Minggu, 04 November 2012



MEKANISME KERJA OTAK
DALAM MENYERAP ILMU-ILMU MODERN














 

























Oleh :
HABIBULLAH
Kelas : XII – IPA 1





DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMA NEGERI I PAKONG PAMEKASAN
2009
HALAMAN PERSETUJUAN



          Makalah ini telah ditesetujui oleh :




            Wali Kelas                                                      Guru Bidang Studi




       SITI AISYAH, S. Pd                                         BAMBANG, S. Si        
       NIP                                                                      NIP








Mengetahui
Kepala SMA N I Pakong




Drs. RP. MOH NOER KOMARI
                                      NIP                                                                        













KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur hanya kepada Allah SWT atas segala limpahan nikmat serta karunia-Nya, sehingga penulisan makalah ini telah selesai sesuai dengan rencana. Kemudian shalawat serta salamnya semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW begitu juga kepada keluarga dan para sahabat-sahabatnya.
Kemudian penulis menghaturkan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak terkait yang telah membantu penulis dalam penyusunan makalah ini, mereka adalah:
1.      Kepala SMA N I Pakong yang telah memberi saran kepada penulis.
2.      Guru Bidang Studi yang telah membimbing penulis dalam penyelesaian makalah ini.
3.      Wali Kelas yang telah mendidik penulis.
4.      Teman-teman yang telah membantu penulis dalam penyempurnaan makalah ini.
5.      Serta kepada mereka yang banyak membantu penulis, baik yang aku sadari atau yang tidak kuketahui dalam penyelesaian makalah ini.
Akhirnya penulis berharap kepada para pembaca makalah ini, jika terdapat kesalahan dan kekurangan, baik dari sisi penulisan, kaidah bahasa ataupun dari sisi sistematika maka penulis mengharap kritikan dan saran yang konstruktif demi kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.



DAFTAR ISI

Halaman Judul………………………………………………………………..       i
Halaman Persetujuan…………………………………………………………      ii
Kata Pengantar………………………………………………………………      iii
Daftar Isi……………………………………………………………………..      iv
BAB  I       : PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Permasalahan…………………………….        1
B.     Rumusan Masalah………………………………………           1
C.     Tujuan Pembahasan………………………………………        2
BAB II       : KAJIAN PUSTAKA
A.    Hubungan Antara Perkembangan Ilmu Pengetahuan dengan Perkembangan Otak Manusia…………………………             3
B.     Kapasitas Neuron pada Manusia Tidak Dapat Bertambah…     8
BAB III      : PENUTUP
A.    Kesimpulan………………………………………….            11
B.     Saran…………………………………………………           12
DAFTAR PUSTAKA


 


