MAKALAH
TAFSIR AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG AKIDAH
(SURAT AL’IMRAN: 28) AT-TAUBAH: 60, THAHA: 14-15)












 










      Oleh:
         SAYYALI SURYADI, S.Sos.I






RA. RAUDLATUL ULUM TAMPOJUNG PREGI
KECAMATAN WARU KABUPATEN PAMEKASAN

TAFSIR AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG AKIDAH
(SURAT AL’IMRAN: 28) AT-TAUBAH: 60, THAHA: 14-15)

      Oleh: Sayyali Suryadi, S.Sos.I

TAFSIR AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG AKIDAH

Tafsir Rawa’ilul Bayan Surat Al-‘Imran: 28

ู„ุงูŠุชุฎุฐ ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ุงู„ูƒูุฑูŠู† ุฃูˆู„ูŠุงุก ู…ู† ุฏูˆู† ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ูˆู…ู† ูŠูุนู„ ุฐุงู„ูƒ ูู„ูŠุณ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ูู‰ ุดูŠุฆ ุฅู„ุง ุฃู† ุชุชู‚ูˆุง ู…ู†ู‡ู… ุชู‚ุฉ ูˆูŠุญุฐุฑูƒู… ุงู„ู„ู‡ ู†ูุณู‡ ูˆุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ู…ุตูŠุฑ [ุงู„ุนู…ุฑุงู† 28]

Artinya:
Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman, barang siapa berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apapun dari Allah. Kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu akan di (siksa) nya. Dan hanya kepada Allah tempat kembali. (al-‘Imran: 28)

ุณุจุจ ุงู„ู†ุฒูˆู„
ู†ุฒู„ุช ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุงูŠุฉ ุงู„ูƒุฑูŠู…ุฉ ูู‰ ุดุฃู† ู‚ูˆู… ู…ู† ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ูƒุงู† ู„ู‡ู… ุฃุตุญุงุจ ู…ู† ุงู„ูŠู‡ูˆุฏ ูƒุงู†ูˆ ูŠูˆุงู„ูˆู†ู‡ู… ูู‚ุงู„ ู„ู‡ู… ุจุนุถ ุงู„ุตุญุงุจุฉ: ุงุฌุชู†ุจูˆุง ู‡ุคู„ุงุก ุงู„ูŠู‡ูˆุฏ ูˆุงุญุฐุฑูˆุง ู…ุตุงุญุจุชู‡ู… ู„ุฆู„ุง ูŠูุชู†ูˆุงูƒู… ุนู† ุฏูŠู†ูƒู… ูˆูŠุถู„ูˆุงูƒู… ุจุนุฏ ุฅูŠู…ุงู†ูƒู… ูุฃุจู‰ ุฃูˆู„ุฆูƒ ุงู„ู†ุตูŠุญุฉ. ูˆุจู‚ูˆุง ุนู„ู‰ ุตุฏุงู‚ุชู‡ู… ูˆู…ุตุงุญุจุชู‡ู… ู„ู‡ู….

Sebab Turunnya Ayat ini:
                       
Ayat yang mulya ini turun pada waktu perkaranya suatu kaum dari kalangan mu’minin yang pada waktu itu mereka mempunyai beberapa sahabat dari kalangan Yahudi sedangkan mereka menjadikan sahabat mereka (orang-orang Yahudi) tersebut sebagai pemimpin mereka. Kemudian sebagian sahabat dari mereka (orang-orang mu’min) berkata kepada mereka (orang-orang mu’min yang bersahabat dengan Orang-orang Yahudi): “jauhilah oleh kalian, orang-orang Yahudi itu dan hati-hatilah berteman dengan mereka agar mereka tidak menjaukan kalian dari agama kalian dan tidak menyesatkan keimanan kalian”. Kemudian mereka menolak nasehat itu dan tetap berteman dan bersahabat dengan mereka. 
 ุงู„ู…ุนู†ู‰ ุฅู„ุง
ู†ู‡ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒูˆุฌู„ ุนุจุงุฏู‡ ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ุนู† ู…ูˆุงู„ุงุฉ ุงู„ูƒุงูุฑูŠู† ุฃูˆ ุงู„ุชู‚ุฑุจ ุฅู„ูŠู‡ู… ุจุงู„ู…ูˆุฏุฉ ูˆุงู„ู…ุญุจุฉ، ุฃูˆ ู…ุตุงุฏูู‡ู… ู„ู‚ุฑุงุจุฉ ุฃูˆ ู…ุนุฑูุฉ ู„ุฃู†ู‡ ู„ุงูŠู†ุจุบูŠ ู„ู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ุฃู† ูŠูˆุงู„ูˆุง ุฃุนุฏุงุก ุงู„ู„ู‡ ุฅุฐ ู…ู† ุบูŠุฑ ุงู„ู…ุนู‚ูˆู„ ุฃู† ูŠุฌู…ุน ุงู„ุงู†ุณุงู† ุจูŠู† ู…ุญุจุฉ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒูˆุฌู„ ูˆุจูŠู† ู…ุญุจุฉ ุฃุนุฏุงุกู‡ ู„ุฃู†ู‡ ุฌู…ุน ุจูŠู† ุงู„ู†ู‚ูŠุถูŠู† ูู…ู† ุฃุญุจ ุงู„ู„ู‡ ุฃุจุบุถ ุฃุนุฏุงุกู‡ ูู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ู„ู„ู…ุณู„ู… ุฃู† ูŠูˆุงู„ู‰ ุบูŠุฑุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ููŠุชุฎุฐ ู…ู† ุงู„ูƒูุงุฑ ุงู„ุฐูŠู† ูŠุชุฑุจุตูˆู† ุจุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ุงู„ุณูˆุก ุฃูˆู„ูŠุงุก ูŠุตุงุฏู‚ู‡ู… ูˆูŠุชูˆุฏุฏ ุฅู„ูŠู‡ู… ูˆูŠุณุชุนูŠู† ุจู‡ู… ูˆูŠุชุฑูƒ ุฅุฎูˆุงู†ู‡ ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ูู„ูŠุณ ุจูŠู† ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ูˆุงู„ูƒูุฑ ู†ุณุจ ูˆุตู„ุฉ ูุงู„ุฃูŠุฉ ุงู„ูƒุฑูŠู…ุฉ ุชุญุฐุฑ ู…ู† ู…ูˆุงู„ุงุฉ ุงู„ูƒุงูุฑูŠู† ุฅู„ุง ูู‰ ุญุงู„ ุงู„ุถุฑูˆุฑุฉ ูˆู‡ูˆ ุญุงู„ ุฅุชูุงุก ุดุฑู‡ู… ูˆุชุฌู†ุจ ุถุฑุฑู‡ู… ุฃูˆ ุงู„ุฎูˆู ู…ู†ู‡ู… ูุชุฌุงูˆุฒ ู…ูˆุงู„ุงุชู‡ู… ุจุดุฑุทุงู† ูŠู‚ุชุตุฑ ุฐู„ูƒ ุนู„ู‰ ุงู„ุธุงู‡ุฑ ู…ุน ุฅุถู…ุงุฑ ุงู„ูƒุฑุงู‡ูŠุฉ ุฃูˆ ุงู„ุจุบุถ ู„ู‡ู… ูู‰ ุงู„ุจุงุทู†. ุซู… ุฎุชู…ุช ุงู„ุฃูŠุฉ ุงู„ูƒุฑูŠู…ุฉ ุจุงู„ูˆุนูŠุฏ ุงู„ุดุฏูŠุฏ ุงู„ุฐูŠ ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุนุธู… ุงู„ุฐู†ุจ ุงู„ุฐูŠ ูŠุฑุชูƒุจู‡ ู…ู† ูŠุฎุงู„ู ุฃูˆุงู…ุฑ ุงู„ู„ู‡ ูˆูŠูˆุงู„ู‰ ุฃุนุฏุงุกู‡.

