Perlukah Manusia terhadap Agama?
Oleh: Latief Qomaruddien Sy[1].

Mendefinisikan agama bukanlah suatu hal yang mudah[2], apalagi realita yang ada menunjukkan bahwa di dunia ini agama amat beragam. Pandangan seseorang terhadap agama, ditentukan oleh pemahamannya  terhadap ajaran agama yang ia anut[3]. Disatu sisi agama dipandang  -oleh penganutnya- sebagai sumber moral dan nilai, sementara di sisi lain agama dianggap menjadi pemicu terjadinya konflik di dunia[4]. Dalam hal ini, Afif Muhammad mengistilahkan agama sebagai sesuatu yang kadang kala menampakkan wajah ganda[5].
Persoalan yang kemudian muncul dan menjadi inti pembicaraan kita sesuai dengan realita di atas, apalagi ditambah dengan kompleksitas problematika yang disebabkan perkembangan dunia mutakhir adalah, “masih relevankah agama bersanding dengan manusia dalam kehidupan dunia masa kini?”
Agama (penj: menurut ajaran Islam) merupakan fitrah yang dimiliki oleh setiap manusia ( Q.S. Ar-Rum; 30). Ini berarti manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama, karena agama merupakan kebutuhan hidupnya, walaupun kadang hal itu dapt ditangguhkan. Sebab adanya perbedaan kebutuhan manusia terhadap sesuatu, kebutuhan manusia terhadap air lain dengan kebutuhannya terhadap udara, mungkin ia tahan beberapa hari tanpa air namun tidak demikian dengan udara. Hal ini sesuai dengan pandangan para sosiolog mengenai teori asal usul agama[6].
Kebutuhan manusia akan agama juga dinyataka Wiliam Jaes sebgaimana dikutip Quraisy Syihab, bahwa selama manusia masih memiliki naluri cemas dan mengharap (pen; sebagai mana konsep khouf dan roja’ dalam agama Islam), selama itu pula ia beragama –dalam artian berhubungan dengan Tuhan[7]
Namun, walaupun agama menjadi kebutuhan manusia yang tak dapat ditinggalkan, tidak berarti ia (agama) selalu mendapat tempat yang selayaknya pada setiap orang. Sebab –apalagi- dengan semakit pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, ekskalasi penyimpangan ataupun tantangan terhadap agama justru semakin signifikan. Amsal Bakhtiar memaparkan adanya beberapa paham/ aliran dalam pemikiran yang dapat menimbulkan keraguan terhadap agama –bahkan meningkat menjadi penolakan.[8]

 

Fungsi Agama Di Era Sains


Dalam hubungannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan, agama sesungguhnya sangat berperan, terutama jika manusia tetap ingin jadi manusia. Sebagai contoh, kemajuan yang dicapai ilmu pengetahuan dibidang bio-tekhnologi. Ilmu manusia sudah sampai batas yang menjadikannya dapat berhasil melakukan rekayasa genetika. Apakah keberhasilan ini akan dilanjutkan sehingga menghasilkan makhluk-makhluk hidup yang dapt menjadi tuan bagi penciptanya sendiri? Apakah ini baik atau buruk? Hanyalah agama yang dapat memberikan jawaban tidak juga seni ataupun filsafat.
Agama juga dapat mengontrol manusia dari pemberhalaan dan pemutlakan terhadap ilmu pengetahuan[9]. Murtadha Mutahari, sebagaimana yang dikutip oleh Quraisy Syihab menjelaskan fungsi agama hubungannya dengan ilmu bagi manusia;

* Ilmu mempercepat sampai ke tujuan, agama menemtukan arah tujuan

* Ilmu menyesuaikan manusia dengan lingkungannya, agama menyesuaikan dengan jati dirinya

*Ilmu tidak jarang mengeruhkan pikiran pemiliknya, agama selalu menenangkan jiwa      pemeluknya yang tulus[10].







Sisi Positif Gerakan Orientalisme
Bagi Dunia Islam*
Oleh: Latief Qomaruddien, Sy.[11]

Pendahuluan

Orientalis dalam kacamata mayoritas Muslim dipandang sebagai suatu gerakan yang membahayakan eksistensi keimanan umat Islam –terutama kaum bazaar (awam).[12] Dengan karya-karya yang terbungkus dengan kemasan yang menggiurkan dan berlabel ilmiah, mereka menebarkan kebohongan dan kepalsuan serta interpretasi menyesatkan terhadap Islam. Padahal, menurut Wilfred Cantwell Smith sebagaimana dikutip oleh Ihsan Ali-Fauzi, mengatakan bahwa sebuah studi atau penelitian mengenai sesuatu –yang ada pada pihak lain- baru dapat dikatakan valid dan diterima, jika kesimpulan yang dihasilkan dari studi tersebut telah disepakati (di”iya-kan”) oleh pihak yang dikaji.[13]
Pandangan dan kecurigaan umat Islam terhadap orientalis ini berkaitan erat dengan pengalaman buruk yang dialami kaum Muslim dalam lingkaran histories mereka ketika bersinggungan dengan kaum non-Muslim (disamping disebabkan oleh berbagai karya-karya kontroversial mereka). Namun, bagaimanapun juga tidak bisa dipungkiri, bahwa gerakan dan eksistensi orientalis dengan ribuan karyanya telah membuka lembaran keilmuan baru bagi dunia Islam. Kendatipun karya-karya mereka merupakan hasil kesinambungan histories dari karya-karya besar para ilmuwan, filosof serta para cendekiawan Muslim pada masa keemasannya. Mereka telah terlebih dahulu meletakkan pondasi dasar ilmu pengetahuan dan sains yang sampai saat ini masih terasa pengaruhnya. Hal itu mereka (para ilmuwan Muslim) hasilkan dari pembacaan kreatif mereka terhadap sumber ajaran Islam (al-Qur’an).[14]

