PENILAIAN BERBASIS KELAS
DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA
KELAS IV DAN V MADRASAH IBTIDAIYAH (MI)

MAKALAH
Diajukan Sebagai Salah Tugas Penulisan Makalah Mata Kuliah Psikologi Pendidikan Yang Dibina Oleh Dosen Pengampu Bapak Achmad Sujono, S.Pd












 








Oleh :

ALI WAHDI






FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
SEKOLAH TINGGI ILMU PENDIDIKAN (STIP) PGRI SUMENEP
2009
DAFTAR ISI


Halaman Depan…………………………………………………………………………………. i
Daftar Isi…………………………………………………………………………………………..ii
BAB I       : PENDAHULUAN
                    A. Latar Belakang Masalah…………………………………………………….. 1
                   B. Rumusan Masalah…………………………………………………………… 3
                   C. Tujuan Penulisan……………………………………………………………...3
BAB II     : DEFINISI OPERASIONAL
                   A. Tinjauan Tentang Penilaian Berbasis Kelas……………………………….4
                   B. Tinjauan Tentang Motivasi Belajar……………………………….………  10
BAB III    : PENUTUP
                    A. KESIMPULAN……………………………………………………………….16
                   B. SARAN……………………………………………………………………….17
DAFTAR PUSTAKA








BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Penilaian merupakan salah satu komponen kurikulum, keberadaannya memegang peranan penting dalam proses pembelajaran, dengan penilaian akan diketahui kelemahan-kelemahan sistem pembelajaran yang dijadikan acuan, sehingga ada upaya untuk menyempurnakan, mengembangkan bahkan diadakan perubahan terhadap sistem pembelajaran.
Seiring dengan adanya penyempurnaan, pengembangan serta perubahan pada kurikulum pendidikan Nasional yaitu dari kurikulum 1968 ke kurikulum 1975,  kurikulum 1975 yang disempurnakan kemudian lahir undang-undang No 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kurikulum disempurnakan lagi menjadi kurikulum 1994 sampai pada suplemen kurikulum 1999 (Fuaduddin, dkk, 1995:33). Upaya pengembangan kurikulum masih dilakukan oleh pemeringahm dengan lahirnya undang-undang No 20 tahun 2003 tangang Sistem Pendidikan Nasional kemudian lahir pula kurikulum berbasis kompetensi (KBK 2004).
Pada tahun 2006 ini melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2006 tentang Standard Isi Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Nomor 23 Tentang Standard Kelulusan Pendidikan Dasar dan Menengah, Nomor 24 Tentang Pelaksanaan Peraturan Pendidikan Nasional Nomor 22 dan nomor 23, Pemerintah memberikan Otonomi yang lebih luas kepada masing-masing Satuan Pendidikan untuk membuat dan menetapkan Kurikulum sendiri yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau disebut juga KTSP, (Muhaimin 2006:36)
Sebagai konsekuensi dari pengembangan kurikulum tersebut di atas maka lahirlah istilah baru dalam penilaian pembelajaran yaitu penilaian berbasis kelas atau yang lebih populer disebut Classroom Based Assessment.
Penilaian berbasis kelas adalah: suatu proses pengumpulan data, pelaporan dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa yang dilakukan dengan cara pengumpulan kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance) dan tes tulis (paper and pencil)” (DEPAG, 2005:9), “adapun prinsip-prinsip pelaksanaan penilaian berbasis kelas adalah sebagai berikut: valid, mendidik, berorientasi pada kompetensi, adil, terbuka, berkesinambungan, menyeluruh dan  bermakna” (Abdullah, 2006:1)
“Penilaian Berbasis Kelas dilaksanakan secara terpadu dengan proses pembelajaran di kelas dengan mengacu pada tiga ranah yaitu: pengetahuan (kognitf), sikap (efektif) dan keterampilan psikomotorik” (DEPAG 2005:15). Tiga ranah yang dimiliki siswa barus dinilai secara proporsional sesuai dengan sifat mata pelajaran yang diajarkan, dengan demikian penilaian berbasis kelas merupakan wewenang dan tanggung jawab guru, karena guru perancang dan fasilitator dalam pembelajaran, dia yang banyak mengetahui tentang kondisi dan potensi individu di dalam kelas, hal ini merupakan salah satu keunggulan penilaian berbasis kelas.
 Penilaian berbasis kelas termasuk sistem penilaian yang diyakini oleh para praktisi pendidikan sebagai penilaian yang paling komprehensif dan validitas data dapat dipertanggungjawabkan, oleh karenanya pelaksanaan penilaian berbasis kelas ini berkelanjutan, terbuka bahkan melibatkan peran serta orang tua siswa, sehingga akurasi data dapat dipertanggungjawabkan kepada sekolah, orang tua siswa dan komite sekolah.
Bedasarkan pengamatan penulis Penilaian berbasis Kelas secara teori memang sudah dicerna dan dipahami oleh para tenaga edukatif, namun pada tataran prakteknya sulit dilakukan, hal ini disebabkan oleh kapasitas pemahaman tenaga edukatif terhadap penilaian berbasis kelas belum secara utuh, sehingga apabila dipraktekkan di kelas menemukan kendala yang perlu dipecahkan, untuk itu sangat perlu mengadakan pemahaman ulang dengan cara membangun pemahaman yang lebih mantap tentang penilaian berbasis kelas tersebut.
“Penilaian Berbasis Kelas merupakan fenomena baru dalam dunia Pendidikan Nasional yang direaktualisasikan dan menjadi polemik di berbagai forum ilmiah”. Muhaimin. M 2006 Desember. KTSP Wujud Otonomi sekolah mpa hlm 36. Upaya sosialisasi banyak dilakukan, namun masih banyak kelemahan-kelemahan pada tataran prakteknya. Berangkat dari fenomena tersebut penulis merasa perlu untuk meneliti dan menguji seberapa jauh konstribusi penilaian berbasis kelas terhadap motivasi belajar siswa kelas IV dan V MI.
Dari berbagai pemahaman dalam latar belakang di atas penulis merumuskan judul dalam penelitian ini “Penilaian Berbasis Kelas Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas IV dan V MI”.