 Makna Kata “illa”
Allah ‘Azzawajalla melarang hamba-hambanya orang-orang mukmin berteman dan menolong orang-orang kafir atau mendekati mereka dengan Kasih sayang dan cinta kasih, walaupun  pertemanan itu hanya untuk kedekatan ataupun perkenalan, karena tidaklah pantas bagi seorang mukmin menjadikan musuh-musuh Allah sebagai teman mereka.. Sungguh sesuatu yang tidak masuk akal apabila seorang manusia bisa menyatukan antara kecintaan kepada Allah ‘Azzawajalla dengan kecintaan kepada musuh-musuh-Nya, karena sesungguhnya yang demikian itu adalah mengumpulkan antara dua hal yang bertentangan. Maka barang siapa yang mencintai Allah, maka secara otomatis ia membenci musuh-musuh-Nya. Oleh karena itu, orang muslim tidak diperbolehkan bersahabat dengan orang-orang selain mukmin yang kemudian ia mengmbil (menjadikan) salah satu dari orang-orang kafir yang mempunyai motiv-motiv yang jelek terhadap orang-orang mukmin tersebut sebagai pemimpin-pemimpinnya. Ia (muslim) berteman dengan mereka (orang-orang kafir), memberikan cinat kasihnya dan pertolongannya kepada mereka serta meninggalkan sauadara-saudaranya yang mukmin, padahal tidak ada suatu hubungan dan nasab (keturunan) antara keimanan dan kekafiran.
Maka ayat yang mulya di atas, menyuruh berhati-hati dari pertemanan orang-orang kafir  kecuali dalam keadan darurat yaitu mengantisipasi kejelekan-kejelekan dan mencegah bahaya dari sesuatu yang mengkhawatirkan dari mereka, maka yang demikian itu diperbolehkan dengan dua syarat : pertama, pertemanan itu hanya sebatas dhohir sambil menyimpan kebencian. Kedua, membenci mereka secara batin.
Kemudian ayat ini diakhiri dengan ancaman dahsyat yang menunjukkan atas keagungan dosa tersebut yang diperbuat (dilakukan) oleh orang yang menentang perintah Allah dan berkonsili dengan musekutu-sekutu-Nya.

ู„ุทุงุฆู ุงู„ุชูุณูŠุฑ:   (Intisari-Intisari Tafsir)
 ุงู„ู„ุทูŠูุฉ ุงู„ุงูˆู„: ุงู„ุชุนุจูŠุฑ ุจู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ [ูˆู…ู† ูŠุชุฎุฐ ุงู„ูƒูุฑูŠู† ุฃูˆู„ูŠุงุก ู…ู† ุฏูˆู† ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู†] ู„ู„ุฅุฎุชุตุงุฑ ูˆุงุณุชู‡ุงุฌู†ุง ุจุฐูƒุฑู‡ ูˆุชู‚ุจูŠุญุง ู„ู‡ุฐุง ุงู„ุตู†ูŠุน ูู…ูˆุงู„ุงุฉ ุงู„ูƒุงูุฑูŠู† ู…ู† ุฃู‚ุจุญ ุงู„ู‚ุจุงุฆุญ ุนู†ุฏ ุงู„ู„ู‡.



  Intisari Pertama:
Sebuah pelajaran dengan firman Allah SWT [dan barang siapa yang menjadikan orang-orang kafir pemimpin melainkan orang-orang yang beriman] untuk mengambil kesimplan dan membangkitkan semangat kita dengan mengingat-Nya  penjelekan terhadap sikap seperti ini, maka persahabatan dengan orang-orang kafir termasuk paling buruknya keburukan menurut Allah.

