DALAM MEWUJUDKAN KEPRIBADIAN YANG UTUH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Penulisan Karya Ilmiah

Oleh:
WALID MAULANA
NIMKO:
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL-KHAIRAT PAMEKASAN
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
2009
DAFTAR ISI
Halaman
Judul………………………………………………………………………… i
Daftar
Isi……………………………………………………………………………….ii
BAB I : PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah……………………………………………..1
B.
Rumusan Masalah……………………………………………………2
C.
Tujuan Penulisan
Makalah…………………………………………...2
BAB II : LANDASAN TEORI
A.
Pengertian Metode Pendidikan
Agama………………………………4
B.
Materi Pendidikan Kepribadian
Yang Utuh…………………………5
C.
Ajaran (Nilai-Nilai
Pendidikan)…………………………………….13
BAB III : PENUTUP
A.
Kesimpulan………………………………………………………….15
B.
Saran………………………………………………………………...15
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
“Lukman adalah nama dari seorang yang selalu mendekatkan diri kepada
Allah dan merenungkan alam yang ada di sekelilingnya, sehingga dia mendapatkan
kesan yang mendalam” (Hamka, :1988:114).
Demikian juga renungannya terhadap kehidupan ini, sehingga
terbukalah baginya rahasia hidup itu sehingga dia mendapat hikmat. Sesuai
dengan firman Allah surat
Lukman ayat 12 yang berbunyi ;
وَلَقَدْ
أَتَيْناَ لُقْمنَ اْلحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ ِللهِ, وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَمَا
يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ, وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ (لقمن:12)
Artinya : Sesungguhnya Kami telah memberikan
Lukman hikmat, yaitu “Bersuyukurlah kepada Allah. Barang siapa yang bersyukur
maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa yang
ingkar maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. Lukman, 30:12)
Arti hikmat ialah kesan yang tinggal dalam jiwa manusia dalam
melihat pergantian di antara suka dan
duka hidup, melihat kebahagiaan yang dicapai sesudah perjuangan melawan
hawanafsu dan celaka yang didapati oleh seorang yang melanggar garis-garis
kebenaran yang mesti ditempuh. Sehingga seumpama orang yang dalam perjalanan, masih
di tengah jalan orang itu, namun dia sudah tahu akibat yang akan ditemuinya
kelak. Orang yang ahli hikmat itu disebut “al-Hakim”, sebab itulah dia dikenal
Lukman ahli hikmat (al-Hakim).
Asal usul Lukman banyak yang mengatakan bahwa dia adalah dari bangsa
Negro, atau Habsyi yang warna kulitnya hitam. Oleh sebab itu ketika memuji
orang-orang yang mulia yang berwarna hitam kulitnya disebut oranglah nama
beliau di samping Bilal Muazzin Rasul, Imam
‘Atha’ seorang Tabi’in yang sangat terkenal di Makkah.
“Ada
yang mengatakan bahwa ia berasal dari Mesir, dan ada yang mengatakan budak
hitam dari Habsiyah (bangsa Negro) yang buruk rupa dan terseok-seok jalannya,
karena kakinya cacat. Para ahli sepakat bahwa
Lukman adalah orang alim bukan Nabi” (Hasyim, 1993:131). Dan tentang ajarannya
terdapat dalam al-Qur’an surat Lukman surat 31 ayat ke 34.
Penulis tertarik untuk mempelajari lebih dalam tentang metode
mendidik anak oleh Lukman yang akan dijelaskan dalam judul makalah ini “Peran
Pendidikan Agama Dalam Mewujudkan Kepribadian Yang Utuh”.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka
ditentukanlah rumusan masalah dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :
1.
Bagaimana Peran Pendidikan Agama Dalam Mewujudkan Kepribadian
Yang Utuh ?
2.
Apa sajakah materi Pendidikan Agama Dalam Mewujudkan
Kepribadian Yang Utuh ?
3.