B.      Rumusan Masalah
Dengan mengacu pada latar belakang yang telah penulis paparkan di atas, maka dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
  1. Bagaimanakah pengukuran yang baku terhadap beberapa aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam kompetensi dengan menggunakan indikator yang ditetapkan guru dalam aplikasi Penilaian Berbasis Kelas sehingga mampu meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IV dan V MI ?
  2. Bagaimanakah Prinsip-Prinsip Penilaian Berbasis Kelas (PBK) untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas IV dan V MI ?

C.      Tujuan Penulisan
“Segala aktivitas ilmiah yang di lakukan harus melalui proses tahapan yaitu tahun perencanaan, keorganisasian serta tujuan yang hendak dicapai, hal ini dimaksudkan agar aktivitas tersebut terarah pada koridor serta norma-norma dasarnya”. (Dhahiri dkk, 2002:23). Begitu juga dengan penulisan ini Sutrisno Hadi (1990:03) menjelaskan bahwa “suatu research khusunya dalam ilmu pengetahuan empiris pada umumnya bertujuan menemukan, pengembangan atau menguji suatu kebenaran ilmu pengetahuan”.
Bertitik tolah dari pendapat Sutrisno Hadi di atas dan berlandaskan kepada rumusan masalah yang telah penulis deskripsikan sebelumnya, maka tujuan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui Bagaimanakah pengukuran yang baku terhadap beberapa aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam kompetensi dengan menggunakan indikator yang ditetapkan guru dalam aplikasi Penilaian Berbasis Kelas sehingga mampu meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IV dan V MI.
  2. Untuk mengetahui Bagaimanakah Prinsip-Prinsip Penilaian Berbasis Kelas (PBK) untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas IV dan V MI.