 ุงู„ู„ุทูŠูุฉ ุงู„ุซุงู†ูŠู‡:  ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ [ูู„ูŠุณ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ูู‰ ุดูŠุฆ[ ุฃูŠ ู„ูŠุณ ู…ู† ุฏูŠู† ุงู„ู„ู‡ ุฃูˆ ุดุฑุน ุงู„ู„ู‡، ูˆุงู„ุชูƒุจุฑ ูู‰ ุดูŠุฆ ู„ู„ุชุญู‚ูŠุฑ ุฃู‰ ู„ูŠุณ ู‡ุฐุง ูู‰ ู‚ู„ูŠู„ ุฃูˆ ูƒุซูŠุฑ ู…ู† ุฏูŠู† ุงู„ู„ู‡ ู„ุฃู†ู‡ ุฌู…ุน ุจูŠู† ุงู„ู…ุชู†ุงู‚ุถูŠู†.

  Intisari Kedua:
Firman Allah SWT [tidak akan memperoleh apapun dari Allah] artinya bukan termasuk dari agama Allah atau syari’at Allah, dan takabbur (sombong) dalam suatu apapun untuk meremehkan, artinya hal ini bukanlah termasuk suatu bagian dari agama Allah yang sedikit  atau banyak karena sesungguhnya yang demikian itu penyatuan antara dua hal yang bertentangan. 

 ุงู„ู„ุทูŠูุฉ ุงู„ุซุงู„ุซุฉ: ูู‰ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ [ุฅู„ุง ุฃู† ุชุชู‚ูˆุงู…ู†ู‡ู… ุชู‚ุฉ] ุฅู„ุชูุงุช ู…ู† ุงู„ุบูŠุจุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฎุทุงุจ: ูˆู„ูˆ ุฌุงุก ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุธุงู… ุงู„ุงูˆู„ ู„ูƒุงู† [ุฅู„ุง ุฃู† ุชุชู‚ูˆุง]

  Intisari Ketiga
Di dalam firmn Allah SWT [kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka] pemblikan dari dhomir ghaib pada dhamir khitab: walaupun telah datang di peraturan pertama maka akan menjadi [kecuali mereka takut].

 ุงู„ู„ุทูŠูุฉ ุงู„ุฑุงุจุนุฉ: ุฅุธู‡ุงุฑ ุฅุณู… ุงู„ุฌู„ุงู„ุฉ ู…ูƒุงู† ุงู„ุฅุถู…ุงุฑ ูู‰ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ [ูˆุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุตูŠุฑ] ู„ุชุฑุจูŠุฉ ุงู„ู…ู‡ุงุจุฉ ูˆุงู„ุฑูˆุนุฉ ูู‰ ุงู„ู†ูุณ ูˆุงู„ุชู‚ุฏูŠู… ุงู„ุฎุจุฑุนู„ู‰ ุงู„ู…ุจุชุฏุงุก ูŠููŠุฏ ุงู„ุญุตุฑ.

  Intisari Keempat
 Jelasnya ismu al-jalalah merupakan tempat prsembunyian di dalam firman Allah SWT [dan hanya kepada Allah tempat kembalinya ] sebagai pendidikan                  dan pemeliharan jiwa dan mendahulukan khabar dari pada mubtada’ fungsinya sebagai  penympitan.
ุงุญุชู„ู ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ููŠ ุฌูˆุงุฒุงู„ุฅุณุชุนุงู†ุฉ ุจุงู„ูƒูุงุฑ ููŠ ุงู„ุญุฑุจ ุนู„ูŠ ู…ุฐู‡ุจูŠู†

Perbedaan Fuqaha’ (Ulama’ Fiqih)
Tentang Diperbolehkannya Meminta Pertolongan Kepada Orang-Orang Kafir Dalam Sebuah Peperangan


Perbedaan Dua Madzhab:
 ุฃ. ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ: ุฃู†ู‡ ู„ุงูŠุฌูˆุฒุงู„ุฅุณุชุนุงู†ุฉ ุจุงู„ูƒูุงุฑููŠ ุงู„ุบุฑูˆุฃุฎุฐุง ุจุธุงู‡ุฑุงู„ุฃูŠุฉ ุงู„ูƒุฑูŠู…ุฉ ูˆุงุณุชุฏู„ูˆุง ุจู…ุง ูˆุฑุฏ ููŠ ู‚ุตุฉ (ุนุจุงุฏุฉ ุจู† ุงู„ุตุงู…ุช) ูƒู…ุง ูˆุตุญู‡ุง ุณุจุจ ุงู„ู†ุฒูˆู„. ูˆุงุณุชุฏู„ูˆุง ูƒุฐุงู„ูƒ ุจู…ุง ูˆุฑุชู‡ ุนุงุกุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ุฃู† ุฑุฌู„ุง ู…ู†ุงู„ู…ุดุฑูƒูŠู† ูƒุงู† ุฐุง ุฌุฑุงุฉ ูˆู†ุฌุฏุฉ ุฌุงุก ุงู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠูˆู… ุจุฏุฑ ูŠุณุชุฃุฐู†ู‡ ููŠ ุงู† ูŠุญุงุฑุจ ู…ุนู‡ ูู‚ุงู„ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ู‡ ุฃุฑุฌุน ูู„ู† ุฃุณุชุนูŠู† ุจู…ุดุฑูƒ.