Apa saja ajaran (nilai pendidikan) yang dibawakan oleh Lukman
dalam Al-Qu’ran ?
C.
Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan
adalah hal-hal yang ingin dicapai dalam urutan masalah. Maka tujuan yang ingin
penulis capai yaitu :
1.
Ingin mengetahui Bagaimana Peran Pendidikan Agama Dalam
Mewujudkan Kepribadian Yang Utuh.
2.
Ingin mengetahui Apa sajakah materi Pendidikan Agama Dalam
Mewujudkan Kepribadian Yang Utuh.
3.
Ingin mengetahui Apa saja ajaran (nilai pendidikan) yang
dibawakan oleh Lukman dalam Al-Qu’ran.
|
LANDASAN TEORI
A. Pengertian
Metode Pendidikan Agama
Metode
atau metoda berasal dari bahasa Yunani (Greeka)
yaitu metha dan hodos, metha berarti :
melalui atau melewati”, dan hodos
berarti : jalan atau cara”. “Metode berarti jalan atau cara yang harus dilalui
untuk mencapai tujuan tertentu” (Kafie, 1988:15)
Sebagai
suatu seni tentu saja metode pendidikan harus menimbulkan kesenangan dan
kepuasan bagi anak didik. Kesenangan dan kepuasan merupakan salah satu faktor
yang dapat menimbulkan gairah dan semangat bagi anak didik.
Dalam
buku metodologi pendidikan agama Islam yang dikemukakan oleh Zuharini, dkk
(1983: 79), “Metode berarti cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan
suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan”. Sedangkan metode
pendidikan ialah cara yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan pelajaran
kepada pelajar. Karena penyampaian itu berlangsung dalam interaksi edukatif,
metode mengajar dapat diartikan sebagai cara yang dipergunakan oleh guru dalam
mengadakan hubungan dengan pelajar pada saat berlangsungnya pengajaran. Dengan
demikian, metode mengajar merupakan alat untuk menciptakan proses belajar
mengajar”
Karena
metode pendidikan merupakan alat mencapai tujuan, maka diperlukan pengetahuan
tentang tujuan itu sendiri. Perumusan tujuan dengan sejelas-jelasnya merupakan
persyaratan terpenting sebelum seseorang menentukan dan memilih metode
pendidikan yang tepat. Kekaburan di dalam tujuan yang akan dicapai menyebabkan
kesulitan dalam memilih dan menentukan metode-metode yang tepat.
Jadi
berdasarkan paparan di atas penulis menyimpulkan bahwa metode pendidikan
sebagai suatu seni tentu saja metode pendidikan harus menimbulkan kesenangan
dan kepuasan bagi anak didik.
B. Materi Pendidikan Kepribadian Yang Utuh
1.
Mensyukuri Nikmat
Syukur kepada Allah, karena bila mau
bersyukur, Allah akan menambah (kebaikan dan rezeki), tetapi bila manusia kufur
ni’mat, maka sungguh siksa Allah amat dahsyat. Seperti firman Allah dalam surat Ibraahim ayat 7,
yaitu ;
َواِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لاََِزيْدَ نَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِىْ
لَشَدِيْد (ابراهيم:7)
Artinya : “Dan (ingatlah juga)
tatkala Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan
menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”
Pada hekekatnya nikmat itu adalah suatu
kesatuan tapi mungkin terbawa oleh sifat manusia yang sentimentil, maka
kenyataannya “Nikmat itu dirasakan ada dua macam yaitu nikmat yang bersifat
fitri atau azasi yang dibawa manusia ketika lahir, yang kedua nikmat yang
mendatangkan, yang dapat diterima dan yang dapat dirasakan sewaktu-waktu”
(Nasution, tt:10)
Pertanda syukur ialah mengerti siapa orang
yang amat berjasa pada dirinya itu. Bila dia telah faham bahwa yang berjasa itu
ada Dzat Yang Maha Pemurah, maka dia tidak akan menganggap-Nya sebagai yang
bukan-bukan. Misalnya mengatakan kepada Allah atas berbagai macam tuduhan dan
sangkaan yang tidak benar. umpamanya Allah dianggap mempunyai sekutu, Allah
tiga, Allah aniaya, dan sebagainya.