1. Pengertian Metode Resitasi
Metode Resitasi adalah metode penyajian bahan di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. (Djamarah dan Zain, 2002:96).
Di dalam buku yang lain disebutkan bahwa "metode resitasi biasa disebut Metode Pekerjaan Rumah, karena siswa diberi tugas-tugas khusus di luar jam pelajaran. (Usman, 2002:47).
Dari pengertian di atas penulis menarik kesimpulan bahwa metode resitasi merupakan salah satu metode yang diambil oleh seorang guru agar tujuan dari pembelajaran bisa tercapai dan pelaksanaan dari metode ini tergantung guru mau dilaksanakan dimana, bisa dilaksanakan di rumah, di halaman sekolah, dan tempat-tempat yang lain yang dianggap cocok untuk mengerjakan tugas.
Penerapan metode ini dilaksanakan karena seorang guru menganggap kalau proses belajar mengajar itu hanya dilaksanakan dalam kelas, waktu yang tersedia dianggap kurang, oleh sebab itu guru memanfaatkan waktu di luar jam pelajaran dengan cara memberikan tugas kepada murid baik tugas itu berbentuk soal ataupun berupa tugas yang berbentuk Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Yang penting murid di luar jam pelajaran bisa memanfaatkannya dengan belajar.
2. Tujuan Metode Resitasi
Setiap sesuatu pasti mempunyai tujuan jadi metode resitasi juga mempunyai tujuan sebagai berikut:
a.       Agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melaksanakan tugas. (Roestiyah, 1991:133).
b.      Untuk mendapatkan keterampilan khusus dalam mengerjakan sesuatu.
c.       Untuk memantapkan pengetahuan yang telah diterima oleh para siswa. (Usman, 2002:48).
d.      Merancang siswa agar berusaha lebih baik memupuk inisiatif.
e.       Membawa kegiatan sekolah yang berharga kepada minat siswa yang masih terluang. Waktu-waktu yang terluang daripada siswa agar dapat digunakanlebih konstruktif.
f.       Memperkaya pengalaman sekolah dengan memulai kegiatan di luar kelas.
g.      Memperkuat hasil belajar di sekolah dengan menyelenggarakan latihan-latihan yang perlu integrasi dan penggunaanya. (Team didaktik metodik, 1984:58).
Jadi kesimpulannya tujuan dari penerapan metode resitasi itu adalah memberikan materi di luar jam pelajaran agar siswa lebih mantap dalam memahami pelajaran yang mereka peroleh di dalam kelas.
Bagi seorang guru penerapan metode resitasi diberikan kepada murid agar setelah keluar dari sekolah anak-anak tidak hanya bermain saja melainkan bisa meluangkan waktunya untuk belajar, karena dengan adanya tugas yang diberikan anak merasa mempunyai tanggung jawab untuk mengerjakannya dan pada waktu itulah anak bisa belajar.
  1. Macam-Macam Metode Resitasi
Tugas yang diberikan kepada anak didik ada berbagai jenis. Karena itu, tugas sangat banyak macamnya, tergantung pada tujuan yang akan dicapai di antaranya adalah tugas meneliti, tugas menyusun laporan, tugas motorik, tugas di laboratorium. (Djamarah dan Zain, 2002:97).
a. Tugas meneliti biasanya bertujuan ingin mengetahui terhadap sesuatu yang diteliti misalnya proses perkembangannya, proses terjadinya sesuatu, atau ingin mengetahui sebab akibat dari suatu gejala, biasasnya sering digunakan pada mata pelajaran biologi.
   b. Tugas menyusun laporan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengertian anak didik terhadap materi yang diberikan oleh seorang guru untuk  menarik kesimpulan dari sesuatu yang diteliti dan disusunnya dalam bentuk laporan, mata pelajaran yang diberi tugas biasanya pelajaran PPKn.
c. Tugas motorik sering diberikan kepada siswa agar pemahaman siswa terhadap pelajaran bisa dipraktekkan bukan hany paham terhadap teorinya saja, oleh sebab itu biasanya pelajaran yang menggunakan tugas ini adalah pelajaran Penjaskes.
d. Tugas di laboratorium merupakan tugas yang di laksanakan oleh anak didik yang bertujuan untuk mengamati sesuatu yang pelaksanaanya di lakukan di dalam laboratorium agar anak didik langsung berpraktek dengan benda yang diteliti dengan seksama.
  1. Bentuk Resitasi
Penugasan yang diberikan kepada anak didik berfariasi karena guru memberikan tugas tersebut hanya ingin memantapkan apa-apa yang diperoleh siswa selama belajar di dalam kelas. Di antara bentuk tugas atau resitasi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Berbentuk soal mengenai mata pelajaran tertentu.
b.                   Berbentuk tugas yang berupa LKS. yang harus dibahas dengan diskusi atau perlu dicari uraiannya pada buku pelajaran. (Roestiyah, 1991:133).
Dari uraian di atas sudah jelas bahwa bentuk dari resitasi itu bisa berbentuk soal dan bisa berbentuk tugas yang berupa LKS. yang di berikan guru untuk dibahas dan didiskusikan untuk mencari jawabannya di buku pelajaran.
Dari dua bentuk resitasi tersebut bisa dijabarkan lagi pada waktu pelaksanaanya tugas itu bisa secara tertulis dan bisa juga secara lisan, akan tetapi setelah guru memberikan tugas kepada anak didik guru harus aktif juga dalam artian guru harus mengecek apakah tugas yang diberikan tersebut sudah dilaksanakan atau belum, dan dalam pelaksanaannya dikerjakan sendiri apa dikerjakan orang lain, lalu setelah itu guru harus mengevaluasi karena hal tersebut akan memberikan motifasi yang positif kepada peserta didik.
Bentuk tugas yang diberikan guru berfariasi karena guru ingin menciptakan suasana belajar yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan agar siswa dalam menerima pelajaran tidak hanya mendengarkan saja.
