan
berfikir karena mengajukan argumen yang
tidak ada hubungannya dengan yang menjadi pokok pembicaraan, seperti:
>. Pisau silet itu
berbahaya dari pada peluru, karena tangan kita seringkali teriris oleh pisau
silet dan tidak pernah oleh peluru.
n. Fallacy
of false anologio (kekeliruan karena salah mengambil analogi)
Kekeliruan
berfikir karena menganalogi-kan dua permasalahan yang kelihatannya mirip,
tetapi sebenarnya berbeda secara mendasar, seperti:
>. Seniman patung
memerlukan bahan untuk mnciptakan karya-karya seni, maka Tuhan pun memerlukan
bahan dalam menciptakan alam semesta.
o. Fallacy
of appealing to pity (kekeliruan karena mengundang belas kasihan)
Kekeliruan
berfikir karena menggunakan auraian yang sengaja menarik belaskasihan untuk
mendapatkan konklusi yang diharap-kan ((letak kekeliruan karena masalahnya berhubungan
dengan fakta bukan dengan perasaan)
>. Saya sampaikan pada
anda (para juri) bukan untuk kepentingan Thonas Kidd tetapi menyangkut
permasalahan yang panjang, ke belakang masa yang sudah lampau/ke depan ke masa
yang akan datang. Yang menyangkut seluruh manusia di bumi.saya katakan kepada
anda bukan untuk Kidd, tetapi untuk mereka yang bangun pagi sebelum dunia
menjadi terang dan pulang pada malam hari setelah langit diterangi
bintang-bintang, mengorban-kan kehidupan dan kesenangannya, bekerja berat demui
terselenggaranya kemakmuran dan kebesaran. Saya sampaikan pada anda demi
anak-anak yang sekarang hidup/ yang akan lahir.
3. Kekeliruan Karena Penggunaan Bahasa
a. Fallacy of composition (kakaliruan karena komposisi)
Kekeliruan
berfikir karena menetapkan sifat yang ada pada bagian untuk menyifati
keseluruhannya, seperti:
>. Setiap kapal perang
telah siap tempur, maka keseluruhan angkatan laut negara itu telah siap tempu.
>. Mur ini sangat ringan
, karena itu mesinya tentu ringan juga.
b. Fallacy of devision (kekeliruan dalam pembagian)
Kekeliruan
berfikir karena meneapkan sifat yang ada pada keseluruhannya, maka demikian
juga setiap bagiannya, seperti:
>. Kompleks ini dibangun
di atas tanah yang luas, tentulah kamar-kamar tidurnya juga luas.
c. Fallacy of accent (kekeliruan karena tekanan)
Kekeliruan berfikir karena kekeliruan memberikan
tekanan dalam pengucapan, seperti:
>. Ibu, ayah pergi (yang
hendak dimaksud adalah ibu dan ayah
pembicara sedang pergi. Seharusnya tidak ada penekanan pada ibu, sebab
maknanya menjadi pemberitahuan kepada ibu bahwa ayah baru saja pergi.
d. Fallacy of amphiboly (kekeliruan karena ampiboli)
Kekeliruan
berfikir karena menggunakan sususnan kalimat yang dapat ditafsirkan
berbeda-beda, seperti;
>. Seorang pemuda datamg
kepada seorang peramal pakah judi yang pertama kali ia ikuti nanti malam akan
menang atau kalah, ia mendapat jawaban: anda akan mendapat peng-alaman yang
bagus. Atas jawaban ini ia sangat puas dan menyimpulkan ia akan menang dalm
perjudian. Tenyata ia kalah, waktu ia kembali ke tempat peramal dan menanyakan
mengapa ramalannya meleset, tukang ramal itu m,enjawab: saya benar, sebab
dengan kekalahan itu anda mendapat peng-alaman yang bagus, bahwa judi itu
membawa penderitaan.
e. Fallacy of equivolation (kekeliruan karena menggunakan kata depan
dalam arti)
>. Gajah adalah binatang, jadi gajah adalah yang
kecil (kecil dalam “gajah kecil” berbeda pengertianya dengan kecil dalam “ binatang kecil”)
>. Menunggu satu seperempat (1 ¼) jam adalah
lama, maka menggarap saat ¼ jam adalah lama.