Maka bersyukur kepada Allah mustilah
bertauhid, tidak ada lain. Sebab orang yang musyrik berarti menghina Allah,
durhaka dan tidak mengerti siapa Allah sebenarnya. Sedangkan memanggil manusia
dengan nama yang bukan panggilannya saja tidak benar, apalagi memberikan
predikat yang bersifat merendahkan atau menghina manusia.
Maka tanamkanlah rasa Tauhid kepada anak
anda sejak kecil. Biasakanlah mendidik mereka dengan nafas keagamaan.
Sesuaikanlah dengan umur mereka, mulai dari bacaan-bacaan yang bagus, ayat-ayat
pendek, bacaan shalat, dan kemudian sedikit pengertian dan penerapannya.
Didiklah tentang berbagai ajaran yang
disertai praktek. Misalnya bagaimana harus memberikan dan menjawab salam,
hamdalah, basmalah, istighfar, tasmi’, takbir, shalat, puasa dan sebagainya.
Masing-masing ajaran itu diharapkan agar dapat dihayati secara mendalam.
Dengan demikian maka praktek ibadah tidak
bisa lepas dari pemahaman maksud dan tujuan beribadah kepada Allah. Tentulah
nanti sampai kepada Tauhid. Maka ajaran Tauhid sebagai landasan dan fondasi
kepribadian dan hidup mereka. Tauhid itulah yang menentukan jalan hidup mereka
menuju hidup di akhirat nanti.
2.
Tidak Menyekutukan Allah
Menurut
Hasyim, (tt:135), “Tanamkanlah rasa keimanan yang murni sejak anak mulai usia
pada tingkatan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar, karena naluri anak-anak
yang seusia sekian telah bisa menerima pendidikan keimanan”.
Luqman
Hakim sendiri memprioritaskan pendidikan Tauhid kepada anaknya. Terbukti hal
itu telah mendapatkan tempat pertama dari wasiatnya dalam surat Luqman, yakni ayat 12 dan 13. Setelah
pada ayat 12 diperintahkan bersyukur kepada Allah, yakni Dzat yang wajib ADA,
maka menurut ayat 13, Luqman berkata, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan
Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang
benar”.
Bahwa
syirik adalah sebesar-besar dosa dan Allah tidak akan mengampuni dosa syirik
(ayat 116 An Nisa’), dan bila Allah mungkin toh mengampuni dosa syirik, adalah
langka, bagi mereka yang benar-benar bertobat nasuha.
Memang
kepercayaan Tauhid adalah yang telah diajarkan oleh para Nabi dan Rasul sejak
Adam hingga Nabi Muhammad SAW. sangsinya demikian berat bagi orang yang berbuat
syirik, karena syirik berakibat bercabangnya kecintaan kepada Allah, berbaginya
pengabdian atau ibadah, berkhianatnya hati yang mendua, dan selanjutnya
penghinaan yang tiada ampun terhadap Allah. Beratus ayat yang bertebaran dalam
Al-Qur’an menjelaskan ratusan macamnya kepercayaan syirik, kepada Allah.
Demikian pula ratusan macamnya kepercayaan syirik, mulai dari mentuhankan
selain Allah hingga anggapan-anggapan terhadap sesuatu benda dan lainnya yang
dipercayai sebagai dapat memberikan mudlarat dan keberuntungan secara gaib.
“Tuhan Allah adalah Maha Esa (satu), tidak ada yang sepadan, dan tidak ada yang
menyamai-Nya” (Depag, 1977:41).