A. Madzhab Al-Maliki
Menurut madzhab ini, bahwasanya tidak diperbolehkan meminta tolong pada orang-orang kafir untuk berperang dengan menisbatkan pada makna dhohir ayat yang mulia danapa yang termaktub dalam sebuah kisah (‘Ubadahbin Shomit) sebagaimana telah dijelaskan sebab turunnya ayat tersebut. Dan telah dinisbatkan juga pada apa yang telah diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah ra. Bahwa, ada seorang laki-laki dari kaum musyrik datang kepada Rasulullah SAW pada waktu perang Badar, meminta izin untuk ikut berperang bersama beliau. Kemudian beliau berkata kepadanya: “Pulang! Sekali-sekali aku tidak akan pernah meminta bantuan kepada orang-orang Musyrik”.

ุจ. ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ (ุงู„ุดุงูุนูŠุฉ ูˆุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ ูˆุงู„ุฃุญู†ุงู): ู‚ู„ูˆุง ูŠุฌูˆุฒ ุงู„ุฅุณุชุนุงู†ุฉ ุจุงู„ูƒูุงุฑูู‰ ุงู„ุญุฑุจ ุจุดุฑุทูŠู†: ุฃูˆู„ุง ุงู„ุญุงุฌุฉ ุฅู„ูŠู‡ู…. ูˆุซุงู†ูŠุงุงู„ูˆุซูˆู‚ ู…ู† ุฌู‡ุชู‡ู…, ูุงุณุชุฏู„ูˆุง ุนู„ู‰ ู…ุฐู‡ุจู‡ู… ุจูุนู„ ุงู„ู†ุจูŠุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูู‚ุฏ ุงุณุชุนุงู† ุจูŠู‡ูˆุฏ ููŠู†ู‚ุงุญ ูˆู‚ุณู… ู„ู‡ู…, ูˆุงุณุชุนุงู† ุจุตููˆุงู† ุจู† ุฃู…ูŠุฉ ููŠ ู‡ูˆุงุฒู† ูุฏู„ ุฐุงู„ูƒ ุนู„ู‰ ุงู„ุฌูˆุงุฒ, ูˆู‚ุงู„ูˆุง ูู‰ ุงู„ุฑุฏ ุนู„ู‰ ุฃุฏู„ุฉ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ ุฃู†ู‡ุง ู…ู†ุณูˆุฎุฉ ุจูุนู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆ ุนู…ู„ู‡, ูˆู‚ุงู„ ุจุนุถู‡ู…: ุฅู† ู…ุง ุฐูƒุฑู‡ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ ูŠุญู…ู„ ุนู„ู‰ ุนุฏู… ุงู„ุญุฌุงุฉ ุฃูˆ ุนุฏู… ุงู„ูˆุซูˆู‚ ุญูŠุซ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ู… ูŠุซู‚ ู…ู† ุฌู‡ุชู‡,ูˆุจุฐุงูƒ ูŠุญุตู„ ุงู„ุฌู…ุน ุจูŠู† ุฃุฏู„ุฉ ุงู„ู…ู†ุน ูˆุฃุฏู„ุฉ ุงู„ุฌูˆุงุฒ. 

B. Madzhab Mayoritas Ulama’ (Imam Syafi’i, Hambali dan Hanafi)
Mereka (Imam Syafi’I, Imam Hambali dan Imam Hanafi) mengatakan: “ boleh meminta pertolongan dalam sebuah perang dengan syarat: pertama, karena butuh kepada pertolongan mereka. Kedua, kepercayaan terhadap mereka. dan syarat yang kedua ini elah dinisbatkan pada perbuatan Nabi SAW. Beliau meminta bantuan pada orang Yahudi kemudian beliau memotong-motong ranting dan membagikannya kepda mereka. Beliau  juga meminta bantuan kepada Sofyan bin Umayyah, maka semua itu menunjukkan bolehnya meminta bantuan pada orang-orang kafir  untuk berperang.
Dan mereka mengatakan dengan mengembalikan pada dalil-dalilnya Madzhab maliki bahwa dalil-dalilnya itu mansukh dengan fi’il dan perbuatan Nabi.Sebagian mereka berkata “ sesungguhnya apa yang dikatakan oleh Madzhab Maliki dimaksudkan pada tidak adanya kebutuhan dan tidak adanya kepercayaan dengan kata lain bahwa sesungguhnya Nabi SAW belum percaya kepada mereka. dengan demikian akan menghasilkan penggabungan antara dalil-dalil larangan sekaligus dalil-dalil yang membolehkan.

ุงู„ุญูƒู… ุงู„ุซุงู†ูŠ: ู…ุง ู…ุนู†ูŠ ุงู„ุชู‚ูŠุฉ ูˆู…ุง ู‡ูˆ ุญูƒู…ู‡ุง
ู‚ุงู„ ุฅุจู† ุนุจุงุณ: ุงู„ุชู‚ูŠุฉ ุฃู† ูŠุชูƒู„ู… ุจู„ุณุงู†ู‡ ูˆู‚ู„ุจู‡ ู…ุทู…ุฆู† ุจุงู„ุฅูŠู…ุงู†, ูˆู„ุงูŠู‚ุชู„ ูˆู„ุงูŠุฃุชูŠ ู…ุฃ ุซู…ุง, ูˆุนุฑู ุจุนุถู‡ู… ุงู„ุชู‚ูŠุฉ ุจุฃู†ู‡ุง ุงู„ู…ุญุงูุธุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ูุณ ูˆุงู„ู…ุงู„ ู…ู† ุงู„ุฃุนุฏุงุก ูููŠู‡ู… ุง ู„ุฅู†ุณุงู† ุจุฅุธู‡ุงุฑ ุงู„ู…ูˆุงู„ุงุฉ ู…ู† ุบูŠุฑ ุฅุนุชู‚ุงุฏ ู„ู‡ุง.