BAB II
DEFINISI OPERASIONAL

A.      TINJAUAN TENTANG PENILAIAN BERBASIS KELAS
  1. Pengertian Penilaian Berbasis Kelas (PBK)
Evaluasi atau yang lebih umum di sebut penilaian merupakan salah satu faktor penting dalam pembelajaran, posisinya setara dengan penetapan tujuan pembelajaran, sebab pencapaian kompetensi dan efektifitas belajar mengajar jika dilakukan penilaian. Dalam melakukan penilaian lasimnya didahului oleh kegiatan pengukuran, karena itu untuk memperoleh pengukuran yang benar, kegiatan pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan alat ukur yang akurat (valid) dan terpercaya. Dalam dunia pendidikan istilah penilaian dengan pengukuran sangat erat kaitannya artinya penilaian dan pengukuran merupakan dua kegiatan yang tidak dapat dipisahkan.
Menurut Arikunto (2003:3) mengukur adalah “membandingkan sesuatu dengan suatu ukuran yang bersifat kuantitatif, menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuau dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif”.
Menurut Cronbach dan Stufleben (Arikunto, 2003:3) “evaluasi bukan sekedar mengukur sejauh mana tujuan tercapai, tetapi digunakan untuk mengambil keputusan”.
Penilaian adalah “merupakan alat kontrol terhadap penyelenggaraan pendidikan di suatu kelas atau suatu tingkatan pendidikan yang dilakukan melalui penilaian fomatif, penilaian sumatif, penilaian diagnostic dan penilaian penempatan” (D.I Imam, 1981:17)
Stok memberikan pemahaman tentang beberapa istilah yang erat hubungannya dengan evaluasi yaitu assessment, apraisal dan penilaian. Assessment biasanya dihubungkan dengan kemampuan seseorang tentang kecerdasan, keterampilan, kecepatan dan ketepatan. Apraisal yaitu pernyataan yang tidak dinyatakan dengan angka, karena di dalamnya terdapat unsur pertimbangan. Sedangkan penilaian suatu proses dimana informasi dan pertimbang diolah untuk mengambil suatu keputusan   (Nasution, 1999:6)
Menurut Ridwan (Depdiknas 2004:17) penilaian adalah “proses untuk mengetahui perkembangan, kemampuan keupayaan dan pencapaian peserta didik”.
Dalam undang-undang Republik Indonesia, Nomor: 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggung jawaban penyelenggara pendidikan” (Undang-undang No.20, 2003:5)
Dalam Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia nomor 19 tahun 2005 tentang standard nasional pendidikan. Penilaian adalah “proses pengumpulan dan pengeloaan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik” (PPRI, 2005:4)
Dari beberapa teori yang telah diuraikan di atas dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan penilaian adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dengan cara mengumpulkan dan mengolah infomasi untuk menentukan pencapaian siswa terhadap tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Berangkat dari teori tentang penilaian di atas penulis dapat memformulasi tentang definisi PBKsebagai berikut:
“PBK terdiri dari tiga kata yaitu penilaian, basis dan kelas penilaian berarti mengambil keputusan tentang sesuatu” (Arikunto, 2003:3) basis berarti  “pokok atau pangkalan” (Portato, 1994:68), sedangkan kelas berarti tingkatan atau golongan. Jadi PBK adalah penilaian yang dilakukan guru yang terintegrasi dengan proses pembelajaran dikelas dan mengacu pada kriteria atau patokan di kelas masing-masing.(Depag RI, 2005:14)
PBK adalah suatu proses pengumpulan, pelaporan dan pengguna informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian berkelanjutan, otentik, akurat dan konsisten dalam kegiatan pembelajaran di bawah kewenangan guru di kelas. PBK mengidentifikasi pencapaian kompetensi dan hasil belajar yang dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai disertai dengan peta kemajuan belajar siswa dan pelaporan (Depag RI, 2005:9)
Menurut Abdullah (2006:1) “PBK penilaian yang dilaksanakan terpadu dengan pembelajaran melalui pengumpula kerja siswa (portofolio), hasil kerja (produk) penugasan (proyek) kinerja (performance) dan tes hasil (paper and pencil test)”.
PBK adalah penilaian yang dilakukan oleh guru dalam rangka proses pembelajaran. PBK merupakan proses pengumpulan dan pengguna informasi dan hasil belajar peserta didik terhadap tujuan pendidikan yang telah ditetapkah, yaitu standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator pencapaian belajar yang terdapat dalam kurikulum. (Surapranata dkk, 2006:5)
Menurut Safari (2004:8) “PBK merupakan suatu proses pengumpulan pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian berkelanjutan, bukti-bukti otentik, akurat dan konsisten sebagai akuntabilitas publik. Tujuannya untuk memberikan penghargaan terhadap pencapaian belajar siswa dan memperbaiki program dan kegiatan pembelajaran. Fungsinya untuk meningkatkan kualitas siswa dan guru terhadap pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan.
PBK merupakan suatu proses pengumpulan, pelaporan dan penggunaan informasi oleh guru untuk pemberian nilai terhadap proses dan hasil belajar siswa berdasarkan tahapan kemajuan belajarnya sehingga didapatkan potret/ profil kemajuan secara utuh sesuai dengan kompetensi yang diterapkan dalam kurikulum. PBK dapat dilaksanakan di dalam kelas maupun di luar kelas, internal maupun eksternal yang mengacu pada pendekatan Penilaian Acuan Kriteria (PAK) (Dekdikbud Jatim, 2003:1-2).
“PBK merupakan umpan balik mengenai kemampuan dan kekurangan siswa sehingga menumbuhkan motivasi untuk memperbaiki belajarnya”. (Depag RI , 2005:11)
Yamin (2005:145) menggunakan PBK dengan istilah Pengujian Berbasis Kompetensi maksudnya adalah “pengukuran yang baku terhadap beberapa aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam kompetensi dengan menggunakan indikator yang ditetapkan guru”.
PBK adalah suatu bentuk kegiatan belajar mengajar (KBM) yang terfokus pada penilaian program-program Kegiatan Belajar Mengajar di kelas yang meliputi guru dan peserta didik dalam memonitor hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan yang didasarkan pada dua pertanyaan, bagaimana peserta didik memperoleh hasil belajar lebih tinggi? Dan bagaimana guru mengajar lebih efektif (Depag RI, 2003:1)