Tanamkanlah
Tauhid, dan didiklah anak anda agar tidak syirik, karena syirik akan melemahkan
jiwa dan kepribadian. Orang musyrik menggantungkan keberuntungan dan menyangka
biang keladi atas kemalangannya kepada yang selain Allah. Kepribadiannya pecah
karena menggantungkan daya kekuatannya kepada benda, padahal watak benda itu
adalah pecah. Berderai dari dirinya, berpisah dengan lainnya, porak poranda
wataknya. Maka orang musyrik takutnya kepada alam, dan tegaknya karena tahayul,
karena yang selain Allah adalah alam belaka. Tentu saja jiwa mereka yang
musyrik terkungkung, sebab mereka menganiaya diri sendiri. Artinya memperbodoh
diri sendiri. Karena seharusnyalah mereka disuruh Allah agar membebaskan jiwa
mereka dari yang selain Allah, tetapi mereka bahkan menjadi budak dari alam,
takut atau tunduk atau mengabdi kepada sesuatu yang selain Allah. Padahal
sebagai makhluk dan khalifah Allah di muka bumi, hendaknya langsung memohon
kepada Allah, bukan perantaraan lewat benda atau bahkan kepada benda itu
sendiri. Bila masing-masing orang menyembah dan mengabdi kepada sesama makhluk,
tentulah dinamakan syirik dosanya tidak bisa diampuni.
Bila
itu semua yang terjadi, maka kepercayaan kepada Allah telah disekutukan dengan
yang selain-Nya. Dan bila hati dan jiwa telah terikat kepada alam itu, maka
alam telah mengikat dan memperbudak diri.
Jadi
Allah Maha Esa ( قل هو الله احد ) , Allah tempat
meminta-minta dan tiada yang setara dengan Dia.
3.
Berterima Kasih Kepada Orang
Tua
Selanjutnya
dalam surat
Luqman ayat 14, Luqman menasehatkan bahwa agar anak harus berbakti kepada kedua
orang tua. “Memuliakannya dan menghormati orang tua, karena keduanya yang
memelihara kita. terutama ibu, yang mengandung kita dalam keadaan payah”
(Hasyim, tt:137).
Menurut
Aly (2000:85), “Orang tua memiliki rasa cinta dan kasih sayang terhadap anaknya”. Perasaan itu
dijadikan Allah sebagai asas kehidupan psikis, sosial, dan fisik kebanyakan
mahluk hidup.
Dan
lebih dari itu kedua orang tua yang menjadi perantaraan adanya anak lahir ke
dunia ini. Namun berbakti dan menghormati dan memuliakan orang tua adalah yang
kedua. dan yang pertama adalah kepada Allah. Maka semua itu kita kerjakan bila
tidak bertentangan dengan ajaran Allah. “Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada dua
orang ibu bapakmu”.
Bila anak telah berani berdosa kepada orang
tua, itulah alamat bahwa telah terjadi ketidakberesan pada mental anak. Padahal
berterima kasih adalah paling mudah dari pada membalas budi, meskipun berterima
kasih seharusnya ditunjukkan dengan cara yang baik, penuh keikhlasan dan patuh
kepada keduanya.
Jadi membalas budi adalah perbuatan yang
paling sukar karena budi orang tua kepada kita tak terhingga. Mungkin suatu
keajaibanlah bila ada anak yang dapat membalas budi baik orang tua.
4.
Sikap Terhadap Orang Tua
Musyrik
Di
atas telah dijelaskan bahwa berbakti kepada orang tua adalah wajib bilamana
kebaktian itu tidak bertentangan dengan ajaran Allah. Maka bagaimana bila orang
tua menyuruh kita berbuat dosa atau musyrik, apakah seandainya perintahnya
tidak kita turuti lantas kita dinamakan durhaka kepadanya ?
Ayat
15 surat Luqman
telah menjelaskannya, yakni “Dan jika kedua orang tuamu memaksamu untuk
mempersekutukan dengan Aku atas sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan
tentangnya, maka janganlah kamu mengikutinya dan pergaulilah keduanya di dunia
ini dengan baik”.