  1. Langkah-Langkah Metode Resitasi
Dalam pemberian tugas agar tugas tersebut menghasilkan hal yang positif dalam artian pemberian tugas itu sesuai dengan peserta didik maka harus mengikuti langkah-langkah pemberian tugas yang akan dikemukakan oleh penulis yaitu "Fase pemberian tugas, fase pelaksanaan tugas, dan fase mempertanggung jawabkan tugas". (Djamarah dan Zain, 2002:97).
Dari ketiga fase tersebut, guru dalam memberikan tugas harus mempertimbangkan tujuan yang akan dicapai, jenis tugas yang tepat, sesuai dengan kemampuan anak didik, diberi petunjuk, dan sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut agar hasil yang diharapkan tercapai.
Sedangkan guru ketika murid sedang melaksanakan tugas maka guru harus memberikan bimbingan dan pengawasan, memberikan dorongan agar siswa mau melaksanakan tugas, menyuruh mengerjakan tugas tersebut oleh siswa sendiri, dan menganjurkan siswa mencatat hasil yang ia peroleh dari pemberian tugas tersebut.
Ketika murid sudah melaksanakan tugas yang diberikan guru dalam artian murid akan mempertanggung jawabkannya di hadapan guru atau di depan murid yang lain maka guru hendaknya menyuruh siswa untuk membacakan hasilnya, mengadakan tanya jawab, dan menilai tugas yang telah disetorkan oleh murid dalam rangka memberikan motifasi kepada murid.
  1. Keuntungan Metode Resitasi
Setiap terjadinya sesuatu pasti ada dampak positif dan dampak negatifnya sama halnya dengan penerapan metode resitasi maka ada kelebihannya dan ada pula kelemahannya, dalam hal ini akan dijelaskan kelebihan dari metode resitasi.
Kelebihan metode resitasi adalah:
a.       Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktifitas belajar individual ataupun secara kelompok.
b.      Dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar pengawasan guru.
c.       Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa.
d.      Dapat mengembangkan kreatifitas siswa. (Djamarah dan Zain, 2002:98).
Dalam buku yang lain dijelaskan beberapa kelebihan penerapan metode resitasi di antaranya adalah:
a.       Pelajaran yang didapat oleh siswa akan lebih lama diingat.
b.      Murid berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab dan berdiri sendiri. (Didaktik metodik, 1984:59).
Dari kelebihan metode resitasi yang telah dipaparkan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan metode resitasi manfaatnya adalah memberikan kesempatan kepada siswa agar lebih kreatif dan penuh rasa tanggung jawab karena murid bekerja sebdiri sedangkan guru hanya mendampingi saja.
Kelebihan yang lain dari penerapan metode resitasi adalah memungkinkan siswa belajar sendiri di luar pengawasan guru dan mempergunakan waktu di luar jam sekolah untuk belajar karena bagaimnapun juga kalau siswa sudah diberi tugas maka akan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab.
  1. Kelemahan Metode Resitasi
Sebagaimana yang diketahui bersama bahwa setiap sesuatu pasti ada kelebihan dan kekurangannya maka di sini penulis akan menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan kelemahan dari penerapan metode resitasi.
Beberapa kelemahan penerapan metode resitasi adalah:
a.       Seringkali siswa melakukan penipuan dengam cara menyalin tugas temannya.
b.      Kadangkala tugas tidak dikerjakan sendiri.
c.       Kalau tugas sering diberikan akan mengganggu kepada mental siswa.
d.      Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan indifidual. (Didaktik metodik, 1984:59).
Di dalam buku yang lain juga dijelaskan beberapa kelemahan metode resitasi di antaranya adalah sebagai berikut:
a.       Siswa sulit dikontrol.
b.      Khusus tugas kelompok tidak jarang yang mengerjakan hanya satu orang saja yang lainnya tidak mengerjakan.
c.       Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan indifidu siswa.
d.      Sering memberikan tugas yang monoton dapat menimbulkan kebosanan. (Djamarah dan Zain, 2002:98).
Dari kelemahan penerapan metode resitasi guru dapat mengetahui bahwa murid itu komplek dan mempunyai banyak karakter oleh sebab itu guru harus mampu mengklasifikasikan murid tersebut agar dalam memberikan tugas tepat sasaran dan tujuan tercapai jangan sampai dengan adanya tugas murid jadi bosan dan tidak semangat untuk belajar.
Setiap penerapan metode pembelajaran pasti ada kelemahannya jadi tuntutan guru bagaimana agar dengan penerapan metode pembelajaran siswa bisa lebih aktif dan bisa memperdalami ilmunya dengan penuh tanggung jawab.
  1. Upaya Mengatasi Kelemahan
Dari sekian banyaknya kelemahan dari penerapan metode resitasi maka upaya untuk mengatasinya adalah:
a.       Mengontrol siswa dalam mengejakan tugas yang di berikan.
b.      Mengklasifikasikan murid yang mempunyai berbagai karakter agar dalam memberikan tugas tepat sasaran.
c.       Jangan menberikan tugas yang monoton, jadi guru harus mampu memberikan tugas yang berfariasi.
d.      Dalam memberikan tugas jangan terlalu sering karena akan menyebabkan kebosanan pada siswa.
e.       Selalu mengingatkan kepada siswa agar tugas yang diberikan harus dikerjakan sendiri tidak boleh dikerjakan orang lain.
Berbagai macam upaya yang dipaparkan di atas adalah suatu solusi agar dalam penerapan metode resitasi berdampak positif bagi siswa sehingga kelemahan yang ada dalam penerapan metode ini tidak terjadi.