PBK merupakan kegiatan integral dalam proses pembelajaran yang dilakukan sebagai proses pengumpulan data pemanfaatan informasi yang menyeluruh tentang hasil belajar yang diperoleh siswa untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan kompetensi seperti yang ditentukan dalam kurikulum dan sebagai umpan balik perbaikan proses pembelajaran (Sanjaya, 2005:184)
“PBK dilakukan dengan ulangan harian, ulangan umum, dan ujian akhir” (Mulyasa, 103)
Jadi PBKadalah suatu proses kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan cara mengumpulkan, melaporkan dan menggunakan informasi tentang hasil belajar siswa untuk menentukan tingkat pencapaian terhadap standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum melalui tes: portofolio, produk, proyek, kinerja dan tulis. Sasarannya pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik secara seimbang, pelaksanaanya terintegrasi dengan kegiatan belajar mengajar di kelas dan berorientasi pada prinsip-prinsip pelakasanaan PBK.  
  1. Jenis-Jenis PBK
“Secara umum PBK terdiri dari ulangan harian, pemberian tugas dan ulangan dengan menggunakan berbagai jenis penilaian yaitu: tes tulis, perbuatan, pemberian tugas kinerja, proyek, produk, sikap dan portofolio” (Surapranata dkk, 2006:19)
a.     Tes Tulis
“Tes tertulis merupakan alat PBK yang penggunaanya dalam bentuk tertulis, tes tertulis dapat berbentuk pilihan ganda, menjodohkan benar salah, isian singkat dan uraian” (Surapranata dkk, 2006:19)
b.     Tes Perbuatan (performance)   
Tes perbuatan adalah “penilaian terhadap kecakapan siswa dalam melakukan sesuatu dengan tujuan pembelajaran” (Depag RI, 2003:40)
Penilaian kinerja adalah “penilaian hasil pengamatan penilaian terhadap aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran” (Dipdikbud, 2003:50)
c.     Pemeberian Tugas
Pemberian tugas diberikan untuk semua ata pelajaran dari awal kelas maupun akhir kelas sesuai dengan perkembangan siswa dengan memperhatikan banyaknya tugas, jenis dan materi pemberian tugas, tugas harus dapat mengembangkan kreativitas siswa (Surapranata dkk, 2006:19)
d.     Penilaian Proyek
“penilaian proyek dilakukan terhadap suatu tugas yang dilakukan oleh siswa secara individual maupun kelompok dalam waktu tertentu” (Depdikbud, 2003:5)
e.     Penilaian Produk
Penilaian produk adalah “penilaian terhadap penguasaan keterampilan peserta didik dalam membuat suatu produk dan penilaian kualitas hasil kerja tertentu. Ada dua konsep penilaian yaitu: pemilihan cara menggunakan alat dan prosedur kerja, kualitas teknis maupun estetika suatu karya” (Surapranata dkk, 2006:20)
f.       Penilaian Sikap
Penilaian sikap adalah “upaya sistematik dan sistemik untuk mengukur dan menilai perkembangan siswa sebagai hasil dari proses pembelajaran yang telah dijalaninya” (Depag RI, 2003:51). Menurut Surapranata (2006:21) aspek sikap yang dinilai adalah:
1)     Sikap terhadap mata pelajaran
2)     Sikap terhadap guru mata pelajaran
3)     Sikap terhadap proses pembelajaran
4)     Sikap terhadap nilai-nilai yang ingin ditanamkan dalam diri peserta didik.
Menurut Surapranata (2006:21) “Penilaian sikap dapat dilakukan dengan cara observasi, pertanyaan langsung, laporan pribadi dan penggunaan skala sikap”
g.     Penilaian Portofolio 
Penilaian portofolio merupakan penilaian terhadap sekumpulan karya peserta didik yang secara sistematis dan terorganisasi yang diambil selama pembelajaran dalam kurun waktu  tertentu yang digunakan guru dan peserta didik untuk memantau perkembangan, pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik di dalam mata pelajaran tertentu (Surapranata dkk, 2006:21)
Portofolio adalah “suatu kumpulan atau berkas bahan pilihan yang dapat memberikan informasi bagi suatu penilaian kinerja yang obyektif” (Depag RI, 2003:94)
Penilaian portofolio adalah “penilaian yang didasarkan pada kumpulan hasil karya yang representatif, tersusun sistematis yang menunjukkan dan membuktikan upaya belajar, proses belajar, hasil belajar dan kemampuan dalam waktu tertentu” (Depdikbud, 2003:4)
  1. Prinsip-Prinsip PBK
Menurut Surapranata dkk (2006:8) ada delapan prinsip yang mendasari pelaksanaan PBKyaitu:
a.       PBK hendaknya dipandang sebagai upaya untuk mengenal kekuatan dan kelemahan yang dimiliki guru maupun peserta didik. Penilaian semacam ini akan lebih memberikan motivasi terhadap peserta didik maupun guru. Peserta didik yang berprestasi harus dipacu terus agar prestasinya bertahan sedangkan peserta didik yang kurang baik prestasinya harus diberi motivasi agar prestasinya meningkat.
b.       Validitas
PBK harus menjamin tercapainya Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator yang telah ditetapkan dalam kurikulum, maka PBK harus ada kesesuaian dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
c.       Adil
PBK menekankan pada perlakuan yang adil pada peserta didik, artinya peserta didik harus mendapat kesempatan yang sama untuk dinilai tanpa membedakan latar belakang sosial ekonomi, budaya, agama, bahasa dan jenis kelamin.
d.       Terbuka
PBK menekankan pada keterbukaan kepada semua pihak baik guru, peserta didik, maupun kepada orang tua peserta didik.
e.       Berkesinambungan
PBK harus dilakukan secara terus menerus dari waktu ke waktu untuk mengetahui secara utuh perkembangan kemampuan peserta didik.
f.         Bermakna
PBK harus memberikan makna yang signifikan bagi semua pihak terutama guru, peserta didik ataupun orang tua sehingga mudah ditindak lanjuti.
g.       Menyeluruh
PBK dilakukan dengan berbagai teknik dan prosedur untuk menjamin tersedianya informasi yang utuh dan lengkap dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
h.       Edukatif
Pada dasarnya PBK  tidak dimaksudkan untuk memberikan keputusan akhir tentang peserta didik, tetapi dalam rangka untuk membantu peserta didik dalam mencapai standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.