Jadi
menurut pendapat penulis, meskipun orang tua berlainan pendapat atau berlainan
agama, anak sepatutnya tetap bergaul dengan beliau secara baik dalam batas
tertentu. Artinya tetap taat perintahnya dalam urusan Agama, yang ditaati
adalah Allah.
5.
Balasan Akhirat
Menurut
Hasyim (tt:138), “Balasan akhirat adalah suatu kepercayaan yang harus
ditanamkan sejak anak masih kecil”. Jangan begini karena dosa, jangan
dijalankan karena haram dan harus diamalkan karena mendapatkan pahala, adalah
suatu kepercayaan dan balasan Allah besok di akhirat.
Dalam Al-Qur’an sering terdapat
ayat-ayat yang memerintahkan atau mencegah sesuatu, yang pada ujung ayatnya
berbunyi :
... إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِر ... (النور:2)
Artinya : “… (Yang demikian itu)
bila engkau benar percaya kepada Allah dan hari Akhir”.… (QS. An-Nur:2)
Hari Akhir ialah hari kiamat, yang isinya
setelah itu adalah kepercayaan kepada yang gaib, termasuk balasan baik dan
jelek, makhsyar, hisab, syirathal mustaqim, surga dan neraka, dan semua
peristiwa akhirat lainnya.
Dua keyakinan, yakni Allah dan Hari Akhir.
Bila dua keyakinan itu telah tertanam dalam hati; maka yang lainnya telah
tercakup. Karena kepercayaan kepada Allah harus mencakup para Rasul-Nya dan apa
misi dari para Rasul itu. Akhirat mencakup segala kepercayaan gaib yang
berhubungan dengan akibat dari amalan kita di dunia ini.
Maka Luqman berwasiat tentang balasan
akhirat, yakni dalam surat
Luqman ayat 15 dan 16. “Kemudian hanya kepada-Ku lah pulang kembalimu, maka
akan aku beritakan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.
Manusia datang dari Allah, dan akan kembali
kepada-Nya Maka hanya Allah lah yang berhak menilai laku perbuatan manusia. dan
penilaian Allah itu tuntas, tidak ada yang tertinggal dari perbuatan manusia
meskipun satu biji sawi sekalipun.
Kepercayaan di atas itu diperlukan mutlak
untuk mengontrol perilaku manusia sehari-hari. Karena rupa-rupanya pengawasan
alat negara ataupun pengawasan manusia lainnya tidak mampu untuk mencegah
perilaku yang menyimpang. Memang dibutuhkan pengawasan dari yang mutlak, yakni
Allah agar luruslah jalan manusia, tidak melanggar rambu-rambu agama.
Selanjutnya wasiat Luqman dalam surat Luqman ayat 16, “Hai
anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada
dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan
mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha
Mengetahui”.
6.
Mendirikan Shalat
Di
dalam surat
Luqman ayat 17, Luqman berwasiat tentang empat perkara yang juga menjadi modal
dari pembentukan pribadi manusia, yang diungkapkan oleh Hasyim (tt:139), yakni
: “Mendirikan shalat, amar ma’ruf, nahi munkar,dan bersabar”
Menurut
Najati (1985:307), “Shalat mengisyaratkan bahwa di dalamnya terkandung adanya
hubungan antara manusia dengan Tuhannya”. Sebagai orang tua bila anak sudah
berumur 9 tahun, maka orang tua berkewajiban memerintahkan kepada anak kita
agar shalat. Tanpa shalat, apalah artinya segala amalan lainnya. Hanya fantasi
saja karena shalat adalah jiwa dari segala amalan lainnya.
Sabda Rasulullah SAW :
اَوَّلُ مَا
يُحاَسَبُ بِهِ اْلعَبْدُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ الصَّلاَةُ, فَِانْ صَلَحَتْ صَلَحَ
سَائِرُ عَمَلِهِ, وَاِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ (رواه الطبرانى)
Artinya : “Permulaan amal perbuatan
seseorang hamba yang dihisap (dihitung-hitung) di hari kiamat ialah shalatnya.