Latar Belakang Sejarah Munculnya Orientalisme

            Dalam melacak akar kemunculan orientalisme, terjadi kesimpang-siuran dan perbedaan di antara para pakar. Menurut Dr. Husain Haikal, sebagaimana dikutip Dr. Qosim Assamurai, bahwa kelahiran orientalisme berawal dari adanya persinggungan antara orang-orang Islam dan orang-orang Romawi dalam perang Mut’ah dan perang Tabuk (terjadi sekitar abad ke-6 H.).[15]
            Pendapat lain mengatakan bahwa orientalisme muncul akibat berkecamuknya perang salib (1097-1295).[16] Peristiwa itu dianggap sebagai awal mula terjadi pergesekan politik dan agama antara Islam dan Kristen Barat di Palestina. Pemusuhan politik ini juga disebabkan oleh kekalahan beruntun yang diderita pasukan Kristen saat melawan pasukan Islam yang saat itu dibawah pempinan Nuruddin Zanki dan Sholahuddin al-Ayubi yang berlanjut hingga al-Adil (saudara dari Sholahuddin).
            Pendapat ketiga, menitik-beratkan kelahiran orientalisme pada peristiwa berdarah yang yang terjadi di Andalusia (Spanyol) dalam peperangan antara orang-orang Islam dan orang-orang Kristen, terutama setelah Alfonso VI menaklukkan Toledo (488 H/ 1085 M). Kemudian setelah itu terjadi gerakan tobat dan penghapusan dosa yang berpusat di biara Kluni dipimpin Santo Peter the Venerable dari Perancis. Peristiwa itu diikuti dengan munculnya gerakan perubahan Kristen Spanyol beserta semua kitab dan upacara ritualnya, serta ditetapkannya Kristen Katolik Romawi sebagai agama yang benar. Tak ayal peristiwa tersebut memicu tejadinya perang salib -implikasi dari pernyataan menyesatkan para pendeta saat itu. Adapun musuh yang harus diperangi adalah orang-orang Islam dan juga Kristen Spanyol.[17]
            Ketiga pendapat di atas sama-sama dilandasi argumentasi yang kuat dan berdasarkan fakta histories persinggungan antara Islam dan Kristen (Nasrani) pada waktu itu. Namun, kita dapat mengambil benang merah dari ketiganya, bahwa gerakan orientalisme muncul disebabkan adanya kecurigaan dan ketakutan kalangan Kristen terhadap Islam. Di samping adanya kekaguman dan kecemburuan pada diri mereka –umat Kristen- atas prestasi umat Islam yang sangat spektakuler. Adapun ketegangan yang terjadi ketika para orientalis berhadapan dengan Islam, tidak lain disebabkan gugatan Islam atas supremasi Barat sekaligus menawarkan jalan tengah yang lebih ramah dan manusiawi. Hal ini tidak mereka jumpai dalam agama-agama Timur lainnya (semacam Budhisme-Hinduisme), sehingga persinggungan mereka relatif aman.[18]

Pengaruh Peradaban Islam di Dunia Barat

            Siklus histories (perputaran roda sejarah) peradaban dunia merupakan sunnatullah yang tidak mungkin manusia menggugatnya. Namun, sebagai pelaku sejarah, manusia bertanggungjawab atas semoga itu. Jadi, kemajuan ataupun kemunduran sebuah peradaban sangat bergantung pada manusia itu sendiri sebagai pelaku sejarah dunia.
            Kesadaran akan ketertindasan dan keterbelakangan serta keinginan untuk menjadi dirinya sendiri akan berimplikasi terhadap world view suatu bangsa. Kesadaran tersebut pada tahap selanjutnya akan memunculkan fajar kebangkitan dari ketidakberdayaan serta ortodoksi.[19] Demikian juga kebangkitan yang terjadi dibelahan dunia bagian Barat (Eropa).
            Pengaruh peradaban Islam pada masa kejayaannya -jangan disamakan dengan kondisi dunia Islam sekarang- atas Barat tidak bisa dinafikan. Hal itu diakui oleh mereka sendiri, Gustave Le Bon dalam bukunya The World of Islamic Civilization sebagaimana dikutip Syafi’i Ma’arif, ia mengatakan bahwa peradaban Islam-lah yang telah membawa Eropa menjadi dunia yang beradab (abad ke-9 dan ke-10 M). Menurutnya, pada saat pusat peradaban Islam Spanyol sedang berada pada puncak keemasannya, pusat-pusat intelektual Barat hanyalah berupa benteng-benteng perkasa yang dihuni para bangsawan semi-barbarik yang dihinggapi rasa kebangggan atas kebodohan mereka.[20]  
            Pengaruh Islam di Barat ini terutama dapat dilihat dari berkembang pesatnya pemikiran rasional Ibn Rusyd  di kalangan intelektual mereka. Demikian luar biasanya apresiasi Barat terhadap pemikiran Ibn Rusyd, sampai-sampai muncul aliran yang menamakan diri averroeisme [21](Ibn-Rusyd-isme) yang menuntut kebebasan berfikir dan menggugat otoritas gereja yang mereka anggap sebagai biangkeladi keterpurukan bangsa Barat. Namun tidak lama kemudian otoritas gereja melarang gerakan tersebut, karena dianggap akan mengikis otoritas gereja yang telah mapan saat itu. Tetapi gerakan itu tetap masih survive walaupun intensitasnya sangatlah kecil dan terus mendapat tekanan yang sangat dahsyat.
            Selain karya-karya Ibn Rusyd karya-karya para ilmuwan dan folosof Islam lainnya-pun sangat digemari di Barat. Di antaranya karya-karya filsafat al-Farabi dan Ibn Sina.[22] Jadi, walaupun Islam mengalami kemunduran dan kekalahan serta terusir dari benua Eropa (Spanyol khususnya), namun ia telah menanamkan kesadaran pada Barat yang termanifestasikan dengan muncul beragam gerakan kebangkitan di Eropa. Di antara gerakan-gerakan tersebut adalah; pertama, kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik (renaissance) pada abad ke-14 M yang bermula di Italia; kedua, gerakan reformasi pada abad ke 16 M rasionalisme pada abad ke-17 M dan yang ketiga, pencerahan (aufklaerung) pada abad ke-18 M.[23]