B.      TINJAUN TENTANG MOTIVASI BELAJAR
  1. Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari kata motif yang diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu (Uno, 2007:3)
Motivasi atau motif adalah “segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu” (Purwanto, 1990:60)
Motivasi berarti “dorongan (dengan sokongan moril, alasan, dorongan, tujuan tindakan”, (Partanto dkk, 1994:61). Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan (needs) seseorang, sedikitnya seseorang akan terdorong untuk melakukan sesuatu kalau merasa butuh (Purwanto, 1990:61)
Motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku (Uno, 2007:1)
Menurut Dimyati (2002:80) “motivasi merupakan merupakan kekuatan mental yang berupa keinginan, kemauan, perhatian atau cita-cita”.
“Motivasi tidak dapat diamati secara langsung tetapi dapat di interpretasikan dalam tingkah laku”(Uno, 2007:3)
Menurut Koswara, “dalam motivasi terkanduang adanya keinginan yang mengaktifkan menggerakkan. Menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku individu” (Dimyati, 2002:94). “motivasi merupakan salah satu faktor yang turut menentukan keefektifan pembelajaran” (Mulyasa, 2003:112)
Sehubungan dengan motivasi, Maslow menyusun suatu motivasi tentang kebutuhan manusia yang bersifat hirarkhis, dan dikelompokkan menjadi lima tingkat yaitu: physiological needs, safety needs, belonginguds need and love needs, eastern needs, and needs for self actualization (Mulyasa, 2003:112)
Mujib (2001:246) memberikn pengertian tentang motivasi yaitu, “keseluruhan dorongan, keinginan, kebutuhan dan daya sejenis yang mengarah pada sesuatu, dan diartikan juga sebagai suatu variabel penyelang yang digunakan untuk menimbulkan faktor-faktor dalam organisme yang membangkitkan mengelola, mempertahankan dan menyalurkan tingkah laku menuju satu sasaran”.
Jadi menurut konsep pemahaman di atas motivasi itu merupaka dorongan yang menimbulkan perilaku seseorang karena ada keingingan atau cita-cita yang ingin di capai.
Menurut Maslow, bahwa motivasi hidup manusia tergantung pada kebutuhannya, menurutnya ada lima kebutuhan hirarki yang dikelompokkan menjadi dua kategori, yang pertama, kebutuhan taraf dasar (basic needs) meliputi kebutuhan fisik, rasa aman dan terjamin, cinta dan ikut memiliki (sosial) dan harga diri. Kedua meta kebutuhan, meliputi apa saja yang terkandung dalam aktualisasi seperti keadilan, kebaikan, keindahan, keteraturan, kesatuan dan sebagainya (Mujib, 2001:245)
Komponen motivasi ada dua yaitu:komponen dalam (inner component) dan komponen luar (outer component). Komponen dalam merupakan kebutuhan-kebutuhan yang hendak di puaskan, sedangkan komponen luar merupakan komponen yang hendak dicapai. (Hamalik, 2004:174)
Darwis dan Newstram mengemukakan bahwa motivasi yang mempengaruhi cita-cita seseorang dalam bertingkah laku terbagi pada empat pola yaitu: pertama motivasi berprestasi (dorongan untuk mengatasi tantangan untuk maju dan berkurang), Kedua motivasi berafiliasi (dorongan untuk berhubungan dengan orang lain secara efektif), Ketiga motivasi berkompetensi (dorongan untuk mencapai hasil kerja dengan kualitas tinggi), Keempat motivasi berkekuatan (dorongan untuk mempengaruhi orang lain dan situasi) (Mujib, 2001:246)
Jadi menurut pemahaman penulis motivasi merupakan dorongan yang ditimbulkan oleh keinginan seseorang untuk mencapai suatu cita-cita atau keinginan sehingga menimbulkan perilaku yang mengarah pada pencapaian cita-cita tersebut, sejalan dengan pemahaman teori tersebut di atas, Nasution (1995:9) mengemukakan bahwa “motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu”.
Persoalan motivasi dapat dikaitkan dengan minat. Minat dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang mempunyai keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Oleh sebab itu minat dapat diartikan kecendrungan jiwa seseorang terhadap sesuatu, jelasnya minat akan selalu berkaitan dengan kebutuhan atau keinginan (Sardiman, 2003:76)
  1. Pengertian Belajar
Menurut Dimyati (2002:5) Belajar adalah “proses interaksi individu dengan lingkungannya”
Nasution mengemukakan belajar untuk memperoleh kecakapan, keterampilan yang dilalui sejak sampai akhir hayat” (Yamin, 2005:77)
Menurut Uno (2007:23) “belajar adalah perubahan tingkah laku secara relatif permanin dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktek atau penguatan untuk mencapai tujuan”.
Gogne mengatakan bahwa “belajar merupakan suatu proses di mana organ siswa berubah perilakunya diakibatkan pengalaman” (dalam Yamin, 2005:199)
Dalam psikologi pendidikan (1990:84) dikemukakan beberapa pendapat tentang pengertian belajar antara lain sebagai berikut:
a.       Hilger dan Bower mendefinisikan belajar sesuatu yang berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya.
b.       Gogne menjelaskan bahwa belajar terjadi apabila situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelumnya
c.       Morgan, “belajar adalah setiap perubahan yang reatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan dan pengalaman”
d.       Wihenington “belajar suatu perubahan di dalam kepribadian yang mengatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian”.
Motivasi belajar adalah “daya penggerak psikis dalam diri seseorang untuk dapat mengikuti kegiatan belajar yang menambah keterampilan dan pengalaman untuk mencapai tujuan” (Yamin, 2005:80)
“Motivasi belajar dapat berupa hadiah dalam belajar”(Hamalik, 1990:173)
Menurut Uno (2007:23) Hakekat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar dengan mengadakan perubahan tingkah laku yang ditunjukkan dengan indikator sebagai berikut:
a.       Adanya hasrat dan keinginan berhasil
b.       Adanya dorongan dan kebutuhn belajar.
c.       Adanya harapan dan cita-cita
d.       Adanya penghargaan.
e.       Adanya kegiatan yang menarik.
f.         Adanya lingkungan belajar yang kondusif
Dari berbagai macam pengertian tentang belajar yang dikemukakan di atas, penulis dapat menimbulkan pengertian dan ciri-ciri belajar sebagai berikut: Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu dari hasil pengalaman dalam berintraksi dengan lingkungan belajarnya, menuju pada proses kedewasaan. Adapun ciri-ciri belajar antara lain:
a.       Adanya perubahan pada tingkah laku
b.       Perubahan terjadi melalui pengalaman
c.       Perubahan relatif menetap
d.       Perubahan tersebut menyangkut aspek kepribadian baik fisik maupun psikis.
Dari beberapa konsepsi pemahaman yang dikemukanan di atas, penulis dapat mendefinisikan bahwa yang dimaksud “motivasi belajar” adalah tenaga pendorong eksternal sehingga timbul kesadaran pada dirinya bahwa belajar itu merupakan kebutuhan dasar yang harus dialami dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
  1. Macam-Macam Motivasi Belajar
Menurut Wort-Wort (dalam Purwanto, 1996:64) motivasi itu dibagi atas tiga golongan:
a.       Kebutuhan-kebutuhan organisme yakni motivasi yang berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan bagian dalam dari tubuh seperti lapar, haus, kekurang zat pembakar, kebutuhan bergerak dan sebagainya.
b.       Motivasi yang timbul sekonyong-konyong (emergency motives) ialah motivasi yang timbul jika motivasi menuntut timbulnya kegiatan yang cepat dan kuat dari kita. Contoh ketika kita sedang belajar ada teriakan minta tolong, seketika itu kita akan keluar rumah melakukan sesuatu.
c.       Motivasi objektif ialah motivasi yang diarahkan ke suatu objek atau tujuan tertentu di sekitar kita. Contoh motivasi menyelidiki sesuatu.
Dari macam-macam motivasi yang disampaikan oleh Wood Worth dapat penulis memberikan komentar bahwa emegency motives dan objektif motives ada ketergantungan pada hubungan individu dengan lingkungannya.
Menurut Yamin (2005:85) motivasi belajar dibagi menjadi dua yaitu:
1)       Motivasi ekstrinsik yaitu: motivasi atau dorongan yang datang dari luar individu. Contoh lingkungan keluarga, situasi dan sebagainya.
Menurut Winkel (Yamin, 2005:85) bentuk motifasi belajar ekstrinsik ada enam yaitu:
a)     Belajar demi memenuhi kebutuhan
b)     Belajar demi menghindari lingkungan yang diancamkan
c)     Belajar demi memperoleh hadiah material
d)     Belajar demi meningkatkan gengsi
e)     Belajar demi memperoleh pujian dari orang lain
f)       Belajar demi tuntutan jabatan yang ingin diraih
2)       Motivasi instrinsik yaitu motivasi atau dorongan yang datang dari dalam individu. Contoh belajar ingin meraih cita-cita.
                   Salah satu cara untuk meningkatkan motivasi belajar siswa adalah menggunakan nilai ulangan sebagai pemacu keberhasilan (Uno, 2007:34)
                   Menurut hemat penulis kedua motivasi tersebut di atas tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain, artinya keduanya sama-sama berpengaruh pada diri individu.
  1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Menurut Dimyati dkk (2002:96) faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar di bagi menjadi enam bagian:
a.       Cita-cita atau aspirasi siswa
Motivasi belajar akan tampak pada individu kalau mempunyai keinginan-keinginan yang ingin dicapai.
b.       Kemampuan siswa
Keinginan individu harus dibarengi dengan kecakapan atau kemampuan dalam mencapainya
c.       Kondisi siswa
Kondisi siswa yang mempengaruhi motivasi belajar adalah kondisi jasmani dan rohani
d.       Kondisi lingkungan
Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya, dan kehidupan kemasyarakatan.
e.       Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan dan pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidupnya.
f.         Upaya guru dalam membelajarkan siswa
Guru adalah seorang pendidik yang sering bergaul dengan siswa setiap hari, intraksi efektif pergaulannya akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jiwa siswa. Dengan kata-katanya yang arif, puji-pujian yang dilontarkan dapat menimbulkan kegemaran membaca.













BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
PBK menggunakan arti penilaian sebagai “assessment”, yaitu “kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan informasi tentang hasil belajar siswa pada tingkat kelas selama dan setelah pembelajaran” (Depag RI, 2005:9)
Pada pelaksanaan PBK perenan guru sangat penting dalam menentukan ketetapan jenis penilaian untuk menilai keberhasilan atau kegagalan siswa. Jenis penilaian yang dibuat oleh guru harus memenuhi standar validitas, agar hasil yang akan dicapai sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar serta indikator yang telah dirumuskan (Depag RI, 2005:11)
Mengacu pada salah satu prinsip-prinsip pelaksanaan PBK, yaitu bermakna, maka pelaksanaan PBK harus mampu memberikan makna yang signifikan bagi perkembangan siswa dari waktu ke waktu yang dapat diamati (observable) dan terukur (measurable).
Tujuan pelaksanaan PBK ada enam (Depag RI, 2005:11)
a.       Memberikan umpan balik bagi siswa mengenai kemampuan dan kekurangannya, sehingga menumbuhkan motivasi untuk memperbaiki prestasi belajar pada waktu berikutnya.
b.       Membantu kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar siswa, sehingga memungkinkan dilakukan pengayaan dan remidi untuk memenuhi kebutuhan siswa sesuai dengan perkembangan, kemajuan dan kemampuannya.
c.       Memberikan masukan pada guru untuk memperbaiki program pembelajaran di kelas apabila terjadi hambatan dalam proses pembelajaran.
d.       Memungkinkan siswa mencapai kompetensi yang telah di tentukan.
e.       Memberikan informasi yang lebih komunikatif terhadap masyarakat.
Motivasi belajar ada dua yaitu “motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik (Dimyati dkk, 2002:94)
Motivasi instrinsik adalah motivasi belajar yang terdapat dalam diri individu, seperti cita-cita siswa, kemampuan siswa dan kondisi siswa.
Motivasi belajar ekstrinsik adalah motivasi belajar yang terdapat disekitar individu seperti kondisi lingkungan, unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran dan upaya guru dalam membelajarkan siswa.
Dapat kita pahami bahwa motivasi belajar adalah serangkaian usaha untuk menjadikan kondisi-kondisi tertentu atau sebagai penggerak sehingga siswa mempunyai keinginan untuk belajar atau menjadikan belajar sebagai suatu kebutuhan.