Hukum Kedua:  Apa maka lafadz “at-taqiyyatu” dan apa hukumnya?
Ibnu Abbas berkata: “at-taqiyyatu yaitu seseorang berkata dengan lisannya sedangkan hatinya teduh dengan iman, dan tidak membunuh dan melakukan dosa. Dan sebagian mereka mengartikan yaitu bahwa sesungguhnya at-taqiyatu itu menjaga jiwa dan harta dari perbuatan buruk para musuh, maka manusia menjaganya dengan menampakkan persahabatan dengan tanpa meyakini (bersugguh-sungguh) pada persahabatan itu. 

ุงู„ุญูƒู… ุงู„ุซุงู„ุซ: ู‡ู„ ุชุฌูˆุฒ ุชูˆู„ูŠุฉ ุงู„ูƒุงูุฑ ูˆุงุณุชุนู…ุงู„ู‡ ููŠ ุดุคูˆู† ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†؟
ุฅุณุชุฏู„ ุจุนุถ ุงู„ุนู„ู…ุงุกุจู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃูŠุฉ ุงู„ูƒุฑูŠู…ุฉ ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุชูˆู„ูŠุฉุงู„ูƒุงูุฑ ุดูŠุฆุง ู…ู† ุฃู…ูˆุฑ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ูˆู„ุง ุฌุนู„ู‡ู… ุนู…ุงู„ุง ูˆู„ุง ุฎุฏู…ุง, ูƒู…ุง ูŠุฌูˆุฒ ุชุนุธูŠู…ู‡ู… ูˆ ุชูˆููŠุฑู‡ู… ููŠ ุงู„ู…ุฌู„ุณ ูˆุงู„ู‚ูŠุงู… ุนู†ุฏ ู‚ุฏูˆู…ู‡ู… ูุฅู† ุฏู„ุงู„ุชู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุชุนุธูŠู… ูˆุงุถุญุฉ, ูˆู‚ุฏ ุฃู…ุฑู†ุง ุจุงุญุชู‚ุงุฑู‡ู… [ ุฅู†ู…ุง ุงู„ู…ุดุฑูƒูˆู† ู†ุฌุณ ] [ุงู„ุชูˆุจุฉ 28].

Hukum ketiga: Bolehkah menjadikan orang-orang kafir sebagai teman atau penolong dan memanfaatkannya dalam urusan-urusan orang Islam?

Dalam hal ini sebagian ulama’ merujuk pada ayat yang mulia ini bahwa menjadikan orang kafir sebagai wali untuk suatu urusan yang menyangkut perkara-perkaranya orang muslim itu tidak boleh, begitu juga tidak boleh menjadikan mereka pekerja atau sebagai pembantu. Sebagaimana mengagungkan mereka dan bersikap yang berlebihan di dalam suatu majlis dan berdiri ketika mereka dating, maka sesunguhnya dalil tentang  pengagungan itu jelas. Dan kita telah diperintahkan untuk meremehkan mereka. [sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis].  At-taubah:28

ุงู„ุญูƒู… ุงู„ุฑุงุจุน: ุงู„ู…ุฏุงุฑุงุฉ ู„ุฃู‡ู„ ุงู„ุดุฑ ูˆุงู„ูุฌูˆุฑ
ุชุฌูˆุฒ ู…ุฏุงุฑุงุฉ ุงู‡ู„ ุงู„ุดุฑ ูˆุงู„ูุฌูˆุฑ، ูˆู„ุง ูŠุฏุฎู„ ู‡ุฐุง ูู‰ ุงู„ู…ูˆุงู„ุงุฉ ุงู„ู…ุญุฑู…ุฉ ูู‚ุฏ ูƒุงู† ุนู„ู‰ู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู… ุจุฏุงุฑูŠ ุงู„ูุณุงู‚ ูˆุงู„ูุฌุงุฑ ูˆูƒุฃู† ูŠู‚ูˆู„ { ุฅู†ุง ู„ู†ุจุด ูู‰ ูˆุฌูˆู‡ ู‚ูˆู… ูˆู‚ู„ูˆุจู†ุง ุชู„ุนู†ู‡ู…} ุฃูˆ ูƒู…ุง ู‚ุงู„. ู‚ุงู„ ุจุนุถุงู„ุนู„ู…ุงุก: ุฅู† ูƒุงู†ุช ููŠู…ุง ู„ุง ูŠุคุฏูŠ ุงู„ู‰ ุถุฑุฑ ู„ุบูŠุฑ ูƒู…ุง ุฃู†ู‡ุง ู„ุง ุชุฎุงู„ู ุฃุตูˆู„ ุงู„ุฏูŠู† ูุฐุงู„ูƒ ุฌุงุฆุฒ، ูˆุฅู† ูƒุงู†ุช ุชุคุฏู‰ ุงู„ู‰ ุถุฑุฑ ุงู„ุบูŠุฑ ูƒุง ุงู„ู‚ุชู„ ูˆุงุณุฑู‚ุฉ ูˆุดู‡ุงุฏุฉ ุงู„ุฒูˆุฑ ูู„ุง ุชุฌูˆุฒ ุงู„ุจุชุฉ، ูˆุงู„ู„ู‡ ูŠู‡ุฏู‰ ู…ู† ูŠุดุงุก ุฅู„ู‰ ุตุฑุงุท ู…ุณุชุชู‚ูŠู….







Hukum Keempat: Sikap yang halus (bujukan) terhadap ahli kejahatan dan kemaksiatan

Bujkan (sikap yang halus) kepada ahli kejahatan dan kemaksiatan hukumnya boleh dan sikap seperti ini tidak termasuk dalam persahabatan yang diharamkan. Nabi SAW bersikap halus kepada orang Fasik dan orang yang maksiat dan beliau bersabda: “hendaknya kita menampakkan wajah kita pada satu kaum sedangkan hati kita melaknatnya” sebagaimana sebagian ulama berkata: “apabila sikap itu tidak untuk mendatangkan kemudharatan (sesuatu yang berbahaya) dengan kata lain, sikap itu tidak bertentangan dengan dasar-dasar agama, maka yang demikian itu diperbolehkan. Dan apabila sikap itu mendatangkan sesuatu yang berbahaya seperti pembunuhan, pencurian dan kesaksian palsu maka yang demikian itu sangat tidak boleh. Dan Allah akan memberi petunjuk pada seseorang yang Dia kehendaki menuju jalan yang lurus.