Kontribusi Orientalis Bagi Dunia Islam

Studi Barat terhadap dunia Timur –terlepas dari segala kontroversinya- telah menambah perbendaharaan kepustakaan intelektual yang tidak sedikit jumlahnya. Bahkan tidak sedikit dari karya para orientalis mendapat tempat yang cukup baik di kalangan umat Islam, dan tidak jarang karya ilmiah mereka dijadikan sebagai bahan rujukan.[24]  
Selain karya-karya tersebut masih banyak karya lain yang telah menguak sisi-sisi yang belum terjamah para ilmuwan Muslim terdahulu yang justru menunjukkan kebenaran Islam dan keunggulan Islam atas lainnya. Begitu besarnya perhatian Barat terhadap Timur, khususnya Timur Islam, hingga Edward W. Said, seorang cendekiawan Arab Kristen dan pengarang buku Orientalism, sebagaimana dikutip Syafi’I Ma’arif, mengatakan bahwa antara tahun 1800 hingga 1950 saja tidak kurang dari 60.000 buku telah ditulis pihak Barat mengenai Timur Dekat (The Near Orient).[25]       
             Tanpa mengesampingkan kehawatiran para intelektual Muslim akan bahaya agenda orientalisme yang terselubung, perlu dicatat bahwa pada dasawarsa terakhir abad ini telah muncul beberapa nama besar dari kalangan orientalis yang menunjukkan kecenderungan positif terhadap peradaban Islam[26]. Salah satu diantara mereka adalah Montgomery Watt, yang berusaha menggugat mispresepsi, prasangka, serta citra keliru Barat Kristen terhadap Islam[27]. Selain itu, Louis Massignon, termasuk dalam kategori orientalis yang menaruh simpati terhadap Islam. Ia secara aktif ikut berperan memberikan masukan positif tentang Islam kepada dunia Katolik, yang akhirnya membuahkan Konsili Vatikan II.[28] 
            Pada tahap selanjutnya banyak juga para orientalis –terutama yang dalam mengkaji islam Berdasarkan motifasi ilmiah- yang kemudian masuk Islam dan menjadi pioneer menghadapi para penentangnya. Keberadaan mereka sangat berarti di tengah-tengah gelombang kebencian terhadap agama ini, sebab dengan semangat mereka setelah menemukan kebenaran, mereka akan melawan segala bentuk distorsi dan diskrimrnasi yang dilakukan para penentang agama ini.

Kesimpulan

            Menurut penulis, walaupun keberadaan para orientalis menyembunyikan kehawatiran di kalangan intelektual Muslim dengan agenda terselubung mereka, namun hal itu akan sangat bermanfaat, jika semua itu dihadapi dengan sikap arif dan bijaksana. Karena mereka bisa dijadikan sebagai “guru”[29] yang dapat meningkatkan spirit kita dalam berjuang menggali harta karun yang terpendam dalam Islam. Tetapi, di samping itu kita harus tetap waspada terhadap bahaya laten yang ditebarkan oleh para orientalis.
            Akhirnya, penulis berharap agar para intelektual Muslim bangga dengan predikat yang disandangnya, dalam artian tidak terbawa arus menyesatkan yang dibawa oleh musuh-musuhnya. Tetapi mempertahankan kebenaran Islam dengan mendalami khasanah ilmu-ilmu Islam yang telah dirintis para pendahulu kita, sehingga kebangkitan Islam akan menjadi suatu keniscayaan.

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahiim


Puji syukur kehadirat Allah, karena hanya dengan rahmat, taufiq dan hidayah-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Sholawat dan salam tak lupa kami haturkan kepada junjungan kita nabi Muhammad Saw. yang merupakan revolusi-oner dunia. Pemberi syafa’at kepada umat-nya kelak di yaumul akhir.
Adapun penulisan makalah ini merupa-kan tugas kuliah terstruktur yang telah diberi-kan oleh dosen Logika. Tentunya dalam pe-nulisan makalah ini penulis tidak luput dari kesalahan-kesalahan baik dari segi  bahasa maupun metodologi yang penulis gunakan. Maka dari itu kami sangat mengharap kritik konstruktif dan saran serta masukan dari manapun dan siapapun


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………...                                                   1
DAFTAR ISI ………………………………….                                                    2
BAB I     PENDAHULUAN …......................                                                      3
BAB II    KEKELIRUAN/ KESALAHAN BERFIKIR .................................... 4
A. Macam-macam Kekeliruan Berfikir ...                                                           4
B. Sebab-sebab Kekeliruan Berfikir .....                                                           14
C. Cara Untuk Membantah Kekeliruan Berfikir ............................................. 15
BAB III   KESIMULAN ..............................                                                      17
BAB IV   PENUTUP .................................                                                         18



BAB I
PENDAHULUAN

وأن هذا صراطى مستقيمافتبعوه 0ولاتتبعواالسبل فتفرق بكم عن سبيله
ذلكم وصكم به لعلكم تتقون

        “Inilah jalan-Ku yang benar, maka ikutilah dia, dan janganlah mengikuti jalan-jalan yang lain.. Karena jalan jalan-jalan yang lain akan mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya, yang demikian itu diberikan kepadamu agar kalian bertaqwa” (Al-An’am: 135)

“Jalan” dalam ayat tersebut berarti metode, sistem, pedoman, pola laku, pola tindak dan pola tindak serta pola pikir yang menghantarkan manusia untuk selalu berpegang teguh kepada logika Qur’an agar tidak sesat pikir dalam mencapai kebenaran.
Berpikir adalah tingkah laku yang menggunakan pengertian (idea), yakni proses mengenal simbol-simbol tertentu. Kalau kita makan bukan berfikir namanya, tetapi kalau kita membayangkan makanan yang tidak ada maka kita menggunakan simbol-simbol tertentu dan tingkah laku itulah yang disebut “berfikir”.
Jadi berfikir juga suatu proses belajar mengenal sesuatu untuk memperoleh pengetahuan (pengetahuan yang benar).

BAB II
KEKELIRUAN ATAU KESALAHAN BERFIKIR

        Melalui metode deduksi maupun induksi, kini dapat kita kumpulkan berfikir menjadi :