Sebab-sebab Kesalahan Berfikir
Karena fallacy
Karena tidak menguasai
tekhnik berfikir
Karena kurang
bersungguh-sungguh menggunakan pikirannya dan kurang cermat mengadakan
penelitian atau kurang serius untuk mengetahui kesalahan dirinya.
Karena kurang menguasai
pengetahuan yang berhubungan dengan fakta-fakta, akibat kepicikan sikap dan
keangkuhan sifat.
Karena kurang menguasai
bahasa ilmu serta penggunaannyadalam pergaulan maupun penulisan.
Karena unsur kesengajaan
untuk menyesatkan orang lain.
Ada beberapa cara dalam ilmu logika yang dapat digunakan untuk mem-bantah kesalahan/kekeliruan berfikir.
Pembuktian ex absurdis
Yaitu
pembuktian kesalahan dengan menunjukkan adanya hal-hsl yang berlawan-an akal
sehat.
Contoh: “manusia bebas dari
ikatan-ikatan moral” pembuktiannya “jika seandai-nya manusia bebas dari
ikatan-ikatan moral, sudah barang tentu ada sesuatu yang dianggap kejahat-an
(dosa) dan tidak pula sesuatu yang dianggap kebaikan (pahala). Padahal keduanya
nyata ada.
Pembuktian ad hominem
(retorsi)
Yaitu
pembuktian kesalahan dengan menggunakan bentuk pembuktian yang digunakan lawan
atau menggunakan se-suatu yang diyakini kebenarannya oleh lawan (retorsi),
karena alasan lawan diputar kembali “senjata makan tuan”.
Contoh: Orang Kristiani
berkeyakinan bahwa nabi Adam mewariskan dosa kepada anak keturunannya. Pembuktiannya
“anda yakin Allah Maha Bijaksana, kalau pernyataan itui benar, apakah
Alolah akan dianggap bijaksana mendosakan orang yang tidak berbuat dosa.
pembuktian instantia
Yaitu
penbuktian dengan cara mengajukan sebagian hal yang dapat mendesak kesimpulan
lawan.
Contoh: “semua orang yang
rajin pasti ber-untung” Pembuktiannya “ternyata adikku rajin tapi ia
selalu rugi”. Pernyataan “adikku rajin tapi tidak naik kelas”. Adalah
bagian dari pernyataan universal “semua
orang rajin pasti neruntung” yang dapat mendesak kebenaran pernyataan universal
tersebut.
Pembuktian inversio
Yaitu
pembuktian dengan menggunakan term tengah yang dipakai oleh lawan sebagai
alasan pembuktian.
Contoh: Orang yang berpaham liberalisme berkata: “
kalau hewan saja bebas dari ikatan-ikatan moral, apalagi manusia yang
kedudukannya lebih tinggi dari hewan.
Jika disususn secara silogisme
Hewan bebas dari ikatan moral
Manusia lebih mulia dari hewan. Jadi manusia lebih
bebas dari ikatan moral
Pembultiannya : kalau manusia lebih mulia dari pada
hewan, me-ngapa manusia mesti meniru hewan yang bebas dari ikatan moral.
BAB III
KESIMPULAN
Logika timbul karena usaha manusia untuk
menyelamatkan dirinya dari kesalahan berfikir, serta menghindarkan orang lain berfikir salah.
Kesalahan
berfikir harus kita hindari, setidak-tidaknya kita harus tahu bahwa itu memanga
salah. Membiarkan kesalahan berfikir adalah sama dengan menjerumuskan diri kita
dan orang lain ke dalam kesulitan. Sebab hakikat berfikir adalah supaya kita
bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Orang dikatakan pikiran-nya sehat apabila ia dapat
membedakan dua hal yang memang berbeda itu. Dan dikatakan berfikir logis
apabila bisa menya-lahkan kesalahan pikirannya dan menyalah-kan sesuatu yang
memang tidak benar, serta membenarkan apa-apa yang memang sudah jelas benar.
Tetapi pikirannya menjadi kacau jika yang terjadi sebaliknya. Yakni
menyalah-kan sesuatu yang benar dan membenarkan sesuatu yang salah dimana
keduanya memang benar.
BAB IV
PENUTUP
Akhirnya kepada
Allah-lah kami serah-kan segalanya. Semoga apa yang telah kami lakukan atau apa yang telah
kami tulis ini, bermanfaat bagi siapapun, khususnya bagi kami pribadi.
DESAIN EVOLUSI:
Konsep
Pendekatan Integratif Agama Dan Sains
dalam
isu Evolusi dan Penciptaan
Oleh:
Latif Qomaruddien Sy.