Bila shalatnya baik, maka baiklah semua amalannya yang lain. Dan bila shalatnya
itu rusak, maka binasalah semua amalannya yang lain”. (Hadits riwayat
Thabarani).
Shalat
yang tertib, khusyu’, benar, bagus, tidak pernah di tinggal, akan berakibat
jauh. Yakni amalan yang lain pastilah tertib. Karena shalat itu dapat mencegah
perbuatan dosa dan munkar. Maka bila ada seseorang yang shalat tetapi
perbuatannya sehari-hari tidak benar, itulah tandanya shalatnya fantasi saja.
Jadi
menurut penulis bahwa orang yang khusyu’ dalam shalatnya, tentulah tidak berani
berbuat dosa, sebab dalam shalatnya dia bertobat.
7. Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Menurut
Hasyim (tt:140). “ Amar ma’ruf nahi
munkar adalah suatu amalan yang konstruktif dalam masyarakat, ajaran
membangun masyarakat dan sebagai manifestasi dari rasa tanggung jawab dalam
masyarakat”.
“Dorongan-dorongan
untuk amar ma’aruf nahi munkar adalah mengharap pahala dari Allah, takut
pada siksa jika tidak melakukannya, dan takut akan murka Allah kalau
larangan-larangan-Nya dilanggar” (Hasan, tt:12).
Bagi
yang melaksanakan ajaran Amar ma’ruf nahi
munkar dalam keluarga maupun dalam masyarakat adalah sebagai pelopor
perbuatan yang membangun. Juga termasuk salah satu dari kerangka demokrasi dan
ketertiban menyeluruh.
Orang
yang amar ma’ruf mestilah dia sendiri
telah memberikan contoh teladan. Dan yang nahi
munkar mestilah dia juga telah meninggalkan perbuatan yang dosa itu. Kalau
tidak demikian, maka suatu dosa telah membebaninya.
Jadi
amar ma’ruf nahi munkar adalah perintah Allah agar masyarakat menjadi baik,
harmonis, aman dan sejahtera.
8.
Bersifat Sabar
Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 153 yaitu ;
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ
وَالصَّلاَةِ ... (البقرة:153)
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman ! Mintakah pertolongan dengan (bersikap) sabar dan
(mengerjakan) sembahyang”. (QS. Al-Baqarah:153).
Berdasarkan ayat di atas penulis menyimpulkan bahwa
sabar adalah separuh dari iman.
Menurut
Hasyim (tt:141), “Sabar bukannya menyerah pada takdir tanpa berikhtiyar,
bukannya fatalismu, tetapi tahan uji dikala menerima percobaan”. Menurut
Nasution (tt:29), “Sabar adalah tahan menderita sesuatu yang tidak disenangi
dengan ridha dan ikhlas serta berserah diri kepada Allah”.
Arti
dari kata sabar ialah tahan, yakni tahan uji. Itulah seberat-berat menahan
rasa, karena kesabaran diperlukan dikala sulit dan lapang, dikala sakit dan
sehat, dikala miskin dan kaya, dikala kalah dan menang, dikala gagal dan
berhasil, dikala mujur dan malang, dikala sedih dan gembira, dan dalam semua
sikap hidup.
Jadi
menurut penulis, tanamkanlah rasa kesabaran pada anak-anak anda, karena kesabaran
itu pun termasuk kerangka Agama Islam juga.
9.
Tidak Memiliki Sifat Sombong
Allah
berfirman dalam surat
Luqman, ayat 18, yang artinya “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari
manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan
angkuh. Sesungguhnya Allah tiada menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah
suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.