Macam-Macam Kekeliruan Berfikir


Kekeliruan Formal
a. Fallacy of four term (kekeliruan kerena menggunakan 4 term)
   Kekeliruan berfikir karena menggunakan 4 term dalam sosiologisme, terjadi karena term penengah diartikan ganda, sedangkan dalam patokan diharuskan hanya terdiri dari tiga (3) term, seperti:
>. Semua perbuatan mengganggu orang lain diancam dengan hukuman.
Menjual barang di bawah harga tetang-ganya adalah mengganggu kepenting-an orang lain. Jadi, menjual dengan harga di bawah tetangganya diancam hukuman
>. Orang yang berpenyakit menular harus disingkirkan
Orang yang berpenyakit panu adalah menular. Jadi dia harus disingkirkan
b. Fallacy of undistributed middle (keke-liruan karena kedua term penengah tidak mencakup)
        Kekeliruan berfikir karena tidak satupun dari kedua term penengah mencakup-, seperti:
>. Orang yang terlalu banyak belajar, kurus. Dia kurus sekali, karena itu ia banyak belajar
>. Semua anggota PBB adalah negara merdeka. Negara A tentu menjadi ang-gota PBB karena negara itu merdeka
c. Fallacy of illicit process (kekeliruan karena proses tidak benar)
        Kekeliruan berfikir karena term premis tidak mencakup (undistributed) tetapi dalam konklusi  mencakup, seperti:
>.  Kura-kura ialah binatang melata. Ular bukan kura-kura, karena itu ia bukan binatang melata
>. Kuda adalah binatang. Sapi bukan ku-da, karena itu sapi bukan binatang.
d. Fallacy of two negative premis (keke-liruan karena menyimpulkan dari 2 premis yang negatif)
        Kekeliruan karena mengambil kesim-pulan dari dua premis negatif. Dan apabila terjadi demikian sebenarnya tidak bisa ditarik konklusi, seperti:
>. Tidak satupun drama yang baik mudah dipertontonkan dan tidak satupun dra-ma shakespeare mudah dipertonton-kan , maka semua drama shakespeare adalah baik.
>.  Tidak satupun barang yang baik itu mu-rah dan semua barang di toko itu ada-lah tidak  murah, jadi kesemua barang di toko itu adalah baik.
e.  Fallacy of affirming the consequent (ke-keliruan karena mengakui akibat)
        Kekeliruan berfikir dalam silogisme hipotetika karena membenarkan akibat kemudian membenarkan pula sebabnya, seperti:
>. Bila kita bisa berkendaraan secepat cahaya, maka kita bisa mendarat di bulan. Kita telah dapat mendarat di bulan berarti kita telah dapat berkendaraan secepat cahaya.
>. Bila pecah perang, harga barang-barang naik. Sekarang harga barang naik, jadi perang telah pecah.
f.   Fallacy of denying antecedent (kekeliru-an karena menolak sebab)
          Kekeliruan berfikir dalam silogisme hipotika karena mengingkari sebab kemudi-an disimpulkan bahwa akibat juga tidak terlaksana, seperti:
>. Bila permintaan bertambah, harga naik. Karena sekarang permintaan tidak ber-tambah, jadi harga tidak naik.
>. Bila datang elang maka ayam berlarian, sekarang elang tidak datang, jadi ayam tidak berlarian.
g. Fallacy of desjunction (kekeliruan dalam bentuk disjungtif)
        Kekeliruan berfikir terjadi dalam silogis-me disjungtif karena mengingkari alternatif pertama, kemudian membenarkan alternatif lain. Sedangkan menururt patokan, penging-karan alternatif pertama, bisa juga tidak terlaksananya alternatif yang lain, seperti:
>. Dia lari ke Jakarta atau ke Bandung, ternyata tidak di Bandung, Berarti dia ada di Jakarta.
>.  Dia menulis cerita atau pergi ke Sura-baya, dia titak pergi ke Surabaya, jadi tentunya ia menulis cerita.
h. Fallacy of inconsistency (kekeliruan karena tidak konsisten)
        Kekelurian berfikir karena tidakruntut-nya pernyataan yang satu dengan pernya-taan yang diakui sebelumnya, seperti:
>. Anggaran  Dasar Organisasi kita su-dah sempurna, kita perlu meleng-kapi beberapa pasal agar komplit.
>. Tuhan adalah Maha Kuasa, karena itu Ia bisa menciptakan tuhan yang lain yang lebih kuasa dari Dia.

2. Kekeliruan Informasi
a.       Fallacy of hasty generalization (keke-liruan karena membuat generalisasi yang terburu-buru)
        Kekeliruan berfikir karena tergesa-gesa membuat generalisasi, yaitu mengambil kesimpulan dari kasus individual yang terlampau sedikit, sehingga yang ditarik melampi batas lingkungannya, seperti:
>. Dia orang Islam, mengapa membunuh, kalau begitu orang Islam memang jahat.
>. Panen di kabupaten ini gagal, kalau begitu tahun ini indonesia harus mengekspor beras.
b.      Fallacy of forced (kekeliruan karena memaksakan praduga)
        Kekeliruan berfikir karena menetapkan sesuatu dugaan, seperti:
>. Seorang pegawai datang ke kantor dengan luka di pipinya. Seorang mengatakan bahwa istrinyalah yang melukainya dalam suatu percekcokan karena diketahui selama ini orang itu kurang harmonis hubungannya dengan istrinya, padahal sebenarnya karena goresan besi pagar.
c.  Fallacy of begging the question (keke-liruan karena mengundang perma-salahan)
         Kekeliruan berfikir karena mengambil konklusi dari premis yang sebenarnya harus dibuktikandahulu kebenarannya, seperti:
>. Allah itu mesti ada karena ada bumi. (di sini orang akan membuktikan bahwa Allah itu ada dengan dasar adanya bumi, tetapi tidak dibuktikan bahwa bumi adalah ciptaan Allah)