Tafsir Jalalain Surat At-Taubah Ayat: 60

[ ุฅู†ู…ุง ุงู„ุตุฏู‚ุงุช ] ุงู„ุฒูƒุงุฉ ู…ุตุฑูˆูุฉ [ ู„ู„ูู‚ุฑุงุก ] ุงู„ุฐูŠู† ู„ุงูŠุฌุฏูˆู† ู…ุง ูŠู‚ุน ู…ูˆู‚ุนุง ู…ู† ูƒูุงูŠุชู‡ู… [ ูˆุงู„ู…ุณุงูƒูŠู† ] ุงู„ุฐูŠู† ู…ุง ูŠุฌุฏูˆู† ู…ุง ูŠูƒููŠู‡ู… [ ูˆุงู„ุนุงู…ู„ูŠู† ุนู„ูŠู‡ุง ] ุฃู‰ ุงู„ุตุฏู‚ุงุช ู…ู† ุฌุงุจ ูˆู‚ุงุณู… ูˆูƒุงุชุจ ูˆุญุงุดุฑ [ ูˆุงู„ู…ุคู„ูุฉ ู‚ู„ูˆุจู‡ู… ] ู„ูŠุณู„ู…ูˆุง ุฃูˆ ูŠุซุจุช ุฅุณู„ุงู…ู‡ู… ุฃูˆ ูŠุณู„ู… ู†ุธุฑูˆุงู‡ู… ุฃูŠุฐุจูˆุง ุนู† ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ุฃู‚ุณุงู… ูˆุงู„ุฃูˆู„ ูˆุงู„ุฃุฎูŠุฑ ู„ุงูŠุนุทูŠุงู† ุงู„ูŠูˆู… ุนู†ุฏ ุงู„ุดุงูุนู‰ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู†ู‡ ู„ุนุฒ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ูˆุจุฎู„ุงู ุงู„ุฃุฎุฑูŠู† ููŠุนุทูŠุงู† ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุตุญ [ูˆููŠ] ููƒ [ุงู„ุฑู‚ุงุจ] ุฃูŠ ุงู„ู…ูƒุงุชุจูŠู† [ูˆุงู„ุบุงุฑู…ูŠู†] ุฃู‡ู„ ุงู„ุฏูŠู† ุฅู† ุงุณุชุฏู†ูˆุง ู„ุบูŠุฑ ู…ุนุตูŠุฉ ุฃูˆ ุชุงุจูˆุง ูˆู„ูŠุณ ู„ู‡ู… ูˆูุงุก ุฃูˆ ู„ุฅุตู„ุงุญ ุฐุงุช ุงู„ุจูŠู† ูˆู„ูˆ ุฃุบู†ูŠุงุก [ูˆููŠ ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡] ุฃูŠ ุงู„ู‚ุงุฆู…ูŠู† ุจุงู„ุฌู‡ุงุฏ ู…ู…ู† ู„ุง ููŠุฆ ู„ู‡ู… ูˆู„ูˆ ุฃุบู†ูŠุงุก [ูˆุฅุจู† ุงู„ุณุจูŠู„] ุงู„ู…ู†ู‚ุทุน ููŠ ุณูุฑู‡ [ูุฑูŠุถุฉ] ู†ุตุจ ุจูุนู„ู‡ ุงู„ู…ู‚ุฏุฑ [ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู…] ุจุฎู„ู‚ู‡ [ุญูƒูŠู…] ููŠ ุตู†ุนู‡ ูู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุตุฑูู‡ุง ู„ุบูŠุฑ ู‡ุงุคู„ุงุก ูˆู„ุง ู…ู†ุน ุตู†ู ู…ู†ู‡ู… ุฅุฐุง ูˆุฌุฏ ููŠู‚ุณู…ู‡ุง ุงู„ุฅู…ุงู… ุนู„ูŠู‡ู… ุนู„ู‰ ุงุงุณูˆุงุก ูˆู„ู‡ ุชูุถูŠู„ ุจุนุถ ุฃุญุงุฏุงู„ุตู†ู ุนู„ู‰ ุจุนุถ ูˆุฃูุงุฏ ุช ุงู„ู„ุงู… ูˆุฌูˆุจ ุฅุณุชุบุฑุงู‚ ุฃูุฑุงุฏู‡ ู„ูƒู† ู„ุง ูŠุฌุจ ุนู„ู‰ ุตุงุญุจ ุงู„ู…ุงู„ ุฅุฐุง ู‚ุณู… ู„ุบูŠุฑู‡ ุจู„ ูŠูƒููŠ ุฅุนุทุงุก ุซู„ุงุซุฉ ู…ู† ูƒู„ ุตู†ู ูˆู„ุง ูŠูƒููŠ ุฏูˆู†ู‡ุง ูƒู…ุง ุฃูุง ุฏุชู‡ ุตูŠูุฉ ุงู„ุฌู…ุน ูˆุจูŠู†ุช ุงู„ุณู†ุฉ ุฃู† ุงู„ุดุฑุท ุงู„ู…ุนุทูŠ ู…ู†ู‡ุง ุงู„ุฅุณู„ุงู… ูˆุฃู† ูŠูƒูˆู† ู‡ุงุดู…ูŠุง ูˆู„ุง ู…ุทู„ุจูŠุง.
Tafsirannya:
[Sesungguhnya shodaqah] zakat itu adalah suatu kewajiban yang harus dibayar [kepada orang-orangg fakir] yaitu orang-orang yang tidak mendapatkan nafkah [harta] yang cukup dalam memenuhi kebutuhannya setiap hari [dan orang-orang miskin] yaitu orang-orang yang tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan [dan para pengurus zakat] yaitu orang-orang yang mengumpulkan, membagikan, dan menyebarkan zakat  [orang-orang muallaf yang dibujuk hatinya] untuk menyelamatkan atau menetapkan keislamannya atau menjaga pandangannya terhadap islam dan mereka berhak mendapatkan bagian dari orang-orang islam. Sedangkan yang pertama dan yang terakhir tidak diberikan sekarang untuk kemenangan islam menurut Imam Syafi’I radhiyallahu ‘anhu  yang berbeda dengan pendapat yang lain (pendapat yang lebih shah). [dan di dalam] membebaskan [para penulis zakat]  yaitu orang yang mendata zakat [dan kepada orang-orang yang berhutang] maksudnya ahli agama yang berhutang untuk keperluan yang bukan kemaksiatan atau orang-orang yang bertobat dari dosa-dosa besar sedangkan mereka tidak  mempunyai sesuatu apapun, ataupun digunakan untuk memperbaiki diri setelah bertobat (semisal tazkiyatun-nafs dan semacamnya) walaupun ia termasuk orang yang kaya (tapi harta yang ada hasil dari dosanya sebelum ia bertobat) [dan kepada orang-orang yang berjuang dijalan Allah] yaitu orang-orang yang yang menegakkan jihad di jalan Allah [dan musafir] yang kehabisan bekal sehingga ia herus berhenti ditengah perjalanannya [suatu bagian] yang dibagikan sesuai dengan ketentuan (nishab) [dari Allah dan Allah Dzat yang maha tahu] terhadap ciptaan-Nya [dan maha bijaksana] didalam ciptaan-Nya. Maka pembagian zakat itu tidak diperuntukkan bagi selain mereka (8 golongan yang telah disebut diatas) dan tidak ada larangan untuk membagikannya pada sebagian dari mereka, kemudian seorang Imam (pemimpin) membagikannya secara fifty-fifty dan hendaknya ia melebihkan pada salah satu dari golongan dari pada yang lain. Adapun fungsinya kalimat “ุงู„ู„ุงู… ” berfungsi sebagai kewajiban adanya pemisahan individual, hal ini tidak wajib bagi shohibul mal membagikannya pada prang lain akan tetapi cukup diberikan pada tiga orang dari tiap golongan dan tidak memenuhi syarat apabila diberikan pada selain yang tiga tersebut. Sebagaimana fungsinya “ุตูŠูุฉ ุงู„ุฌู…ุน   dan telah dijelaskan di dalam hadits bahwa syarat bagi seorang penerima zakat adalah islam baik Bani Hasyim ataupun Bani Mathlabi.     


