TAFSIR SURAT AL-ISRA’
AYAT 23- 24
Oleh :
ALI MAKKI
ALI RIDHO
AROFIQ
BAIDARI
BAHRUDIN
BARDI KIDAL
BAIDA’I EFENDI
BAMBANG IRAWAN
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AL-KHAIRAT PAMEKASAN
PROGAM STUDI PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Anak
sebagaimana Allah ta’ala menamakannya dengan fitrah (ujian) merupakan titipan
yang dibebankan oleh-Nya kepada orang tua. Adalah tanggung jawab orang tua
untuk mendidik, membentuk pribadi dan prilakunya, dengan menerapkan sistem
pendidikan yang tepat, sejak dini karena anak bagaikan lembaran kertas putih
ditangan orang tua, bila orang tua menulis dengan baik tentu akan menjadi baik.
(Ahmad Izzudin Al-Byannuni :1992:109).
Anak
dilahirkan membawa serangkaian naluri dan kecendrungan. Salah satunya adalah
naluri dan kecendrungan yang nampak secara aktual dan yang lainnya adalah
naluri yang dibawa oleh anak dalam bentuk kecendrungan-kecendrungan yang
mungkin akan berubah dari potensi menuju kemampuan yang aktual pada waktu yang
sesuai. (Husain, 1999:136).
Adapun
kecendrungan-kecendrungan yang dibawa oleh anak secara aktual, kita dapati
perjalanan dan reaksinya secara langsung pada prilaku sejak saat pertama kelahirannya, tercemin pertama kali dalam
pencahariannya terhadap makanan sehingga ia lapar, fitrahnya secara naluri
mendorongnya mencari payudara ibunya agar dapat memberikan kebutuhannya akan
makanan (cair susu). (Mazhariri, 1999 : 136).
Akhlak adalah
tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Arti yang lebih spesifik dari
“orang berakhlak” adalah orang yang bertingkah laku baik, terpuji dan tidak
melakukan perbuatan tercela.
Akhlak seorang
anak kepada kedua orang tuanya (ayah dan ibu kandungnya) merupakan kewajiban
anak bagi kedua orang tuanya dan hak orang tua untuk diterima dari anaknya.
Hal ini
dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 23-24 yang berbunyi :
Artinya: “Allah
SWT memerintahkan agar tidak menyembah kecuali hanya bagi-Nya dan dianjurkan
berbuat kebajikan bagi kedua orang tuanya (ayah dan ibu kandungnya). Jika pada
saatnya nanti kalian telah menmperhatikan kedua orang tuanya telah tua maka
janganlah katakana “uf’, dan janganlah
membentak, akan tetapi bertutur katalah
deengan lemah lembut. Taburkanlah kepada mereka kasih dan saying sebagaimana
mereka mengasihani kalian di masa bayi/ kecil”. (Qur’an: al-Isra’ ayat 23-24).
B. Rumusan Masalah
Setelah penulis memahami latar
belakang masalah di atas maka dapat merumuskan pokok permasalahannya adalah
bagaimanakah sikap dan perilaku anak (dalam hal ini anak kandung) kepada kedua orang tuanya (ayah dan ibu kandungnya)
menurut Surat
al-Isra’ ayat 23-24?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Salah
satu tujuan penulisan makalah ini adalah ingin mengetahui tentang bagaimanakah sikap dan perilaku anak
(dalam hal ini anak kandung) kepada kedua
orang tuanya (ayah dan ibu kandungnya) menurut Surat al-Isra’ ayat 23-24.
BAB II
PEMBAHASAN TENTANG
A. Pengertian Moral
Moral artinya
tingkah laku, perangai, tabiat, watak, moral etika atau budi pekerti.
(Zainuddin, 1999: 73).
Sedangkan secara istilah moral adalah sebuah sistem yang
lengkap yang terdiri dari karakteristik-karakteristik akal atau tingkah laku
yang membuat sesorang menjadi istimewa. (Mahmud,2004:27).
Kepribadian dalam bahasa asing (Belanda) adalah
“persoonlijkheid”, yaitu kesan-kesan yang terpancar dari keadaan seseorang,
yang dapat membuat orang lain hormat, respek, segan dan lain-lain.