Prolog
Pandangan
integrasi merupakan konsekuensi logis dan sekaligus tuntutan ilmiyah dari
pandangan Dialog. Dikatakan sebagai konsekuensi logis karena adanya bukti peran
subyek dalam mengkonstruksi pemahaman terhadap realitas dan adanya kesejajaran
metodologis dalam sains dan agama, maka tentunya kesadaran ini bersumber pada
pandangan yang integratif antara subyek dan obyek. Pandangan ini juga disebut
sebagai tuntutan alamiyah dari pandangan Dialog karena telah disadari bahwa
sains dan agama merupakan dua wilayah yang kita alami sebagai suatu keutuhan
dalam memahami realitas, sehingga kesadaran ini memberikan tuntutan pada
penjelasan yang lebih sistematis mengenai interaksi yang konsruktif dan
integratif antara agama dan sains.
Pandangan
integrasi sebagaimana telah dijelaskan (di Bab I), mempunyai tiga versi yang
berbeda untuk menjelaskan sisi integrasi antara agama dan sains. Begitu juga
dalam hubungannya dengan kasus evolusi dan penciptaan, natural theology mengambil
bentuk klaim desain evolusi, theology of nature diwakili oleh
konsep-konsep penciptaan malar oleh Tuhan melalui evolusi, sedangkan sintesis
sistematis atas filsafat proses dipaparkan dari gagasan-gagasan evolusi.
Desain Evolusi
Pertanyaan
yang sering muncul dalam hubungannya dengan konsep evolusi adalah, apakah
evolusi merupakan suatu proses yang diarahkan atau merupakan suatu kebetulan?
Jika ditilik secara lokal dan dalam periode pendek tampaknya ia ditandai dengan
beberapa arah perubahan, bukan hanya satu arah saja. Jadi pola evolusi tidaklah
separti pohon yang tumbuh secara seragam, melainkan semacam semak-semak yang
berserakan yang cabang-cabangnya tumbuh kebeberapa arah dan sebagian lainnya
mati.
Sebelum
kita melangkah lebih jauh, terlebih dahulu kita harus mengetahui terminologi
desain dalam kaitannya dengan evolusi. Desain, secara tradisional disamakan
dengan cetak biru detail pra-keberadaan yang ada di dalam benak Tuhan.
Kebanyakan para teolog terpengaruh oleh pandangan Platonik tentang tatanan ide
yang abadi di balik dunia material. Tuhan dikatakan mempunyai ketentuan azali
yang berlaku di dalam penciptaan, sehingga desain menjadi anti tesis dari
kebetulan. (Barbour, 2002: 220)
Namun,
evolusi memandang desain ini lebih sebagai postulat umumakan kebertujuan arah
evolusi, tetapi bukanlah rencana yang terperinci. Sebab makna evolusi sendiri
menyiratkan desain strategi jangka panjang, tetapi tidak ada keadaan final yang
dapat diperkirakan. Mungkin istilah lain yang mencerminkan gagasan desain
evolusi ini adalah evolusi kreatif. (Husein Haryanto, 2003: 8)
Dalam
hal ini Barbour menganggap desain evolusi (evolutionary design) sebagai
pilihan yang efektif untuk menjelaskan dan menyelesaikan banyak masalah dalam
hubungan sains dan agama yang berkaitan dengan isu evolusi dan penciptaan,
disamping gagasan penciptaan malar (continuing creation). Ia memilih
desain evolusi ini karena dianggap sebagai jalan yang dapat dipertanggung
jawabkan secara nalar.
Pandangan
bahwa selaksi alam yang membawa kesuatu kelangsungan hidup yang paling relevan,
dalam populasi individu yang berkarakter macam-macam dan kompetisi di antara
mereka, telah menghasilkan sederet transformasi geologis secara berangsur,
dimulai dari organisme yang primitif dan simple sampai sampai kebentuk
kehidupan yang sangat tinggi, tanpa adanya intervensi sarana atau daya kekuatan
yang mengatur. (W. R. Thompson, 2002)
Prof.