Posted on 21.04 by Unknown

No comments



SOLUSI PROBLEMA REMAJA
DALAM MENGHADAPI ERA GLOBALISASI
PAPER

Posted on 21.03 by Unknown

No comments

FAKTOR FAKTOR YANG HARUS DIPERHATIKAN
DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA

MELALUI KEGIATAN ORGANISASI INTRA SEKOLAH (OSIS)























Oleh:
MOH ALI 
NIM: 2036
No Absen : 49












SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL-KHAIRAT PAMEKASAN
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
2009
DAFTAR ISI



Halaman Judul……………………………………………………………….. i
Daftar Isi……………………………………………………………………… ii
BAB I         : PENDAHULIAN
A.    Latar Belakang Masalah…………………………………. 1
B.     Rumusan Masalah…………………………………………2
C.    Tujuan Penulisan Makalah……………………………….3
BAB II        : LANDASAN TEORI
1.      Pengertian Tentang Peningkatan Prestasi Belajar……………………………………………..……..4
2.      Macam Macam Prestasi Belajar………………………..6
a.      Akademis………………………………………….6
b.      Non Akademis …………………………………...7
3.      Fungsi Perkembangan Belajar………………………….8
4.      Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Peningkatan  
      Prestasi Belajar……………………..………...................6
a.      Faktor Internal ………………………………...10
b.      Faktor Psikologi………………………………...10
BAB III       : PENUTUP
A.    Kesimpulan……………………………………………..15
B.     Saran……………………………………………………15
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Keberadaan sebuah organisasi sangat penting dalam merealisasikan tujuan kegiatan bersama. Selain itu, organisasi adalah media atau alat untuk menampung semua aspirasi, kemudian dilaksanakan dalam bentuk perbuatan aksi sebagai perwujudan dari keinginan bersama. Banyak sekali orang yang ingin mewujudkan keinginannya tidak melalui organisasi sehingga keinginan itu belum terwujud sepenuhnya.
Melakukan pekerjaan secara terorganisir adalah bagian dari proses kerja organisasi. Setiap personalia harus benar-benar melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab. Seperti hadist Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :
مَا ِمنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيَّهِ ا للهُ رَعِيَّة  يَمُوْتُ  يَوْم يَمُوْتُ وَ هُوَ غَاشِ لِرَعِيَّتِهِ اِلاَّ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهَ الجَنَّةَ { متفق عليه}
Artinya: “ Setiap hamba yang diserahi untuk memimpin rakyat oleh Allah, kemudian pada saat matinya ia dalam keadaan menipu rakyatnya, pasti Allah mengharamkan surga baginya “ ( HR. Bukhori dan Muslim ) (Hassan, 1996:729)

Dalam organisasi diperlukan personalia yang melakukan tugas berdasarkan tanggung jawab yang diembannya. Melalui personalia tersebut semua kegiatan dapat dilaksanakan dengan baik, tidak mungkin kegiatan organisasi akan berjalan tanpa adanya personalia yang bertanggung jawab akan tugas yang telah ditetapkan. Karena itu, personalia adalah bagian dari organisasi yang tak terpisahkan.
Agar kegiatan yang telah direncanakan tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diinginkan, maka perlu untuk diorganisir dengan baik. Dengan mengorganisir di sini, pencapaian tujuan dengan menetapkan orang-orang yang akan melaksanakan kegiatan organisasi, mengadakan pembagian kerja serta menetapkan kedudukan masing-masing dalam hubungan antara yang satu dengan yang lain.
Dengan demikian, organisasi dalam pengertian statis adalah merupakan suatu wadah atau tempat bekerja sama untuk melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Sedangkan organisasi dalam pengertian dinamis adalah “Suatu proses kerjasama antara dua orang atau lebih dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. (Nitisemito, 1978:73 ).
Sebagai Organasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), memiliki “tujuan sebagai wadah latihan berorganiasi, sarana penyambung inspirasi siswa dan memperlancar program-program sekolah” (Muker, 1999:3). Adapun hubungan OSIS dengan tujuan pendidikan yaitu  mengembangkan potensi siswa dengan penekanan terhadap jiwa pemimpin, pengembangan sikap, kepribadian profesional dan pelengkap, penambah terhadap pendidikan non formal.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas maka masalah-masalah yang akan dikaji dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Apa korelasi antara kegiatan OSIS dengan peningkatan prestasi belajar siswa ?
2.      Bagaimanakah korelasi antara kegiatan OSIS dengan peningkatan prestasi belajar siswa ?

C. Tujuan Penelitian

Ada beberapa hal yang ingin dicapai oleh penulis dalam melakukan penelitian, antara lain :
1.      Ingin mengetahui apa korelasi antara kegiatan OSIS dengan peningkatan prestasi belajar siswa.
2.      Ingin mengetahui bagaimanakah korelasi antara kegiatan OSIS dengan peningkatan prestasi belajar siswa.