(Yusuf,2003:3).
Dari beberapa pengertian diatas dapat dipahami bahwa akhlak
adalah tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Arti yang lebih
spesifik dari “orang berakhlak” adalah orang yang bertingkah laku baik, terpuji
dan tidak melakukan perbuatan tercela.
B. Pembagian Akhlak
Berdasarkan sifatnya , akhlak dibagi menjadi 2 bagian :
- Akhlak Mahmudah (akhlaq terpuji) atau akhlak karimah (akhlak yang
mulia).
2. Akhlaq Mazhmumah (akhlak tercela) atau
akhlak sayyiah (akhlak yang jelek).(Zainuddin, 1999: 77).
Sedangkan pembagian akhlak
berdasar objeknya akhlak dibedakan menjadi dua :
- Akhlak kepada khalik (Zainuddin, 1999: 78)
1.
Aqidah (keimanan)
Dasar pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah akidah
yang benar terhadap alam dan kehidupan, karena akhlak tersarikan dari akidah
dan pancaran darinya. (Mahmud, 2004:84).
Akidah seseorang akan
benar dan lurus jika kepercayaan dan keyakinannya kepada Allah juga lurus dan
benar. (Mahmud, 2004:84).
Pilar-pilar tersebut di atas merupakan
syarat keimanan seseorang terhadap Allah. Karena Aqidah merupakan landasan
pokok pendidikan akhlak, maka seyogyanyalah di setiap sekolah hendaknya
diajarkan bagaimana seharusnya anak didik beriman dan bertaqwa kepada Allah.
Adapun yang dapat menyempurnakan akidah
yang benar terhadap Allah adalah berakidah benar terhadap
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir (qiamat) .
(Mahmud, 2004:84).
2. Ibadah
Dalam pedoman hidup Islami warga muhammadiyah yang
diterbitkan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur halaman 66 disebutkan
bahwa :
Setiap warga Muhammadiyah dituntut untuk senantiasa
membersihkan jiwa/hati kearah terbentuknya pribadi yang muttaqin dengan
beribadah yang tekun dan menjauhkan diri dari jiwa/ nafsu yang buruk (para
remaja khususnya), sehingga terpancar kepribadian yang shalih yang menghadirkan
kedamaian dan kemanfaatan bagi diri dan sesamanya.
Dari uraian di atas
dapat kita pahami bahwa landasan Ibadah peserta didik benar-benar diperhatikan
oleh pihak sekolah untuk membentuk pribadi yang muttaqin.
3. Taqdir
Diantara akhlak kepada
Allah yang harus kita laksanakan adalah percaya akan taqdir. Diantara
sifat-sifat tersebut adalah sabar : tahan menderita dan menerima cobaan dengan
ridla hati serta menyerahkan diri kepada Allah setelah berusaha.(Zainuddin,
1999:87). Kemudian selain itu adalah syukur : mengakui kebaikan terhadap apa
yang terjadi/ diterima seseorang. (Zainuddin, 1999:88). Selain itu adalah
tawadhu : sikap merendahkan diri terhadap ketentuan-ketentuan Allah SWT.
(Zainuddin, 1999:89).
Dari beberpa istilah
di atas dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan taqdir adalah kita
harus menerima dengan lapang dada dengan apa yang Allah berikan kepada kita.
- Akhlak kepada mahkluk yang terbagi :
1. Akhlak terhadap Rasulullah
Akhlak kepada
Rasulullah adalah taat dan cinta kepadanya. (Zainuddin, 1999:92). Dalam
pembahasan ini penulis membagi menjadi 2 secara garis besar, yaitu :
a) Sholawat
Sholawat atas Nabi Muhammad SAW bertujuan
untuk memuliakan Nabi Muhammad SAW dan sebagai bukti kecintaan kepada beliau.(
Zainuddin, 1999:194).
Dari paparan di atas dapat kita pahami bahwasanya
sholawat seseorang adalah bukti dia mencintai Rasulullah.
b) Meneladani Rasulullah
Setiap orang Muhammadiyah dituntut
untuk meneladani perilaku Nabi SAW dalam mempraktekkan akhlak mulia sehingga
menjadi uswah hasanah yang diteladani oleh sesama berupa sifat Siddiq, amanah,
tabligh, fathanah. (PWM, 2001:63).
