PEMUDA ISLAM;
ANTARA HARAPAN DAN TANTANGAN
Diajukan
Untuk Memenuhi Tugas Penulisan Makalah
Mata
Kuliah Pengantar Ilmu Sosial Dasar

![]() |
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM ALKHAIRAT PAMEKASAN
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
JUNI 2008
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahiem.
Segala puji bagi Allah SWT, yang telah
melindungi kami sebagai makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna dibandingkan
makhluk ciptaan yang lain, dengan akal pikiran yang telah dikaruniakan. Dengan
ridha dan rahmat-Nya kami mampu dan sempat merampungkan – menulis makalah
dengan judul “Pemuda Islam; Antara Harapan dan Tantangan“, sebagaimana
pembaca kaji pada kali ini.
Shalawat dan salam semoga tetap
terlimpahkan kepada Rasulullah SAW, berkat jasa beliau, kami diangkat dari alam
kegelapan menuju alam yang terang benderang seperti saat ini, serta tidak
tersesat untuk bertahan hidup sesuai tuntunan ajaran Islam.
Terselesainya penulisan makalah ini berkat bantuan dari berbagai
pihak, oleh karenanya penulis ucapkan terima kasih atas segala bantuan yang
berupa bimbingan, saran, serta doa, semoga Allah SWT, membalas amal baiknya,.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan
kepada:
- Ketua STAI Alkhairat Pamekasan RKH. Abdul AM. Yang telah menyediakan wadah intelektualitas dan izin dalam penyelesaian makalah ini.
- Dekan Fakultas Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Alkhairat Pamekasan Drs. Abdul Muin, M. Pd.
- Ayah-bundaku yang telah mengasuh mendidikku hingga dewasa.
- Para dosen yang telah memberikan motivasi wawasan keilmuan, sehingga makalah ini tersusun dengan baik.
Dalam penyusunan makalah ini
penulis menyadari bahwa masih ada kelemahan-kelemahan yang perlu dibenahi. Oleh
karenanya, kritik dan saran sangat penulis harapkan sempurnanya penyusunan
makalah selanjutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis dan pembaca demi
terciptanya tenaga edukatif yang berkualitas dan kompeten.
Pamekasan, 16 Juni 2008
Penulis,
HABIBULLAH
DAFTAR ISI
Halaman
Judul………………………………………………………………… i
Kata
Pengantar………………………………………………………………… ii
BAB I : Pendahuluan
A.
Latar Belakang ………………………………………… 1
B.
Rumusan Masalah……………………………………… 1
C.
Tujuan………………………………………………… 2
D.
Ruang Lingkup…………………………………………. 2
BAB II : Pembahasan
A.
Hakikat Eksistensi Pemuda……………………………. 4
B.
Peranan Orang Tua dan Pendidik yang Cukup
Mendukung…………………………………………….
5
C.
Pemuda Islam Adalah Pemuda yang Berilmu
Pengetahuan……………………………………………6
Daftar Pustaka
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kalau kita berbicara masalah remaja, berarti kita harus meninjau
berbagai aspek yang menyangkut kehidupan mereka, baik yang bersifat individu
maupun sosial. Sehingga jelas bagi kita bahwa semua apa yang sebenarnya terjadi pada para pemuda saat ini. Adalah
koleksi pokok masalah yang sedang memanas saat ini, diakibatkan oleh timbulnya
gejolak sosial yang pemeran utamanya adalah pemuda.
Begitu juga pemuda seandainya sebelum mereka tumbuh dewasa sudah
dididik dengan berbagai ilmu pengetahuan
agama sehingga tertanam akidah yang kokoh, dan. bagaimana dengan pemuda jaman sekarang?, sedangkan negara kita memerlukan
pemuda yang bijaksana
dan mampu memelihara diri (Hafidzun Linafsihi Ma’a Ghairihi or Can to
Give Silent to Him Self and Others).
Tidak mampu bagi kita para orang tua, guru dan apapun status pranata
social kita dalam mengayomi, melayani,
mengendalikan extra super egoisme kecenderungan para remaja detik ini,
tanpa pembenahan pembenahan sejak dini dari kita para orang tua, guru,
kendatipun langkah langkah tersebut belum mampu menjamin keberhasilannya dalam
mengayomi extra egoisme mereka.
B. Rumusan Masalah
Penulisan makalah ini menggunakan rumusan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana upaya orang tua, guru, dan pemerhati sikap kepribadian para
remaja sekaligus mengayomi sikap super extra egoisme mereka yang
selalu
berfikir keras dan bertindak spontan sesuai nalar fikir yang ada
pada
diri mereka di jaman yang serba instan
kali ini ?