Tafsir Munir Surat Thaha Ayat: 14-15

[ุฅู†ู†ูŠ ุฃู†ุง ุงู„ู„ู‡] ุจุฏู„ ู…ู…ุง ูŠูˆุญู‰ [ู„ุงุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุฃู†ุง] ูˆู‡ุฐุง ุฅุดุงุฑุฉ ู„ู„ุนู‚ุงุฆุฏ ุงู„ุนู‚ู„ูŠุฉ [ูุงุนุจุฏู†ู‰ ูˆุฃู‚ู… ุงู„ุตู„ุงุฉ ู„ุฐูƒุฑู‰] ุฃูŠ ู„ุชุฐูƒุฑู†ู‰ ูู‰ ุงู„ุตู„ุงุฉ ู„ุง ุดู…ุงู„ู‡ุง ุนู„ู‰ ูƒู„ุงู…ู‰ ุฃูˆ ู„ุฐูƒุฑู‰ ุฅูŠุงูƒ ุจุงู„ู…ุฏุญ ูˆุงู„ุซู†ุงุก ุฃูˆ ุงู„ุฅุฎู„ุงุต ุฐูƒุฑู‰ ู„ุงุชู‚ุตุฏ ุจุงู„ุตู„ุงุฉ ุบุฑุถุง ุฃุฎุฑูˆ ูˆู‡ุฐุง ุฅุดุงุฑุฉ ู„ู„ู„ุฃุนู…ุงู„ ุงู„ูุฑุนูŠุฉ [ ุฅู† ุงุณุงุนุฉ ุฃุชูŠุฉ ] ุฃู‰ ูƒุงุฆู†ุฉ ู„ุงุจุฏ [ ุฃูƒุงุฏ ุฃุฎููŠู‡ุง ] ุฃูŠ ุฃูƒุงุฏ ุฃุธู‡ุฑู‡ุง ุฃู‰ ู‚ุฑุจ ุฃุธู‡ุงุฑู‡ุง ูˆูŠุคูŠุฏู‡ ู‚ุฑุงุกุฉ ูุชุญ ุงู„ู‡ู…ุฒุฉ ุฃูˆ ุงู„ู…ุนู†ู‰ ุฃูƒุงุฏ ุฃุฒูŠู„ ุนู†ู‡ุง ุฃุฎูุงุกู‡ุง ู„ุฃู† ุฃูุนู„ ู‚ุฏ ูŠุฃุชู‰ ุจู…ุนู†ู‰ ุงู„ุณู„ุจ ูƒู‚ูˆู„ูƒ ุฃุดูƒู„ุช ุงู„ูƒุชุงุจ ุฃุฒู„ุช ุฃุดูƒู„ู‡ ูˆู‡ุฐุง ุฅุดุงุฑุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุนู‚ุงุฆุฏ ุงู„ุณู…ุนูŠุฉ ูˆู‡ุฐู‡ ุงู„ุซู„ุงุซู‡ ุฌู…ู„ุฉ ุงู„ุฏูŠู† ูุฅู†ุฃุตูˆู„ ู‡ุฐุง ุงู„ุจุงุจ ุชุฑุฌุน ุฅู„ู‰ ุซู„ุงุซุฉ: ุนู„ู… ุงู„ู…ุจุฏุงุก ูˆุนู„ู… ุงู„ูˆุณุท ูˆุนู„ู… ุงู„ู…ุนุงุฏ ูุนู„ู… ุงู„ู…ุจุฏุงุก ู‡ูˆ ู…ุนุฑูุฉ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูู‡ูˆุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฅู†ู†ู‰ ุฃู†ุง ุงู„ู„ู‡ ู„ุงุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุฃู†ุง، ูˆุนู„ู… ุงู„ูˆุณุท  ู‡ูˆ ุนู„ู… ุงู„ุนุจูˆุฏูŠุฉ ูู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูุงุนุจุฏู†ู‰ ุฅุดุงุฑุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ุงู„ุฌุณู…ุงู†ูŠุฉ ูˆู‚ูˆู„ู‡ ู„ุฐูƒุฑู‰ ุจู…ุนู†ู‰ ู„ุชูƒูˆู† ุฐุงูƒุฑ ุฅู„ู‰ ุบูŠุฑ ู†ุงุณ ุฅุดุงุฑุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ุงู„ุฑูˆุญุงู†ูŠุฉ ูุงู„ุนุจูˆุฏูŠุฉ ุฃูˆู„ู‡ุง ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ุงู„ุฌุณู…ุงู†ูŠุฉ ูˆุฃุฎุฑู‡ุง ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ุงู„ุฑูˆุญุงู†ูŠุฉ ูˆุนู„ู… ุงู„ู…ุนุงุฏ ู‡ูˆ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุณุงุนุฉ ุฃุชูŠุฉ ุฃูƒุงุฏ ุฃุฎููŠู‡ุง [ู„ุชุฌุฒู‰ ูƒู„ ู†ูุณ] ุจุฑุฉ ุฃูˆ ูุงุฌุฑุฉ [ุจู…ุง ุชุณุนู‰] ุฃู‰ ุจู…ุง ุชุนู…ู„ ู…ู† ุฎูŠุฑ ุฃูˆ ุดุฑ ูู‚ูˆู„ู‡ ู„ุชุฌุฒู‰ ู…ุชุนู„ู‚ ุจุฃู†ูŠุฉ ุฃูˆ ุจุฃุฎููŠู‡ุง.   