Namun
orang sombong bukanlah sama dengan cara berpakaian yang indah necis, tertib dan
bersih. Pernah pada suatu hari shalabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang
perkara sombong karena Beliau ketika itu membicarakan masalah orang yang
angkuh, sebagai hadits di bawah ini, sabda Rasulullah SAW :
لاَيَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مَنْ كاَنَ فيِ قَلْبِهِ مِثْقاَلَ
ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ... (رواه مسلم)
Artinya : “Tidak akan masuk surga
orang yang dalam hatinya terselip sifat sombong …” (HR. Muslim)
“Do’a-do’a yang diucapkan oleh Luqman terhadap anak-anaknya yaitu sembahlah
Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan yang lain, berbuat baik kepada orang tua,
anak yatim, fakir miskin dan janganlah memiliki sifat sombong” (Hasyim,
tt:134).
Jadi
berdasarkan uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa isi wasiat luqman kepada
anaknya mengandung beberapa pokok pendidikan yaitu : pendidikan tauhid, akhlak,
shalat, amar ma’ruf nahi munkar, dan
ketabahan.
C. Ajaran (Nilai-nilai Pendidikan)
Lukman adalah nama dari seorang yang selalu mendekatkan
diri kepada Allah dan merenungkan alam yang ada di sekelilingnya. Adapun ajaran
yang bernilai pendidikan yaitu :
1.
Memberi Nasehat
Yang dimaksud dengan nasihat menurut Aly (1999:190),
adalah “penjelasan tentang kebenaran dan kemaslahatan dengan tujuan
menghindarkan orang yang dinasihati dari bahaya serta menunjukkannya ke jalan
yang mendatangkan kebahagiaan dan manfaat”. Sesuai dengan firman Allah dalam surat an-Nisa’ ayat 58 ;
ِإنَّ اللهَ نِعِمّاً يَعِظُكُمْ بِهِ
(النساء:58)
Artinya : “Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang
sebaik-baiknya kepadamu” (QS. An-Nisa’, 4:58)
Jadi metode dengan memberikan nasehat pada dasarnya
mempenyaruhi orang lain agar mengikuti apa yang dikatakan dan diucapkan.
2.
Memberikan Keteladanan
“Pendidikan dengan teladan berarti pendidikan dengan memberi
contoh, baik berupa tingkah laku, sifat, cara berpikir, dan sebagainya” (Aly,
2000:178).
Dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menunjukkan
kepentingan penggunaan teladan dalam pendidikan, antara lain dalam firman Allah
ayat 21:
َلقَدْ كاَنَ
لَكُمْ فيِ رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كاَنَ يَرْجُوا اللهَ
وَاْليَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا (الاحزاب:21)
Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasululah itu suri tauladan
yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah (QS. Al-Ahzab, 33:21)
Berdasarkan ayat di atas penulis menyimpulkan bahwa
Rasulullah laksana cermin putih yang apabila bercermin akan kelihatan kelemahan
dan kekurangannya.
Adapun bukti keteladanan Luqman terhadap anak-anaknya dalam
bentuk selalu meningkatkan ibadah kepada Allah, mensyukuri nikmat Allah dan
tidak kufur kepada Allah.
Jadi berdasarkan paparan di atas penulis memahami bahwa
dengan pendidikan keteladanan yang dilakukan Luqman terhadap anak-anaknya akan
lebih mudah mempengaruhinya.
3.
Pembiasaan
Pembiasanaan merupakan penanaman kebiasaan. Yang
dimaksud dengan kebiasaan ialah cara-cara bertindak yang hampir-hampir
otomatis/hampir-hampir tidak disadari oleh pelakunya” (Aly, 2000:184).
Pembiasaan merupakan salah satu metode pendidikan yang
sangat penting, terutama bagi anak-anak.
Mereka belum menginsafi apa yang disebut baik dan buruk dalam arti susila.
Demikian pula belum memiliki kewajiban-kewajiban pada orang dewasa.
Seseorang yang telah mempunyai kebiasaan tertentu akan
dapat melaksanakannya dengan mudah dan
senang hati. Bahkan, segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dalam usia
muda sulit untuk diubah dan tetap berlangsung sampai tua. Sebagai contoh, anak
yang selalu dibiasakan mengucapkan salam ketika akan berangkat ke sekolah
dengan mencium tangan orang tuanya dan mengucapkan salam, bila anak dibiasakan
seperti itu maka sampai dewasa tanpa sadar selalu mengucapkan dan mengerjakan
hal tersebut.