2. Sejauhmana upaya orang tua, guru, dan pemerhati sikap
kepribadian
para remaja sekaligus mengayomi sikap super extra egoisme mereka
yang selalu berfikir keras dan
bertindak spontan sesuai nalar fikir yang
ada pada diri mereka di jaman
yang serba instan kali ini ?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini
adalah sebagai berikut :pertama, ingin mengetahui bagaimana upaya orang
tua, guru, dan pemerhati sikap kepribadian para
remaja sekaligus mengayomi sikap super extra egoisme mereka yang
selalu berfikir keras dan bertindak
spontan sesuai nalar fikir yang ada pada diri
mereka di jaman yang serba instan kali ini. Kedua, ingin
mengetahui Sejauhmana upaya orang
tua, guru, dan pemerhati sikap kepribadian para remaja mengayomi sikap super
extra egoisme mereka yang selalu berfikir keras dan bertindak spontan sesuai
nalar fikir yang ada pada diri mereka
di jaman yang serba instan kali ini.
D.
Ruang Lingkup
Mengingat permasalahan remaja itu sangat
kompleks, maka penulis akan membatasi ruang lingkup pembahasannya dengan maksud
untuk menjaga efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan dan pembahasan.
Penulisan makalah ini hanya akan menyoroti
gambaran secara global tentang upaya orang tua, guru dan para pemerhati sikap
kepribadian super extra egoisme kalangan remaja di jaman yang seba dekat,
serba cepat dan instan ini.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam perincian sebagai
berikut :
1. Perintah Alqur’an untuk memperhatikan
remaja sebagai aset
bangsa, (meminjam prinsip hidup Abu
Nawas yakni : …Urusan
pemenuhan kebutuhan dalam banyak hal
suatu bangsa/ negara;
akan berjalan mulus jika para
pemudanya ‘action/ berbuat’ demi
kejajayaan bangsanya “.
2. Alqur’an juga banyak menyaji kisah
kisah yang bertujuan untuk
dijadikan contoh dan pelajaran bagi
kalangan pemuda.
Mengetahui bagaimana pemerintah Daulah Bani
Abbasiyah mengurusi kota yang diperintahnya, Kedua, untuk memberi
informasi kepada para pengemar baca buku buku sejarah terutama sejarah
kebudayaan Islam , Ketiga,untuk memenuhi tugas dari Bapak/ Ibu guru
pembimbing.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Eksistensi Pemuda
Pemuda yang diidentikkan sebagai generasi muda penerus generasi tua
memang sangat berperan dalam kelangsungan hidup suatu bangsa. Bagaikan sebuah
pohon pisang yang baru tumbuh yang siap menggantikan induknya, apa yang akan
terjadi apabila anak pohon pisang itu sudah rusak sebelum berbuah? Sesudah
membusuk sebelum berkembang biak.
Maka kerusakan morallah yang akan
merajalela, kejahatan akan menjadi suatu yang harus ada dalam pergaulan,
terorisme akan menjadi hal yang lumrah, kebudayaan Barat yang negatif akan
menjadi kebutuhan dan makanan pokok (konsumsi pokok) , kesenangan dunia akan
menjadi tujuan utama dan masih banyak lagi kerusakan yang diakibatkan dan yang
akan timbul yang tidak bisa kita bayangkan. Maka dari itu para remaja seharusnya
mengetahui secara pasti posisi mereka dan pengaruh apa yang akan timbul dari
semua hal yang telah dilakukannya.
Sebagaimana dikatakan dalam kata mutiara
bahwa : “Para pemuda itu adalah penerus bangsa (Tunas Bangsa)”. Dan pada
masa Rasulullah SAW. Berjaya dan maju disegala bidang karena para pemuda saat
itu pemberani, berpendirian teguh, pantang untuk berputus asa, dan pantang
menyerah dalam kehidupan bagaimanapun kesulitannya yang sedang ia hadapi,
berpegang teguh pada prisip, dalam diri mereka tertanam aqidah (keyakinan) yang
kokoh, tunduk pada hukum agama, menghormati para pemimpinnya. Dan yang paling
penting adalah kemampuan untuk menadukan kemampuan berpikir dan berdzikir
mengingat asma (nama) Allah SWT. Sekarang umat Islam membutuhkan sosok para
pemuda yang mempunyai kriteria “unsur unsur dalam diri seseorang”, yang sudah
barang tentu memerlukan usaha dan keterampilan khusus.
B. Peranan Orang Tua Dan Pendidik Yang Cukup
Mendukung
Dalam kehidupan kita sehari hari para pemuda tidak pernah terlepas dari yang namanya perhatian masyarakat. Karena pemuda sering kali menjadi biang keladi kerusuhan dimana mana. Mulai dari tawuran antar pelajar, penodongan, pemerkosaan, penganiayaan sampai pembunuhan. Dan mengigat masalah ini perananan para orang tua dan para pendidik sangat dibutuhkan terutama untuk membimbing, dan mendidik mereka. Sehingga kepercayaan masyarakat terhadap para pemuda khususnya para pelajar tidak luntur sebagai pelopor kebangkitan umat.
Hal ini tidaklah mustahil akan terjadi kalau yang terlihat dari para remaja hanya perilaku yang negatif saja, maka para remaja harus mampu menonjolkan diri dan menunjukkan bahwa mereka bisa berbuat banyak untuk kebaikan umat, memang saat ini banyak kita lihat timbulnya gerakan gerakan ataupun perkumpulan para remaja yang mampu mempengaruhi arus budaya dan situasi ditengah tengah masyarakat. Untuk dapat mewujudkan semua itu harus dimulai dari dorongan orang tua dan para pendidik karena ini merupakan tugas mereka untuk melahirkan pemuda yang sanggup berbicara banyak dalam menjawab semua tantangan yang jaman.