d.  Fallacy of circular argument (kekeliru-an karena menggunakan argumen yang  berputar)
        Kekeliruan berfikir karena menarik konklusi dari satu premis kemudian konklusi tersebut dijadikan sebagai premis, sedang-kan premis semula dijadikan konklusi pada argumen berikutnya, seperti:
>. Ekonomi negara X tidak baik karena banyak pegawai yang korupsi.
Mengapa banyak pegawai yang korupsi? Jawabanya, karena akonomi negara kurang baik.
e.  Fallacy of argumentative leap (kekeliru-an karena berganai dasar)
        Kekeliruan berfikir karena mengambil kesimpulan yang tidak diturunkan dari premisnya, jadi mengambil kesimpulan melompat dari dasarnya, seperti:
>. Ia kelak menjadi mahaguru yang cer-das, sebab orang tuanya kaya.
>. Pantas ia cantik karena p[endidikannya tinggi.
f.  Fallacy of apealing to authority (keke-liruan karena mendasarkan pada otoritas)
        Kekeliruan berfikir karena mendasarkan diri pada kewibawaan/ kehormatan sese-orang tetapi dipergunakan untuk perma-salahan diluar otoritas ahli tersebut,seperti:
>. Bangunan itu sungguh kokoh, sebab dokter haris mengatakan demikian. (Dokter Haris adalah ahli kesehatan bukan insinyur bangunan)
g.  Fallacy of appealing to force (kekeliruan karena mendasarkan diri pada kekuasaan)
        Kekeliruan berfikir karena berargumen dengan kekuasaan yang dimiliki, seperti menolak argumen seseorang dengan menyatakan:
>. Kau masih juga membantah kepadaku. Kau baru satu tahun duduk di bangku perguruan tinggi, aku sudah lima tahun.
h. Fallacy of abusing (kekeliruan karena menyerang pribadi)
        Kekelirian berfikir karena menolak argumen yang dikemukakan seseorang dengan menyerang pribadinya,seperti:
>. Dia adalah orang yang brutal, jangan dengarkan pendapatnya.
i.  Fallacy of ignorance (kekeliruan karena kurang tahu)
        Kekeliruan berfikir karena menganggap bila lawan bicara tidak bisa membuktikan kesalahan argumentasinya, dengan sendiri-nya argumentasi yang dikemukakan benar.
>. Kalau kau tidak bisa membuktikan bahwa hantu itu ada maka teranglah bahwa pendapatku benar, bahwa hantu itu tidak ada.
j.  Fallacy of complek question (kekeliruan karena pernyataan yang ruwet)
        Kekeliruan berfikir karena mengajukan pernyataan yang bersifat menjebak, seperti:
>. Jam berapa kau pulang semalam? (yang ditanya sebenarnya tidak pergi. Penanya hendak memaksakan pengakuan bahwa yang ditanya semalam pergi)
k.  Fallacy of oversimplikation (kekeliruan karena alasan terlalu sederhana)
      Kekeliruan berfikir karena menatapkan sifat bukan keharusan yang ada pada suatu benda bahwa sifat irtu tetap ada selamanya, seperti:
>. Kendaraan buatan Honda adalah ter-baik, karena paling banyak diminati
l.   Fallacy of accident (kekeliruan karena menetapkan sifat)
        Kekeliruan berfikir karena menetapkan sifat bukan seharusnya yang ada pada seatu benda bahwa sifat itu tetap ada selamanya, seperti:
>. Daging yang kita makan hari ini adlah dibeli kemarin, daging yang diberli kemarin adalah daging mentah, jadi hari ini kita makan daging mentah.
m.  Fallacy of irrelevant argument (keke-liruan karena argumen yang tidak relevan)
        Kekeliruan berfikir karena mengajukan argumen  yang tidak ada hubungannya dengan yang menjadi pokok pembicaraan, seperti:
>. Pisau silet itu berbahaya dari pada peluru, karena tangan kita seringkali teriris oleh pisau silet dan tidak pernah oleh peluru.
n.  Fallacy of false anologio (kekeliruan karena salah mengambil analogi)
        Kekeliruan berfikir karena menganalogi-kan dua permasalahan yang kelihatannya mirip, tetapi sebenarnya berbeda secara mendasar, seperti:
>. Seniman patung memerlukan bahan untuk mnciptakan karya-karya seni, maka Tuhan pun memerlukan bahan dalam menciptakan alam semesta.
o.  Fallacy of appealing to pity (kekeliruan karena mengundang belas kasihan)
        Kekeliruan berfikir karena menggunakan auraian yang sengaja menarik belaskasihan untuk mendapatkan konklusi yang diharap-kan ((letak kekeliruan karena masalahnya berhubungan dengan fakta bukan dengan perasaan)
>. Saya sampaikan pada anda (para juri) bukan untuk kepentingan Thonas Kidd tetapi menyangkut permasalahan yang panjang, ke belakang masa yang sudah lampau/ke depan ke masa yang akan datang. Yang menyangkut seluruh manusia di bumi.saya katakan kepada anda bukan untuk Kidd, tetapi untuk mereka yang bangun pagi sebelum dunia menjadi terang dan pulang pada malam hari setelah langit diterangi bintang-bintang, mengorban-kan kehidupan dan kesenangannya, bekerja berat demui terselenggaranya kemakmuran dan kebesaran. Saya sampaikan pada anda demi anak-anak yang sekarang hidup/ yang akan lahir.

3. Kekeliruan Karena Penggunaan Bahasa
a. Fallacy of composition (kakaliruan karena komposisi)
        Kekeliruan berfikir karena menetapkan sifat yang ada pada bagian untuk menyifati keseluruhannya, seperti:
>. Setiap kapal perang telah siap tempur, maka keseluruhan angkatan laut negara itu telah siap tempu.
>. Mur ini sangat ringan , karena itu mesinya tentu ringan juga.
b. Fallacy of devision (kekeliruan dalam pembagian)
        Kekeliruan berfikir karena meneapkan sifat yang ada pada keseluruhannya, maka demikian juga setiap bagiannya, seperti:
>. Kompleks ini dibangun di atas tanah yang luas, tentulah kamar-kamar tidurnya juga luas.

c. Fallacy of accent (kekeliruan karena tekanan)
Kekeliruan berfikir karena kekeliruan memberikan tekanan dalam pengucapan, seperti:
>. Ibu, ayah pergi (yang hendak dimaksud adalah ibu dan ayah  pembicara sedang pergi. Seharusnya tidak ada penekanan pada ibu, sebab maknanya menjadi pemberitahuan kepada ibu bahwa ayah baru saja pergi.
d. Fallacy of amphiboly (kekeliruan karena ampiboli)
        Kekeliruan berfikir karena menggunakan sususnan kalimat yang dapat ditafsirkan berbeda-beda, seperti;
>. Seorang pemuda datamg kepada seorang peramal pakah judi yang pertama kali ia ikuti nanti malam akan menang atau kalah, ia mendapat jawaban: anda akan mendapat peng-alaman yang bagus. Atas jawaban ini ia sangat puas dan menyimpulkan ia akan menang dalm perjudian. Tenyata ia kalah, waktu ia kembali ke tempat peramal dan menanyakan mengapa ramalannya meleset, tukang ramal itu m,enjawab: saya benar, sebab dengan kekalahan itu anda mendapat peng-alaman yang bagus, bahwa judi itu membawa penderitaan.
e. Fallacy of equivolation (kekeliruan karena menggunakan kata depan dalam arti)
>.  Gajah adalah binatang, jadi gajah adalah yang kecil (kecil dalam “gajah kecil” berbeda pengertianya dengan kecil dalam  “ binatang kecil”)
>.  Menunggu satu seperempat (1 ¼) jam adalah lama, maka menggarap saat ¼ jam adalah lama.

Sebab-sebab Kesalahan Berfikir

Karena fallacy
Karena tidak menguasai tekhnik berfikir
Karena kurang bersungguh-sungguh menggunakan pikirannya dan kurang cermat mengadakan penelitian atau kurang serius untuk mengetahui kesalahan dirinya.
Karena kurang menguasai pengetahuan yang berhubungan dengan fakta-fakta, akibat kepicikan sikap dan keangkuhan sifat.
Karena kurang menguasai bahasa ilmu serta penggunaannyadalam pergaulan maupun penulisan.
Karena unsur kesengajaan untuk menyesatkan orang lain.

Ada beberapa cara dalam ilmu logika yang dapat digunakan untuk mem-bantah kesalahan/kekeliruan berfikir.