B. SARAN
Menurut pandapat penulis dengan menggunakan PBK siswa akan termotivasi untuk selalu aktif dalam berintraksi dengan lingkungan belajarnya karena salah satu tujuan PBK adalah memberikan umpan balik bagi siswa mengenai kemampuan dan kekurangannya sehingga menumbuhkan motivasi untuk mempertahankan atau memperbaiki prestasi belajar pada waktu berikutnya.
Kemampuan penulis sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak membaca buku referensi sampai saat ini, hal ini akan berdampak pada mutu kualitas hasil tulisan makalah sederhana ini. Oleh karenanya saran kritikan kearah yang lebih baik selalu penulis harapkan mulai ditulisnya makalah ini serta di masa yang akan datang.












DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi, 2003 Dasar-dasar Evaluasai Pendidikan, Jakarta. Bumi Aksara.

------------------------       2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, Jakarta Rineka Cipta.

B. Uno, Hanzah 2007. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta. Bumi Aksara

Faisal, Sanapiah. 1982. Metodelogi Penelitian Pendidikan. Surabaya Usaha Nasional

Depag, 2005 Panduan Evaluasi Hasil Belajar, Jakarta. Direktorat Jederal Kelembagaan Agama Islam

Dimyati Dkk, 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. Rineka Cipta

Nasution, Noehi, 1995. Psikologi Pendidikan, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam

Hadi, Sutrisno, 1987 Statistik 2. Yogyakarta, Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM

Poerwadarminta, 1984. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta Balai Pustaka

A. Partanto, Pius Dkk, 1994. Kamus Ilmiah Populer, Surabaya. Balai Pustaka

Solichan, Abdullah, 2006 Penilaian Berbasis Kelas. LPMP Jawa Timur.

Dhofir, Syarqowi, 1997. Pengantar Metodelogi Riset dengan Spekrum Islam. Prenduan Iman Bela

Muhaimin, 2006 KTSP Wujud Otonomi Sekolah. MPA Edisi Oktober 2006

Rahman Dhahiri, Taufiq. 2002 Panduan Belajar Sosiologi. Bogor. Yudhistira