Tugas ini harus dilaksanakan sejak dini sebelum remaja tumbuh berkembang menjadi orang yang lebih dewasa. Karena realita telah banyak membuktikan bahwa kebanyakan pemuda (Remaja) yang menjadi profokator sebuah kekacauan adalah anak remaja yang kurang mendapatkan perhatian dari orang tua mereka, dengan kata lain orang tualah yang akan menentukan kehidupan anak anaknya di masa depan.
C. Pemuda Islam Adalah Pemuda yang Berilmu Pengetahuan
Dalam
Al-Qur’an banyak kita temukan anjuran agar manusia senantiasa mempergunakan
akalnya untuk berfikir dan merenungi ciptaan Allah Swt. Baik itu berupa
perintah ataupun pernyataan “mengimbau/ menyeru”, seperti ungkapan Afalaa
tubsiruun ataupun Afalaa takkiluun. Bahkan ayat pertama yang
diturunkan oleh Allah yaitu Iqra’ tidak lepas dari koteks berpikir. Dan
sekarang kita membutuhkan pemuda yang mampu memadukan antara kemampu berpkir
dan berdzikir, sehingga segala sesuatu yang terjadi bisa dikembalikan kepada
Tuhan Pencipta.
Pemuda yang mempunyai kemampuan untuk
berpikir sekaligus berdzikir merupakan modal utama untuk membangun masyarakat
yang dinamis (kreatif-berkembang-inofatif) penuh daya tarik religius sebagai
suatu alternatif untuk menjawab segala tantangan jaman yang semakin komplit.
Agar keduanya terjalin keseimbangan perlu dipupuk dan
dikembangkan sejak dini, sehingga nantinya para pemuda bisa menjadi seorang
cendikiawan muslim yang berwawasan ilmu pengetahuan luas. Yang perlu kita
sadari bahwa mayoritas cendikiawan muslim sekarang dalam banyak hal masih
mengutip pemikir Islam terdahulu. Mereka belum sepenuhnya mampu untuk
melahirkan pemikiran baru tentang islam demi untuk memberikan corak warna bagi
kehidupan umat. Ini merupakan tantangan bagi kita selaku pemuda penerus bangsa
dan agama untuk bisa menambal kekurangan para senior mereka.
Mengenai apa pengertian ululalbab dan bagaimana ciri
ciri mereka marilah kita telaah Firman Allah Swt yang artinya: “Allah
memberikan hikmah kepada siapapun yang dikehendakinya dan barang siapa diberi
hikamah sungguh diberi kebajikan yang banyak, dan tidak ada yang dapat
mengambil kebajikan tersebut kecuali Ululalbab”.
Dari arti ayat ini bisa kita simpulakan bahwa Ulul Albab
adalah kelompok manusia yang di beri keistimewaan oleh Allah dan di antara
keistimewaannya tersebut ialah mereka yang diberi hikmah, kebajikan dan
pengetahuan yang luas. Dari arti ayat di atas bisa menyimpulkan bahwa ciri-ciri
Ulul Albab (ahli berfikir kreatif dan konseptor) itu adalah sebagai
berikut :
1.
Bersungguh-sungguh dalam mencari Ilmu Pengetahuan
2.
Mampu memisahkan yang jelek dari yang baik kemudian
mengambil yang baik.
3.
Keritis dalam mendengarkan pembicaraan dan pandai dalam
menimbang-nimbang.
4.
Mau mengamalkan ilmunya kepada orang lain untuk
memperbaiki masyarakat.
5.
Tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah SWT,
inilah sebagai
sumbangan pemikiran untuk generasi yang akan datang. Mudah-mudahan makalah ini
bisa mendatangkan manfaat untuk kebangkitan umat Islam kedepan. Dengan disertai
permohonan kepada
Allah
SWT semoga membimbing kita kejalan yang lurus karena kita adalah tunas bangsa
dan kehidupan bangsa Indonesia kedepan ada ditangan kita.
DAFTAR PUSTAKA
Faisal,
Sanapiah. 1982. Metodelogi Penelitian Pendidikan. Surabaya Usaha
Nasional
Nasution,
Noehi, 1995. Psikologi Pendidikan, Direktorat Jenderal Pembinaan
Kelembagaan Agama Islam
Hadi,
Sutrisno, 1987 Statistik 2. Yogyakarta, Yayasan Penerbit Fakultas
Psikologi UGM
Poerwadarminta, 1984. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta
Balai Pustaka
Partanto, Pius Dkk, 1994. Kamus Ilmiah Populer, Surabaya. Balai
Pustaka
Solichan, Abdullah, 2006 Penilaian Berbasis Kelas. LPMP Jawa
Timur.
Rahman Dhahiri, Taufiq. 2002 Panduan Belajar Sosiologi. Bogor.
Yudhistira.
Khair,
Maftuhatul. 2006. Peranan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pendidikan Agama
Islam. Skripsi. Pamekasan.

0 komentar:
Posting Komentar