Tafsirannya:
[Sesungguhnya Aku adalah Allah] yang telah memberi wahyu. [Tiada Tuhan selain Allah] dan ini adalah petunjuk bagi akidah-akidah yang bersifat aqliyah [Maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingatku] atau untuk mengingatku di dalam sholat untuk pengaplikasian terhadap perkataan-Ku atau untuk menyebut-Ku dengan pujian dan kebaikan atau menyebutku dengan ikhlas. Janganlah  kamu jadikan sholat itu untuk tujuan selain itu. Hal Ini merupakan petunjuk untuk perbuatan-perbuatan Far’iyah. [Sesungguhnya hari Kiamat itu akan datang] artinya sesuatu yang mungkin itu pasti akan datang. [Aku merahasiakan waktunya] yang waktunya itu jelas, atau waktu itu telah dekat. Dan dikuatkan dengan bacaan hamzah yang berharkat fathah yang bermakna “akan Aku hapus waktu yang dirahasiakan itu” karena lafadz “af’alu” bermkna peniadaan atau penyangkalan seperti kamu berkata “aku menyamarkan kitab itu” artinya meniadakan bentuknya dan hal ini merupakan petunjuk bagi akidah-akidah yang bersifat sam’iyah. Dan ketiga hal tersebut ( Aqaid-Aqliyah, A’mal-far’iyah dan Aqa’id as-sam’iyah) termasuk kalimat agama. Maka dasar-dasar bab ini kembali pada tiga hal yaitu: Ilmu al-Mabda’(permulan), ilmu al-Wasthu (pertengahan), dan ilmu al-Ma’ad (Akhirat). Adapun ilmu al-Mabda’ (permulaan) itu adalah mengetahui Allah SWT,  maksudnya adalah firman Allah SWT “ุฅู†ู†ูŠ ุฃู†ุง ุงู„ู„ู‡”. Sedangkan Ilmu al-Wasthu (pertengahan) itu adalah ilmu tentang hal ibadah, sebagaimana firman Allah “ูุงุนุจุฏู†ู‰ ” sebagi suatu isyarat pada perbuatan-perbuatan yang bersifat jasmaniyah, sebagaimana Allah juga berfirman” ู„ุฐูƒุฑู‰ dengan artian supaya perbuatan-perbuatan yang bersifat jasmani tersebut menjadi pengingat pada selain manusia serta sebagai isyarat menuju perbuatan-perbuatan yang bersifat rohani. Adapun ibadah itu diawali dengan perbuatan jasmani dan diakhiri dengan perbuatan rohani. Sedangkan Ilmu al-Ma’ad (Akhirat) adalah firman Allah SWT “ุฃู† ุงู„ุณุงุนุฉ ุฃุชูŠุฉ ุฃูƒุงุฏ ุฃุฎููŠู‡ุง[untuk membalas setiap jiwa] yaitu memberi pahala ataupun ganjaran [dengan apa yang ia perbuat] yaitu sesuatu yang ia kerjakan baik perbuatan baik maupun buruk. Maka firman Allah ู„ุชุฌุฒู‰ berkorelasi dengan firman-Nya ุจุฃู†ูŠุฉ  atau ุจุฃุฎููŠู‡ุง. (Sayyali).