Pembuktian ex absurdis
        Yaitu pembuktian kesalahan dengan menunjukkan adanya hal-hsl yang berlawan-an akal sehat.
Contoh: “manusia bebas dari ikatan-ikatan moral” pembuktiannya “jika seandai-nya manusia bebas dari ikatan-ikatan moral, sudah barang tentu ada sesuatu yang dianggap kejahat-an (dosa) dan tidak pula sesuatu yang dianggap kebaikan (pahala). Padahal keduanya nyata ada.
Pembuktian ad hominem (retorsi)
        Yaitu pembuktian kesalahan dengan menggunakan bentuk pembuktian yang digunakan lawan atau menggunakan se-suatu yang diyakini kebenarannya oleh lawan (retorsi), karena alasan lawan diputar kembali “senjata makan tuan”.
Contoh: Orang Kristiani berkeyakinan bahwa nabi Adam mewariskan dosa kepada anak keturunannya. Pembuktiannya “anda yakin Allah Maha Bijaksana, kalau pernyataan itui benar, apakah Alolah akan dianggap bijaksana mendosakan orang yang tidak berbuat dosa.
pembuktian instantia
        Yaitu penbuktian dengan cara mengajukan sebagian hal yang dapat mendesak kesimpulan lawan.
Contoh: “semua orang yang rajin pasti ber-untung” Pembuktiannya “ternyata adikku rajin tapi ia selalu rugi”. Pernyataan “adikku rajin tapi tidak naik kelas”. Adalah bagian dari pernyataan universal  “semua orang rajin pasti neruntung” yang dapat mendesak kebenaran pernyataan universal tersebut.
Pembuktian inversio
        Yaitu pembuktian dengan menggunakan term tengah yang dipakai oleh lawan sebagai alasan pembuktian.
Contoh:  Orang yang berpaham liberalisme berkata: “ kalau hewan saja bebas dari ikatan-ikatan moral, apalagi manusia yang kedudukannya lebih tinggi dari hewan.
Jika disususn secara silogisme
Hewan bebas dari ikatan moral
Manusia lebih mulia dari hewan. Jadi manusia lebih bebas dari ikatan moral
Pembultiannya : kalau manusia lebih mulia dari pada hewan, me-ngapa manusia mesti meniru hewan yang bebas dari ikatan moral.

BAB III
KESIMPULAN

Logika timbul karena usaha manusia untuk menyelamatkan dirinya dari kesalahan berfikir, serta menghindarkan orang  lain berfikir salah.
Kesalahan berfikir harus kita hindari, setidak-tidaknya kita harus tahu bahwa itu memanga salah. Membiarkan kesalahan berfikir adalah sama dengan menjerumuskan diri kita dan orang lain ke dalam kesulitan. Sebab hakikat berfikir adalah supaya kita bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Orang  dikatakan pikiran-nya sehat apabila ia dapat membedakan dua hal yang memang berbeda itu. Dan dikatakan berfikir logis apabila bisa menya-lahkan kesalahan pikirannya dan menyalah-kan sesuatu yang memang tidak benar, serta membenarkan apa-apa yang memang sudah jelas benar. Tetapi pikirannya menjadi kacau jika yang terjadi sebaliknya. Yakni menyalah-kan sesuatu yang benar dan membenarkan sesuatu yang salah dimana keduanya memang benar.


BAB IV

PENUTUP

Akhirnya kepada Allah-lah kami serah-kan segalanya. Semoga apa yang telah kami lakukan atau apa yang telah kami tulis ini, bermanfaat bagi siapapun, khususnya bagi kami pribadi.






     


DESAIN EVOLUSI:
Konsep Pendekatan Integratif Agama Dan Sains
dalam isu Evolusi dan Penciptaan
Oleh: Latif Qomaruddien Sy.

Prolog

Pandangan integrasi merupakan konsekuensi logis dan sekaligus tuntutan ilmiyah dari pandangan Dialog. Dikatakan sebagai konsekuensi logis karena adanya bukti peran subyek dalam mengkonstruksi pemahaman terhadap realitas dan adanya kesejajaran metodologis dalam sains dan agama, maka tentunya kesadaran ini bersumber pada pandangan yang integratif antara subyek dan obyek. Pandangan ini juga disebut sebagai tuntutan alamiyah dari pandangan Dialog karena telah disadari bahwa sains dan agama merupakan dua wilayah yang kita alami sebagai suatu keutuhan dalam memahami realitas, sehingga kesadaran ini memberikan tuntutan pada penjelasan yang lebih sistematis mengenai interaksi yang konsruktif dan integratif antara agama dan sains. 
Pandangan integrasi sebagaimana telah dijelaskan (di Bab I), mempunyai tiga versi yang berbeda untuk menjelaskan sisi integrasi antara agama dan sains. Begitu juga dalam hubungannya dengan kasus evolusi dan penciptaan, natural theology mengambil bentuk klaim desain evolusi, theology of nature diwakili oleh konsep-konsep penciptaan malar oleh Tuhan melalui evolusi, sedangkan sintesis sistematis atas filsafat proses dipaparkan dari gagasan-gagasan evolusi.