BAB II
LANDASAN TOERI

A. Tinjauan Tentang Peningkatan Prestasi  Belajar
1.      Pengertian Peningkatan Prestasi Belajar
Dalam Kamus Besar Basaha Indonesia, “peningkatan yaitu selalu naik dan bertambah dari sebelumnya” (1994:1078). Dengan kata lain peningkatan juga berarti prestasi. Menurut Djamarah (1999:19), “Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individual maupun secara kelompok.
Menurut Qohar (dalam Djamarah, 1999:19), berpendapat bahwa “Prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja”.
Prestasi adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan pengusahaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat di dalam kurikulum.
Menurut Djauhari (1997:1), “belajar adalah sebuah proses dasar dari perkembangan manusia, hanya dengan belajar  manusia dapat melakukan perubahan-perubahan pada dirinya, baik secara kuantitatif ataupun kualitatif”.
Berbicara tentang prestasi, dalam Al-Qur’an telah diterangkan dalam surat Al-Baqarah : 148, yang berbunyi :
... فاستبقوا الخيرات... (البقرة:148)
Artinya : “…. Maka berlomba-lombalah kamu mengerjakan kebajikan …”. (Al-Baqarah, 2:148) (YPPA, 1971:38).
Bardasarkan ayat di atas penulis pahami bahwa Allah menegaskan kepada umat manusia untuk berlomba-lomba menuju ke jalan kebaikan, belajar itu wajib bagi umat manusia, mulai sejak lahir sampai ke liang lahat seperti sabda Nabi. Sebagai pencari ilmu (mahasiswa), kewajiban hanya belajar, karena dengan belajar akan menjadi orang yang dihormati dan Allah akan mengangkat derajatnya daripada orang yang tidak berilmu. Seperti firman Allah ;
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوتُوْا العِلْمَ دَرَجت (المجادلة:11)
Artinya : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Al-Mujadalah, 58:11) (YPPA, 1971:910).
Kembali pada lingkup belajar, sedangkan pengertian belajar menurut para ahli psikologi adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari praktik atau latihan (Sudjana, 1989:5). Menurut Skinner yang dikutip oleh Syah (1995:80), belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.
Adapun belajar menurut Sardiman (1987:22), mengatakan bahwa pengertian “belajar bisa dilihat dengan dua sudut yaitu makro dan mikro. Dilihat dalam arti makro atau luas, belajar adalah kegiatan psiko-fisik menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit, belajar adalah usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya”.
Dengan demikian yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku individu sebagai akibat dari pengetahuan yang diperoleh atau keterampilan yang dikembangkan pada pelajaran sekolah dan biasanya ditunjukkan dengan nilai-nilai pada test atau angka-angka hasil penugasan guru dan lain-lain.
Berpijak dari beberapa pengertian peningkatan prestasi belajar pendidikan agama Islam tersebut di atas, maka dapat ditarik suatu pengertian bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar pendidikan agama Islam adalah suatu hasil atau kemampuan yang dicapai oleh siswa sebagai bukti dari kesungguhan dan ketekunan belajar dalam usaha menuju terbentuknya kehidupan dan kepribadian yang baik dan utama yang sesuai dengan ajaran Islam.
Adapun pengertian prestasi belajar pendidikan agama Islam yang penulis maksud dalam pembahasan ini adalah suatu bukti keberhasilan yang dicapai atau diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk angka tertulis dan tertulis dalam buku raport.
Jadi pengertian prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku akibat dari pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh.