Dari paparan tersebut di atas dapat
kita pahami bahwa keinginan pihak sekolah untuk membuat anak selalu meneladani
Rasulullah benar-benar menjadi tujuan utama.
2. Akhlak
terhadap Kedua Orang Tua
a) Berbicara
Adalah kewajiban
anank-anak mendengarkan dengan baik ketika orang tua berbicara kepadanya.
(Ibrahim, 1994:115). Mendengarkan nasehat orang tua adalah wajib, apalagi
nasehat tersebut memang benar-benar untuk kebaikan.
Seorang anak juga
tidak boleh memotong pembicaraan orang tuanya, membantah apalagi membentak
keduanya. (Ibrahim, 1994:116).
Dari paparan di atas
dapat kita pahami bahwa seorang anak hendaknya berbicara yang baik dengan kedua
orang tuanya.
b) Tingkah Laku
Mencerca tua adalah
dosa besar. Seorang anak juga harus menghindari mencerca orang tua seseorang,
agar ia tidak mencerca orang tuanya. (Ibrahim, 1994:117).
Dalam kehidupan
sehari-hari hendaknya kita benar-benar memperhatikan tingkah laku kita denga
orang tua. Paparan di atas menjelaskan kepada kita bahwa kita bisa mengejek
orang tua kita hanya dengan mengejek orang tua orang lain.
Meskipun ada
ketidaksepakatan antara seorang anak dengan orang tuanya, dia tidak boleh
mengucapkan kata-kata yang mengandung kemarahan atau membuat gerakan-gerakan
yang akan menyakiti hati ibu atau ayahnya.(Ibrahim, 1994:117).
Dari ulasan di atas
dapat kita pahami bahwa bagaimanapun salahnya orang tua kita, kita tetap harus
menghormatinya.
c) Mendoakan
Salah satu kewajiban
seorang anak kepada orang tuanya adalah mendoakan keduanya ketika keduanya
sudah meninggal serta memohon rahmat dan ampunan bagi
mereka.(Zainuddin,1999:95).
Mendoakan orang tua
adalah satu kewajiban diantara beberapa kewajiban yang lain. Mendoakan orang
tua adalah sebagian dari tanda-tanda anak saleh.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah penulis membaca, mengetahui dan memahami isi pokok tentang
makalah di atas maka dapat diambil kesimpulkan bahwa :
1.
Moral artinya tingkah laku, perangai, tabiat, watak, moral
etika atau budi pekerti. (Zainuddin,1999:73).
2.
Istilah moral adalah sebuah sistem yang lengkap yang
terdiri dari karakteristik-karakteristik akal atau tingkah laku yang membuat
sesorang menjadi istimewa.(Mahmud, 2004: 27).
3.
Anak kandung mempunyai kewajiban kepada kedua orang tuanya
untuk berbuat kebajikan kepada keduanya.
4.
Anak kandung mempunyai kewajiban mendoakan kedua orang
tuanya baik ketika beliau masih hidup atau meninggal.
B. Saran
Saya sebagai
penulis makalah ini berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi semua penuntut
ilmu pengetahuan di masa yang akan datang. Karena keterbatasan pengetahuan
penulis akan isi makalah ini maka saran dan kritikan selalu diharapakan dari
pembaca makalah ini.
Hanya kepada Allah SWT segala kebutuhan
penulis serahkan setelah berikhtiar dengan baik dan berdoa kepada-Nya.
DAFTAR
PUSTAKA
Asmaran.
2002. Pengantar Studi Akhlak Edisi Revisi.
Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Depag RI.
1971. Musyhaf Al-qur’an dan Terjemahnya. Surabaya: Mahkota.
...................., 2004. Aqidah
Akhlaq. Surabaya:
Media Ilmu dan JP. Press.
Depdikbud.
1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Kafie,
Jamaluddin. 1988. Pengantar Ilmu Dakwah. Surabaya: Karunia.
0 komentar:
Posting Komentar