Desain Evolusi
            Pertanyaan yang sering muncul dalam hubungannya dengan konsep evolusi adalah, apakah evolusi merupakan suatu proses yang diarahkan atau merupakan suatu kebetulan? Jika ditilik secara lokal dan dalam periode pendek tampaknya ia ditandai dengan beberapa arah perubahan, bukan hanya satu arah saja. Jadi pola evolusi tidaklah separti pohon yang tumbuh secara seragam, melainkan semacam semak-semak yang berserakan yang cabang-cabangnya tumbuh kebeberapa arah dan sebagian lainnya mati.
            Sebelum kita melangkah lebih jauh, terlebih dahulu kita harus mengetahui terminologi desain dalam kaitannya dengan evolusi. Desain, secara tradisional disamakan dengan cetak biru detail pra-keberadaan yang ada di dalam benak Tuhan. Kebanyakan para teolog terpengaruh oleh pandangan Platonik tentang tatanan ide yang abadi di balik dunia material. Tuhan dikatakan mempunyai ketentuan azali yang berlaku di dalam penciptaan, sehingga desain menjadi anti tesis dari kebetulan. (Barbour, 2002: 220)
            Namun, evolusi memandang desain ini lebih sebagai postulat umumakan kebertujuan arah evolusi, tetapi bukanlah rencana yang terperinci. Sebab makna evolusi sendiri menyiratkan desain strategi jangka panjang, tetapi tidak ada keadaan final yang dapat diperkirakan. Mungkin istilah lain yang mencerminkan gagasan desain evolusi ini adalah evolusi kreatif. (Husein Haryanto, 2003: 8)
            Dalam hal ini Barbour menganggap desain evolusi (evolutionary design) sebagai pilihan yang efektif untuk menjelaskan dan menyelesaikan banyak masalah dalam hubungan sains dan agama yang berkaitan dengan isu evolusi dan penciptaan, disamping gagasan penciptaan malar (continuing creation). Ia memilih desain evolusi ini karena dianggap sebagai jalan yang dapat dipertanggung jawabkan secara nalar.
            Pandangan bahwa selaksi alam yang membawa kesuatu kelangsungan hidup yang paling relevan, dalam populasi individu yang berkarakter macam-macam dan kompetisi di antara mereka, telah menghasilkan sederet transformasi geologis secara berangsur, dimulai dari organisme yang primitif dan simple sampai sampai kebentuk kehidupan yang sangat tinggi, tanpa adanya intervensi sarana atau daya kekuatan yang mengatur. (W. R. Thompson, 2002)
            Prof. Ahmad Barquni, dalam bukunya Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman, mengatakan, bahwa adanya air dan uap air, gas amoniak, mentana serta dioksida karbon di bumi kita, serta adanya perputaran bumi pada sumbunya, memungkinkan munculnya makhluk hidup, sedangkan kemiringan sumbu putar bumi pada bidang orbitnya merupakan kondisi yang mendorong adanya keragaman hayati. Karena dengan adanya kemiringan itu, memungkinkan timbulnya empat musim di daerah beriklim dingin, sehingga ada musim panas dan dingin padanya. (Barquni, 1996: 115). Sedangkan Perubahan iklim merupakan salah satu sebab yang mempengaruhi timbulnya  variasi makhluk hidup.
            Namun, setelah menyebutkan bahwa sejarah evolusi menunjukkan kecenderungan umum ke arah kekompleksan, keresponsifan dan kawaspadaan yang besar serta peningkatan kapasitas organisme untuk  mengumpulkan, menyimpan dan mengolah informasi, maka apakah kita masih akan menganggap halini sebagai suatu kebetulan? Dalam hal ini Barbour mengajukan sebuah pertanyaan, siapakah yang meragukan bahwa manusia menunjukkan keunggulan yang menakjubkan dibandingkan dengan amuba atau cacing? Bagaimana mungkin hal ini hanya merupakan produk kebetulan? (Barbour, 2002)
            Kebetulan dalan pandangan DJ. Bartholomew dapat digunakan manusia untuk mencapai tujuan mereka sendiri. Sebagaimana dalam kasus melempar koin dan sampling acak ataupun dalam mengocok kartu, disana akan timbul kebetulan, kecakapan dan juga variasi. Menurutnya, dalam evolusi variasi merupakan sumber keluwesan dan keadaptifan. Populasi yang beragam dapat merespons keadaan yang berubah-ubah secara lebih baik daripada populasi yang seragam, dan variasi genetik sangatlah penting dalam perubahan evolusioner (Barbour, 2002). Jadi, kebetulan dan hukum merupakan ciri alam yang saling melengkapi, bukanya saling meniadakan. Dengan pandangan demikian, kebetulan jusru menjadi bagian dari desain, alih-alih sebagai anti tesis dari desain.
            Karena itu, kita dapat mempresepsikan Tuhan sebagai Perancang Sistem Pengaturan Diri itu sendiri. Alam merupakan proses menciptakan bertingkat banyak yang meliputi hukum, kebetulan dan kemunculan. Kita dapat melihat desain melekat di dalam kendala-kandala yang membatasi kemungkinan-kemungkinan bagi struktur molekuler yang stabil dan pola-pola pengembangan yang mungkin dalam sejarah evolusi. Sebuah dunia yang tingkat bertingkat tampaknya secara inheren cenderung mengarah kekemunculan kompleksitas, kehidupan dan kesadaran. Tuhan tampaknya telah memberi materi kemungkinan-kemungkinan, dan membiarkan mereka membentuk pola-pola kompleks dari diri mereka sendiri. Dalam tafsiran ini, Tuhan menghormati integritas dunia dan membiarkannya menjadi dirinya sendiri. (Barbour, 2002)

Kesimpulan
            Kekompleksan, keresponsifan dan peningkatan kapasitas organisme dalam isu evolusi merupakan fakta yang menjadi dalil bahwa evolusi tidak bukan merupakan kebetulan an-sich, melainkan sebuah peristiwa yang terarahkan. Namun dalam hal ini tidaklah secara mutlak, artinya bukanlah rencana terperinci. Melainkan masih menyisakan lahan bagi timbulnya kebetulan-kebetulan di dalamnya.
           
                 
Daftar pustaka
Barbour, G., Ian, Juru Bicara Tuhan; Antara Sains dan Agama, Bandung: Mizan, 2002.
Hariyanto, Husein, Pemetaan Hubungan Sains dan Agama dalam Perspektif Kemanusian, Makalah pada worksop  “Agama dan Sains”, Malang, Agustus 2003.
Thompson, W., R., Pengantar The Origin Of Species, Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2002.
Barquni, Ahmad, Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman, Jakarta: Damai Bhakti Prima Yasa, 1996.           