2.    Macam-Macam Perstasi Belajar
Komponen prestasi belajar dapat dibagi menjadi dua bagian   yaitu: akademis dan non akademis
a.      Akademis
Untuk mempertinggi tingkat intelektual timbul usaha mencapai “excellent” atau keunggulan yang diberi nama “meritocrasy” yaitu membentuk elite intelektual berdasarkan prestasi akademis. Dilihat dari segi akademisnya, bahwa siswa bukan hanya dinilai dari hasil ulangan saja, akan tetapi dinilai dari berbagai aspek di antaranya nilai prestasi keseharian baik itu amaliah, maupun tahriri yang dirampung dalam sebuah penilaian khusus yaitu rapor. Memang seorang guru mempunyai hak dan kewajiban untuk memberi penilaian terhadap hasil belajar anak didik dan siswa tersebut mempunyai hak untuk mengetahui hasil belajar mereka setiap bidang studi.
Menurut Nasution (1992:37) menyatakan bahwa “penilaian selalu memegang peranan penting dalam segala bentuk pengajaran yang efektif”.  Dengan penilaian akan diperoleh balikkan yang dipakai untuk memperbaiki bahan pengajaran untuk menyesuaikan bahan yang diperkembangkan ilmu pengetahuan, jadi penilaian berguna sampai dimanakah siswa telah mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Seorang guru tentu menyadari bahwa prestasi belajar sebagai reinforcement yang dapat memberikan motivasi kepada siswa, dengan mengetahui prestasi belajar, guru dapat mengambil tindakan konstruktif, baik siswa yang berprestasi dan siswa yang tidak berprestasi. Jadi hasil keseluruhan penilaian siswa dapat dilihat di dalam rapor. Hal ini penting karena mempertimbangkan prestasi yang diperoleh yang dalam arti luas berarti keberhasilan yang meliputi ranah cipta, rasa dan karsa siswa.
b.      Non Akademis
Banyak pernyataan tentang prestasi ini baik dinilai dari kesadaran emosionalnya seperti bakat, lomba-lomba, percaya diri/berani tampil.
Banyak contoh di sekitar kita membuktikan bahwa orang yang memiliki kecerdasan otak saja atau banyak memiliki gelar yang tinggi belum tentu berkiprah di dunia pekerjaan. Bahkan sering kali yang berpendidikan formal lebih rendah ternyata lebih banyak yang berhasil. Kebanyakan program pendidikan hanya berpusat pada kecerdasan (IQ) padahal yang diperlukan sebenarnya adalah bagaimana mengembangkan kecerdasan hati seperti ketangguhan, inisiatif, optimisme, kemampuan beradaptasi yang kini menjadi dasar penilaian baru.
Bahwa keterampilan teknik tidak seberapa penting dibandingkan kemampuan dasar untuk belajar, dalam pekerjaan yang bersangkutan di antaranya adalah kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi, adaptasi, kreatifitas, mental, kepercayaan diri dan motivasi. Hal ini bukan hanya didapati di bangku sekolah tetapi di luar akademik prestasi tersebut dapat diperoleh.
Dapat penulis simpulkan bahwa sebuah prestasi bukan hanya didapat dari lembaga formal saja di luar sekolah juga diperoleh.

3.   Fungsi Perkembangan Belajar
Perkembangan belajar itu dapat diketahui melalui serangkaian proses penilaian (evaluasi), sehingga dengan demikian fungsi perkembangan belajar ada kaitannya dengan fungsi penilaian (evaluasi).
Dalam hal perkembangan belajar ini setidaknya ada beberapa kegunaan (fungsi) yang dapat diperoleh oleh kedua belah pihak yang saling berinteraksi yakni guru dan murid antara lain :
a.      Bagi guru perkembangan belajar yang diperoleh melalui evaluasi berfungsi sebagai informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Dengan perkembangan belajar guru dapat mengetahui tingkat pencapaian siswa, tingkat pencapaian kurikulum dan lain-lain yang hal itu berguna bagi guru dalam proses pengambilan keputusan. Misalnya keputusan kenaikan kelas, seleksi atau peringkat atau keputusan dalam menentukan langkah-langkah yang harus ia tempuh sebagai perbaikan untuk masa-masa selanjutnya. Menurut Ardiwinata (1997:208), dengan informasi tersebut guru dapat pula mengamati dan mengantisipasi kendala-kendala yang dapat mempengaruhi perkembangan belajar pada masing-masing siswa.
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan setelah sebelumnya dilakukan analisis, penafsiran dan sebagainya
b.      Bagi siswa, perkembangan belajar yang diperoleh melalui evaluasi dapat berfungsi sebagai motivasi bagi mereka untuk memperbaiki atau meningkatkan prestasinya menjadi lebih baik.
Menurut Indrakusuma (1997:163), dengan perkembangan belajar tersebut siswa akan mengetahui kelemahan dan kelebihan dirinya.
Adanya pengetahuan tentang kemampuan sendiri, dengan anak mengetahui hasil-hasil atau prestasi-prestasi sendiri, dengan anak mengetahui apakah ia ada kemajuan atau sebaliknya ada kemunduran, maka hal ini dapat menjadi pendorong bagi anak untuk belajar lebih giat lagi
c.      Perkembangan belajar dapat pula berfungsi sebagai bahan pertanggung jawaban pihak-pihak yang punya tanggung jawab terhadap proses pendidikan siswa terhadap pihak-pihak yang berkepentingan dengan hal tersebut.
Menurut Ardiwinata (1997:211), “Hasil penilaian yang dicantumkan dalam raport dapat dijadikan sebagai bahan pertanggung jawaban siswa kepada orang tua yang telah memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan”