Jadi dengan ajaran-ajaran Lukman dalam pendidikan dengan
pembiasaan sangat mungkin apabila secara berangsur-angsur disertai dengan
penjelasan-penjelasan dan nasehat, sehingga makin lama timbul pengertian dari
anak didik.
|
PENUTUP
A. Kesimpulan
Metode-metode Luqman dalam mendidik anaknya, yaitu sebagai
berikut :
- Metode nasehat yaitu memberikan penjelasan tentang kebenaran dan kemaslahatan dengan tujuan menghindarkan orang yang dinasihati dari bahaya serta menunjukkannya ke jalan yang mendatangkan kebahagiaan dan manfaat.
- Metode keteladanan yaitu pendidikan dengan memberi contoh, baik berupa tingkah laku, sifat, cara berpikir, dan sebagainya.Metode pembiasaan yaitu cara-cara bertindak yang hampir-hampir otomatis/hampir-hampir tidak disadari oleh pelakunya.
- Materi-materi pendidikan Lukman dalam membina kepribadian anak-anaknya yaitu; Syukur Nikmat, tidak menyekutukan Allah, berterima kasih kepada orang tua, berbakti kepada orang tua walaupun ia musyrik, menanamkan kepercayaan bahwa di akhirat akan ada hari pembalasan, mendirikan shalat, bersifat sabar, tidak sombong.
4.
Ajaran (nilai pendidikan) yang
dibawakan oleh Lukman dalam Al-Qu’ran yaitu pendidikan tauhid, pendidikan
akhlak, pendidikan shalat, pendidikan amar ma’ruf nahi munkar, pendidikan
ketabahan, dan kesabaran, serta pendidikan sosial dan kemasyarakatan.
B. Saran
Setelah penulis memberikan
kesimpulan-kesimpulan, maka selanjutnya penulis memberikan saran-saran sebagai
berikut :
1.
Menanamkan pendidikan ketauhidan, keimanan pada diri anak
sejak dini karena dengan segala
perbuatan akan dipertanggungjawabkan kelak di hari kiamat.
2.
Menanamkan pendidikan akhlak yaitu memberikan bimbingan,
nasehat, dan tuntunan kepada anak, agar kelak anak dapat berguna dalam keluarga
dan masyarakat.
3.
Menanamkan pendidikan amar
ma’ruf nahi munkar yaitu bersifat membangun dan menyebarkan kebaikan dan
mencegah perbuatan yang kurang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Aly, Hery Noer. 2000. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta:PT. Logos Wacana
Ilmu
Ar-Rifa’i, Moh. Nasib. 2003. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir (Jilid
3). Jakarta:Gema
Insani
Hamka. 1988. Tafsir Al-Azhar. Jakarta:PT. Pustak Panjimas
Hasyim, Umar. 1993. Anak Sholeh (Cara Mendidik Anak dalam Islam).
Surabaya:PT.
Bina Ilmu
Najati, Utsman. 1985. Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, Bandung:Pustaka
Nasution, Yunan. Tt . Pegangan Hidup. Semarang:Ramadhani
Taimiyah, Islam Ibnu. Diterjemahkan Akhmad Hasan, Tt. Amar Ma’ruf
Nahi Munkar. (Perintah kepada Kebaikan Larangan dari Kemungkaran). Arab
Saudi:Departemen Urusan Keislaman. Wakaf, Da’wah. dan Pengarahan.
Zuhairi, dkk. 1983. ,Methodik Khusus Pendidikan Agama. Malang:Biro llmiah
Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel
Saha, Ishom dan Hadi, Saiful. 2005. Sketsa
al-Qur’an. Jakarta:PT.
Listafariska Putra
0 komentar:
Posting Komentar