[1] Makalah ini sebagai tugas kuliah filsafat yang diadakan PUSDILAM dan di presentasikan pada tanggal 16 Juli 2004 M.
[2] R.R. Marret seorang antropolog Inggris seperti dikutip Abuddin Nata mengatakan, bahwa kesulitan itu dikarenakan agama menyangkut lebih dari hanya pikiran, tapi juga perasaan dan kemauan manifestasinya dalam aspek emosional. (baca; Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam; 119)
[3] E.B. Taylor mendefinisikan agama sebagai “belief in spiritual beings…” (dr. juhana S. Praja, Filsafat dan Metodologi Ilmu dalam Islam; 24). Mahmud Syaltut mengatakan, bahwa agama adalah ketetapan-ketetapan Ilahi yang diwahyukan kepada nabi-Nya untuk menjadi pedoman bagi manusia (Quraisy Syihab, Membumikan Al-Qur’an; 209).
[4] Apa yang terjadi terhadap para ilmuan eropa pada masa kekuasaan gereja semacam Galileo, Copernikus merupakan bukti mengenai hal ini, demikian juga dengan terjadinya perang salib ataupun peristiwa peristiwa lain yang mengatasnamakan agama sebagai legitimasi kebenaran.
[5] Lebih lanjut, Johan Efendi menyatakan bahwa agama pada suatu waktu memplokamirkan perdamaian, jalan menuju keselamatan, persatuan dan persaudaraan, namun pada waktu yang lain menampakkan dirinya sebagai sesuatu yang garang dan menyebarkan konflik, bahkan tak jarang menimbulkan peperangan. (Dadang Kahmad, Sosiologi Agama; 147)
[6] Ada enam teori tentang asal usul agama yang dikemukakan para sosiolog, diantaranya teori jiwa, teori batas akal, teori krisis dalam hidup individu, teori kekuatan luar biasa, teori sentimen kemasyarakatan dan teori wahyu tuhan. ( baca; Ibid, hal 24-30)
[7] Quraisy Syihab, Wawasan Al-Qur’an; 376.
[8] Empat paham yang dimaksud, di antaranya; Empirisme; Positivisme; Marxisme; dan, Freudianisme. (baca; Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama; 105-128)
[9] jalaluddin Rahmat mengutip pernyataan yang di sampaikan Paus John Paul II, ( baca; Jalaluddin rahmat, Psikologi Agama)
[10] Quraisy Syihab, Wawasan Alqur’an; 376.
* Makalah ini disusun sebagai syarat mengikuti Ujian Akhir Semester mata pelajaran Orientalisme Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan, dengan dosen pembimbing KH. Maktum Jauhari, MA.
[11] Mahasiswa semester VII IDIA fakultas Ushuluddin /Akidah Filasafat.
[12] Mereka (orientalis) berbahaya karena mempunyai tujuan ingin menghancurkan warisan pusaka dan agama umat Islam. Dimana hal itu diwariskan secara turun-temurun melalui karya-karya mereka yang cenderung mendistorsi relitas yang sesungguhnya, sehingga mengaburkan kebenaran yang ada pada agama ini (Islam). (Dr. Qosim Assamurai, Bukti-buktiKebohongan Orientalis, Rajawali Pers; 24)
[13] Wilfred Cantwel Smith adalah seorang ahli sejarah agama-agama dengan spesialisasi sejarah agama Islam berkebagsaan Kanada. (Ihsan Ali-Fauzi, Orientalisme dimata Oriantalis, Jurnal Ulumul Qur’an Vol: IV, Hal: 4)
[14] Yang dimaksud disini bukan lantas digeneralisir bahwa semuanya telah tersurat dalam Al-Qur’an, namun lebih karena semangat yang ditimbulkan dari penghayatan mereka terhadap al-Qur’an itu sendiri. Ia (al-Qur’an) menempatkan para pencari ilmu diatas para ahli ibadah, ia juga menganjurkan manusia untuk berfikir dan merenung tentang manusia dan alam semesta sebagai ciptaan Allah.
[15] Persinggungan antara kedua kekuatan tersebut terjadi dalam bingkai permusuhan politik, dimana hal itu berawal dari ketidaktahuan Barat tentang hakekat Islam dan sejarah Nabi. (Assamurai; 27)
[16] Perang Salib terjadi karena terpicu oleh kekalahan yang dialami pasukan Romawi yang berjumlah 200.000 tentara, terdiri dari pasukan Romawi, Ghuz, al-Akhraj, al-Hajr, Perancis dan Armenia ketika berlangsung ekspansi tentara Islam dibawah komando Alp Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit dalam peristiwa yang dikenal dengan Manzikart, tahun 464 H./1071 M. (Dr. Badri Yatim MA., Sejarah Peradaban Islam, Rajawali Pers; 76)
[17] Orang-orang Kristen Spanyol juga diperangi karena mereka dianggap telah terpengaruh oleh ajaran Islam, sehingga ajaran mereka sudah tidak murni seperti ajaran Kristen Romawi. (Assamurai; 29)
[18] Jurnal Ulumul Qur’an, Vol IV: 3.
[19]   Ali Syariati, Tugas Cendekiawan Muslim, Rajawali Pers; 208-212.
[20] Jurnal Ulumul Qur’an; 3
[21] Berawal dari gerakan averroeisme, maka bergulirlah reformasi di Eropa pada abad ke-16M dan rasionalisme pada abad ke-17 M. Pengaruh itu juga dapat dilihat dari aktifnya penerbitan danpenerjemahan karya-karya beliau. Buku beliau pertama dicetak di Venesia pada tahun 1481 kemudian berturut-turut tahun 1482, 1483 1489 dan 1500 M. Bahkan edisi lengkapnya diterbitkan padatahun 1553 dan 1557 M. Selain diVenesia pada abad ke-16 karya-karya beliau juga ditebitkan di Napoli, Bologna, Lyons dan Strasbourg  serta diawal abad ke-17 di Jenewa. (Dr. Badri Yatim; 108-109)
[22] Karya Ibn Sina (Avicienna) dalam bidang kedokteran, disalin pertama kali oleh Gerard of Cremona (w. 1187 M.), sedang karya-karya Al-farabi (Al-Farabes) disalin sekitar tahun 1243-1256 M. oleh Hermanus Allemanus. (H.M. Joesoef Sou’yb, Orientalisme dan Islam,  Bulan Bintang; 47-48)
[23] Dr. Badri Yatim; 110.
[24] Munglkin kita tidak terima jika dikatakan bahwa sebagian karya orientalis menjadi pegangan kalangan umat Islam. Namun, kita juga tidak bisa menafikan bagaimana karya mereka semacam kamus Munjid (dianggap sebagai kamus terlengkap dan paling representatif, walaupun dibeberapa bagian dianggap mendeskreditkan Islam dan bersifat distorsif) dipakai di dunia akademis bahkan di Pondok pesantren. Selain itu juga banyak karya-karya ensiklopedis yang beredar  dikalangan Islam- semacam, John L. Possito, Ensiklopedi Islam. Ada juga buku kumpulan hadits karya A.J. Wensick, al-Mu’jam al-Mufahras li alfa^dzi al-Hadits al-nabawi, yang terdiri dari 8 juz, walaupun yang merupakan karya murninya hanya juz pertama.
[25] Jurnal Ulumul Qur’an; 3.
[26] Untuk melihat lebih jelas statemen-stateman mereka tentang Islam, nabi Muhammad dan sebagainya dapat dilihat dalam karya H. Ahmad Zuhdi DH., Pandangan Orientalis Barat tentang Islam: Antara yang Menghujat dan yang Memuji, PT. Karya Pembina Swajaya, 2004; 152-160.
[27] Karya-karyanya di seputar tema tersebut adalah Muslim Christian Encounter: Perceptioa and Misperception dan The Influence of Islam in The Medieval Europe. (Dr. Alwi Syihab, Islam Inklusif, Mizan; 289)
[28] Ia adalah seorang oriantelis berkebangsaan Perancis, ahli dalam bidang tasawuf ibn ‘Arabi. (Ibid; 59 dan 289-290)
[29] Guru disini bukan berarti kita mengikuti segala apa yang mereka katakan, tetapi kita menerima dengan sikap kritis. Sebab sebagaimana dikatakan olen Hidayat Nata Atmaja dalam bukunya Krisis Manusia Modern, bahwa seorang murid yang benar adalah mereka yang bisa membedakan mana pikiran gurunya yang benar dan yang salah. (Hidayat; 129). Disamping itu kita juga harus meniru semangat yang tertanam di kalangan mereka (orientalis) untuk mengkaji Islam dan mendakwahkan hasil studi mereka (baik yang jujur maupun yang controversial).