Ahmad Barquni, dalam bukunya Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman,
mengatakan, bahwa adanya air dan uap air, gas amoniak, mentana serta dioksida
karbon di bumi kita, serta adanya perputaran bumi pada sumbunya, memungkinkan
munculnya makhluk hidup, sedangkan kemiringan sumbu putar bumi pada bidang orbitnya
merupakan kondisi yang mendorong adanya keragaman hayati. Karena dengan adanya
kemiringan itu, memungkinkan timbulnya empat musim di daerah beriklim dingin,
sehingga ada musim panas dan dingin padanya. (Barquni, 1996: 115). Sedangkan
Perubahan iklim merupakan salah satu sebab yang mempengaruhi timbulnya variasi makhluk hidup.
Namun,
setelah menyebutkan bahwa sejarah evolusi menunjukkan kecenderungan umum ke
arah kekompleksan, keresponsifan dan kawaspadaan yang besar serta peningkatan
kapasitas organisme untuk mengumpulkan,
menyimpan dan mengolah informasi, maka apakah kita masih akan menganggap halini
sebagai suatu kebetulan? Dalam hal ini Barbour mengajukan sebuah pertanyaan,
siapakah yang meragukan bahwa manusia menunjukkan keunggulan yang menakjubkan
dibandingkan dengan amuba atau cacing? Bagaimana mungkin hal ini hanya
merupakan produk kebetulan? (Barbour, 2002)
Kebetulan
dalan pandangan DJ. Bartholomew dapat digunakan manusia untuk mencapai tujuan
mereka sendiri. Sebagaimana dalam kasus melempar koin dan sampling acak ataupun
dalam mengocok kartu, disana akan timbul kebetulan, kecakapan dan juga variasi.
Menurutnya, dalam evolusi variasi merupakan sumber keluwesan dan keadaptifan.
Populasi yang beragam dapat merespons keadaan yang berubah-ubah secara lebih
baik daripada populasi yang seragam, dan variasi genetik sangatlah penting
dalam perubahan evolusioner (Barbour, 2002). Jadi, kebetulan dan hukum
merupakan ciri alam yang saling melengkapi, bukanya saling meniadakan. Dengan
pandangan demikian, kebetulan jusru menjadi bagian dari desain, alih-alih
sebagai anti tesis dari desain.
Karena
itu, kita dapat mempresepsikan Tuhan sebagai Perancang Sistem Pengaturan Diri
itu sendiri. Alam merupakan proses menciptakan bertingkat banyak yang meliputi
hukum, kebetulan dan kemunculan. Kita dapat melihat desain melekat di dalam
kendala-kandala yang membatasi kemungkinan-kemungkinan bagi struktur molekuler
yang stabil dan pola-pola pengembangan yang mungkin dalam sejarah evolusi.
Sebuah dunia yang tingkat bertingkat tampaknya secara inheren cenderung
mengarah kekemunculan kompleksitas, kehidupan dan kesadaran. Tuhan tampaknya
telah memberi materi kemungkinan-kemungkinan, dan membiarkan mereka membentuk
pola-pola kompleks dari diri mereka sendiri. Dalam tafsiran ini, Tuhan
menghormati integritas dunia dan membiarkannya menjadi dirinya sendiri.
(Barbour, 2002)
Kesimpulan
Kekompleksan,
keresponsifan dan peningkatan kapasitas organisme dalam isu evolusi merupakan
fakta yang menjadi dalil bahwa evolusi tidak bukan merupakan kebetulan an-sich,
melainkan sebuah peristiwa yang terarahkan. Namun dalam hal ini tidaklah secara
mutlak, artinya bukanlah rencana terperinci. Melainkan masih menyisakan lahan
bagi timbulnya kebetulan-kebetulan di dalamnya.
Daftar pustaka
Barbour, G., Ian, Juru Bicara Tuhan; Antara Sains dan Agama, Bandung: Mizan, 2002.
Hariyanto, Husein, Pemetaan Hubungan Sains dan Agama dalam Perspektif
Kemanusian, Makalah pada worksop
“Agama dan Sains”, Malang, Agustus 2003.
Thompson, W., R., Pengantar The Origin Of Species, Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2002.
Barquni, Ahmad, Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman, Jakarta: Damai Bhakti
Prima Yasa, 1996.
[1] Makalah
ini sebagai tugas kuliah filsafat yang diadakan PUSDILAM dan di presentasikan
pada tanggal 16 Juli 2004 M.
[2] R.R.
Marret seorang antropolog Inggris seperti dikutip Abuddin Nata mengatakan,
bahwa kesulitan itu dikarenakan agama menyangkut lebih dari hanya pikiran, tapi
juga perasaan dan kemauan manifestasinya dalam aspek emosional. (baca; Abuddin
Nata, Metodologi Studi Islam; 119)
[3] E.B.
Taylor mendefinisikan agama sebagai “belief in spiritual beings…” (dr.
juhana S. Praja, Filsafat dan Metodologi Ilmu dalam Islam; 24). Mahmud
Syaltut mengatakan, bahwa agama adalah ketetapan-ketetapan Ilahi yang
diwahyukan kepada nabi-Nya untuk menjadi pedoman bagi manusia (Quraisy Syihab, Membumikan
Al-Qur’an; 209).
[4] Apa yang
terjadi terhadap para ilmuan eropa pada masa kekuasaan gereja semacam Galileo,
Copernikus merupakan bukti mengenai hal ini, demikian juga dengan terjadinya
perang salib ataupun peristiwa peristiwa lain yang mengatasnamakan agama
sebagai legitimasi kebenaran.
[5] Lebih
lanjut, Johan Efendi menyatakan bahwa agama pada suatu waktu memplokamirkan
perdamaian, jalan menuju keselamatan, persatuan dan persaudaraan, namun pada
waktu yang lain menampakkan dirinya sebagai sesuatu yang garang dan menyebarkan
konflik, bahkan tak jarang menimbulkan peperangan. (Dadang Kahmad, Sosiologi
Agama; 147)
[6] Ada enam teori tentang
asal usul agama yang dikemukakan para sosiolog, diantaranya teori jiwa, teori
batas akal, teori krisis dalam hidup individu, teori kekuatan luar biasa, teori
sentimen kemasyarakatan dan teori wahyu tuhan. ( baca; Ibid, hal 24-30)
[7] Quraisy
Syihab, Wawasan Al-Qur’an; 376.
[8] Empat
paham yang dimaksud, di antaranya; Empirisme; Positivisme; Marxisme; dan,
Freudianisme. (baca; Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama; 105-128)
[9]
jalaluddin Rahmat mengutip pernyataan yang di sampaikan Paus John Paul II, (
baca; Jalaluddin rahmat, Psikologi Agama)
[10] Quraisy
Syihab, Wawasan Alqur’an; 376.
* Makalah ini disusun sebagai syarat mengikuti
Ujian Akhir Semester mata pelajaran Orientalisme Institut Dirosat Islamiyah
Al-Amien Prenduan, dengan dosen pembimbing KH. Maktum Jauhari, MA.
[11]
Mahasiswa semester VII IDIA fakultas Ushuluddin /Akidah Filasafat.
[12]
Mereka (orientalis) berbahaya karena mempunyai tujuan ingin menghancurkan
warisan pusaka dan agama umat Islam. Dimana hal itu diwariskan secara
turun-temurun melalui karya-karya mereka yang cenderung mendistorsi relitas
yang sesungguhnya, sehingga mengaburkan kebenaran yang ada pada agama ini
(Islam). (Dr. Qosim Assamurai, Bukti-buktiKebohongan Orientalis,
Rajawali Pers; 24)
[13]
Wilfred Cantwel Smith adalah seorang ahli sejarah agama-agama dengan spesialisasi
sejarah agama Islam berkebagsaan Kanada. (Ihsan Ali-Fauzi, Orientalisme
dimata Oriantalis, Jurnal Ulumul Qur’an Vol: IV, Hal: 4)
[14]
Yang dimaksud disini bukan lantas digeneralisir bahwa semuanya telah tersurat
dalam Al-Qur’an, namun lebih karena semangat yang ditimbulkan dari penghayatan
mereka terhadap al-Qur’an itu sendiri. Ia (al-Qur’an) menempatkan para pencari
ilmu diatas para ahli ibadah, ia juga menganjurkan manusia untuk berfikir dan
merenung tentang manusia dan alam semesta sebagai ciptaan Allah.
[15]
Persinggungan antara kedua kekuatan tersebut terjadi dalam bingkai permusuhan
politik, dimana hal itu berawal dari ketidaktahuan Barat tentang hakekat Islam
dan sejarah Nabi. (Assamurai; 27)
[16]
Perang Salib terjadi karena terpicu oleh kekalahan yang dialami pasukan Romawi
yang berjumlah 200.000 tentara, terdiri dari pasukan Romawi, Ghuz, al-Akhraj,
al-Hajr, Perancis dan Armenia ketika berlangsung ekspansi tentara Islam dibawah
komando Alp Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit dalam peristiwa yang
dikenal dengan Manzikart, tahun 464 H./1071 M. (Dr. Badri Yatim MA., Sejarah
Peradaban Islam, Rajawali Pers; 76)
[17]
Orang-orang Kristen Spanyol juga diperangi karena mereka dianggap telah
terpengaruh oleh ajaran Islam, sehingga ajaran mereka sudah tidak murni seperti
ajaran Kristen Romawi. (Assamurai; 29)
[18] Jurnal
Ulumul Qur’an, Vol IV: 3.
[19] Ali Syariati, Tugas Cendekiawan Muslim,
Rajawali Pers; 208-212.
[20] Jurnal
Ulumul Qur’an; 3
[21]
Berawal dari gerakan averroeisme, maka bergulirlah reformasi di Eropa
pada abad ke-16M dan rasionalisme pada abad ke-17 M. Pengaruh itu juga dapat
dilihat dari aktifnya penerbitan danpenerjemahan karya-karya beliau. Buku
beliau pertama dicetak di Venesia pada tahun 1481 kemudian berturut-turut tahun
1482, 1483 1489 dan 1500 M. Bahkan edisi lengkapnya diterbitkan padatahun 1553
dan 1557 M. Selain diVenesia pada abad ke-16 karya-karya beliau juga ditebitkan
di Napoli, Bologna, Lyons dan Strasbourg
serta diawal abad ke-17 di Jenewa. (Dr. Badri Yatim; 108-109)
[22]
Karya Ibn Sina (Avicienna) dalam bidang kedokteran, disalin pertama kali oleh
Gerard of Cremona (w. 1187 M.), sedang karya-karya Al-farabi (Al-Farabes)
disalin sekitar tahun 1243-1256 M. oleh Hermanus Allemanus. (H.M. Joesoef
Sou’yb, Orientalisme dan Islam,
Bulan Bintang; 47-48)
[23] Dr.
Badri Yatim; 110.
[24]
Munglkin kita tidak terima jika dikatakan bahwa sebagian karya orientalis
menjadi pegangan kalangan umat Islam. Namun, kita juga tidak bisa menafikan
bagaimana karya mereka semacam kamus Munjid (dianggap sebagai kamus terlengkap
dan paling representatif, walaupun dibeberapa bagian dianggap mendeskreditkan
Islam dan bersifat distorsif) dipakai di dunia akademis bahkan di Pondok
pesantren. Selain itu juga banyak karya-karya ensiklopedis yang beredar dikalangan Islam- semacam, John L. Possito, Ensiklopedi
Islam. Ada
juga buku kumpulan hadits karya A.J. Wensick, al-Mu’jam al-Mufahras li
alfa^dzi al-Hadits al-nabawi, yang terdiri dari 8 juz, walaupun yang
merupakan karya murninya hanya juz pertama.
[25] Jurnal
Ulumul Qur’an; 3.
[26]
Untuk melihat lebih jelas statemen-stateman mereka tentang Islam, nabi Muhammad
dan sebagainya dapat dilihat dalam karya H. Ahmad Zuhdi DH., Pandangan
Orientalis Barat tentang Islam: Antara yang Menghujat dan yang Memuji, PT.
Karya Pembina Swajaya, 2004; 152-160.
[27]
Karya-karyanya di seputar tema tersebut adalah Muslim Christian Encounter:
Perceptioa and Misperception dan The Influence of Islam in The Medieval
Europe. (Dr. Alwi Syihab, Islam Inklusif, Mizan; 289)
[28] Ia
adalah seorang oriantelis berkebangsaan Perancis, ahli dalam bidang tasawuf ibn
‘Arabi. (Ibid; 59 dan 289-290)
[29]
Guru disini bukan berarti kita mengikuti segala apa yang mereka katakan, tetapi
kita menerima dengan sikap kritis. Sebab sebagaimana dikatakan olen Hidayat
Nata Atmaja dalam bukunya Krisis Manusia Modern, bahwa seorang murid
yang benar adalah mereka yang bisa membedakan mana pikiran gurunya yang benar
dan yang salah. (Hidayat; 129). Disamping itu kita juga harus meniru semangat
yang tertanam di kalangan mereka (orientalis) untuk mengkaji Islam dan
mendakwahkan hasil studi mereka (baik yang jujur maupun yang controversial).