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Prestasi Belajar
Prestasi atau peningkatan belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik berasal dari dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Prestasi belajar yang dicapai siswa pada hakikatnya merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor tersebut. Oleh karena itu, pengenalan guru terhadap faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa penting sekali.
Menurut Purwanto, (1996:102), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar ada dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a)     Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa.
b)     Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan disekitar siswa.
Sumadi Suryabrata, mengklasifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dan hasil belajar, yaitu :
a.      Faktor Internal
Menurut Suryabrata (1991:249), “Faktor Internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri si pelajar. Faktor ini meliputi faktor fisiologi dan psikologis”.
1)     Faktor fisiologi, antara lain :
a)     Keadaan jasmani pada umumnya
Keadaan jasmani pada umumnya dapat dikatakan melatar belakangi aktivitas belajar siswa; misalnya keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar.
b)   Keadaan fungsi-fungsi jasmani tertentu
Dalam hal ini adalah fungsi-fungsi panca indera seperti mata, telinga dan sebagainya. Orang mengenal dunia sekitar-nya dan belajar dengan mempergunakan panca inderanya. Oleh karena itu, berfungsinya panca indra merupakan syarat dapatnya belajar itu berlangsung dengan baik.
2)     Faktor Psikologi
Yang dimaksud dengan faktor psikologi disini adalah suatu faktor atau hal yang dapat mendorong aktivitas belajar atau suatu faktor atau hal yang menjadi alasan dilakukannya belajar.
Dalam hal ini, menurut Frendsen yang dikutip oleh Suryabrata (1971:253), mengatakan bahwa yang mendorong seseorang untuk belajar antara lain :
-         Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas.
-         Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk selalu maju.
-         Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru dan teman-teman.
-         Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun dengan kompetisi;
-         Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajar;
-         Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir daripada belajar.
Selanjutnya, faktor yang dapat mempengaruhi belajar dan hasil belajar pada anak atau siswa, antara lain :




a)     Intelegensi
Menurut Chaplin (dalam Purwanto, 1996:56),
Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis, yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat
Intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai intelegensi yang rendah. Walaupun begitu, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi belum pasti berhasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan karena belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, sedangkan intelegensi adalah salah satu faktor diantara faktor yang lain.
b)     Perhatian
Menurut Gazali (dalam Djauhari, 1997:34), “perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu semata-mata tertuju kepada suatu obyek atau sekumpulan objek”.
Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar.

c)     Minat
Menurut Hilgrad (dalam Purwanto, 1996:73), “minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan”. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang. Oleh karenanya, minat mempunyai pengaruh yang besar terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajarinya tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya.
d)     Bakat
Menurut Hilgrad (dalam Purwanto, 1996:74), bakat adalah “Kemampuan untuk belajar. Dan kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih”.
Sebagai pendidik mengetahui dan menempatkan siswa sesuai dengan bakatnya sangatlah penting, karena bahan pelajaran yang dipelajari siswa yang sesuai dengan bakatnya, akan lebih berhasil dengan baik karena ia akan belajar dengan senang hati dan pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi dalam belajarnya itu.
e)     Motif
Menurut Hilgrad (dalam Purwanto, 1996:75), motif adalah “Daya penggerak atau pendorong manusia dalam melakukan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan”.
Dalam proses belajar harus diketahui apa yang mendorong siswa agar mau belajar dengan baik dan melaksanakan kegiatan yang dapat menunjang belajar. Motif-motif tersebut dapat ditanamkan kepada diri siswa dengan cara memberikan latihan-latihan dan kebiasaan-kebiasaan yang terkadang juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Oleh karenanya, motif yang kuat sangatlah perlu di dalam belajar agar siswa lebih bersungguh-sungguh dalam belajarnya.
f)      Kematangan
Menurut Hilgrad (dalam Purwanto, 1996:75), kematangan adalah “Suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru”.
Kematangan disini bukan berarti anak dapat melaksanakan kegiatan secara terus-menerus, untuk itu diperlukan adanya latihan-latihan dan pelajaran. Dengan kata lain, anak yang matang belum tentu dapat melaksanakan kecakapannya sebelum belajar. Dan belajar akan lebih berhasil jika anak sudah siap atau matang.














BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat mengambil berberapa kesimpulan terhadap penelitian ini diantaranya ialah :
1.      Kegiatan OSIS memiliki korelasi positif dengan peningkatan prestasi belajar siswa.
2.      Korelasi antara kegiatan OSIS dengan peningkatan prestasi belajar sangat diharapkan akan pengaruhnya.

B. Saran
Seteleh melihat hasil penelitian ini, maka penulis memberikan saran-saran sebagai berikut :
1.      Kepada kepala sekolah, disarankan agar selalu memberikan motivasi kepada guru-guru untuk selalu memberikan peran yang positif ikut mengawasi jalannya program OSIS.
2.      Kepada guru-guru diharapkan berusaha untuk menciptakan peran positif dengan ikut mengawasi dan memberikan bimbingan guna terciptanya hubungan kondusif dan lancarnya program yang telah ditetapkan.
3.      Kepada siswa diharapkan berperan aktif dalam kegiatan OSIS karena OSIS merupakan sarana latihan kepemimpinan yang kelak pasti akan bermanfaat di masyarakat.






DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi, 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:PT. Rineka Cipta
Departemen Pendidikan dan  Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1990.
---------------, 1995, Bahan Penataran P-4 bagi Siswa, Jakarta:Tim Nasional Penataran P-4
Dhofir, Syarqowi ,. 1997. Pengantar Metodologi Riset Dengan Spektrum Islami, Prenduan: Percetakan  Al-Amien
---------------,. 1997. Pengantar Metodologi Riset. Prenduan : Iman Bela
Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar, Bandung, Psikologi Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya
Djauhari, Moh. Idris tp. Disiplin dan Hidup Berdisiplin (Seri Kuliah Kepondokan 3), Prenduan: Al-Amien Printing
--------------- 1997. Hakekat Pesantren Dan Kunci Sukses Belajar Di Dalamnya. Prenduan : Al-Amien Printing
Echols, John M. dan Shadily, Hassan, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta :PT. Gramedia
Gita sudarmo, Manajemen Suatu Pengantar, Jakarta:Balai Pustaka
Hadi, Sutrisno. 1989. Metodologi Research I, Jakarta: Andi Off Set
Handoko, tp. Dasar-dasar Manejemen, Jakarta: PT. Gramedia
Hassan, 1996, Tarjemah Bulughul Maram, Bandung:CV. Diponegoro
Herujito, M. Yayat,. 2001, Dasar-dasar Manajemen, Jakarta: PT Grasindo
Moekijat, 1989, Dasar-dasar Administrasi dan Manajemen Perusahaan. Bandung; Mandar Maju
Musyawarah Kerja (MUKER), 1999,  Program Kerja OSIS, Sumenep:MTs. Raudlatu Ihsan
Purwanto, Ngalim,1996, Psikologi Pendidikan, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya
Sardiman, 2001, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta:PT Raja Grafindo Persada
Sukama, 1992, Dasar-dasar Manajemen, Bandung :Maju Mundur
Suryabrata, 2002, Proses Belajar Mengajar di  Sekolah, Jakarta:PT. Rineka Cipta
Syah , Muhibbin, 2001, Psikologi Belajar, Jakarta, Logos Wacana Ilmu
Tim Penyusun, 1999, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta :Balai Pustaka
Tunggal, Amin Widaja, , 1993, Manajemen Suatu Pengantar, Jakarta:Reneka Cipta
Yayasan Penyelenggara dan Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, 1971. Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta:Departemen Agama RI













DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL              ............................................................................... i
HALAMAN PEMBIMBING             ................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN          .................................................................... iii
HALAMAN MOTTO             .............................................................................. iv
HALAMAN PERSEMBAHAN            ............................................................... v
KATA PENGANTAR            ............................................................................... vi
DAFTAR ISI            .............................................................................................. viii
DAFTAR TABEL           ...................................................................................... xi
ABSTRAKSI           .............................................................................................. xii
BAB I : PENDAHULUAN                                                                                
            A. Latar Belakang Masalah        ............................................................ 1
            B. Rumusan Masalah        ....................................................................... 4
            C. Tujuan Penelitian         ....................................................................... 4
            D. Kegunaan Penelitian         .................................................................. 5
            E. Postulat dan Hipotesis       ................................................................. 6
            F. Ruang Lingkup Penelitian       ........................................................... 7
            G. Alasan Memilih Judul      .................................................................. 8
            H. Penegasan Judul           ....................................................................... 8
            I. Sistematika Pembahasan      ............................................................... 10
BAB II : LANDASAN TEORI
........... A.  Kajian Teoritis tentang OSIS
                  1. Pengertian Organisasi      ............................................................. 12
                  2. Pengertian OSIS         .................................................................... 13
                  3. Manajemen OSIS         .................................................................. 14
                  4. Fungsi dan Peranan Manajemen OSIS      .................................. 16
                  5. Prinsip-prinsip OSIS        .............................................................. 17
                  6. Pengawasan dan Pengendalian OSIS     ..................................... 18
                  7. Program Kerja Pimpinan atau Ketua OSIS       .......................... 21
            B.  Tinjauan Teoritis tentang Peningkatan Prestasi Belajar
                  1. Pengertian Peningkatan Prestasi Belajar   ................................. 22
                  2. Macam-macam Prestasi Belajar      ............................................ 25
                  3. Fungsi Perkembangan Belajar    ................................................. 28
                  4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Belajar ....... 30
C. Pengaruh OSIS terhadap  Peningkatan Belajar                            
1. Melatih Siswa Bermental Pemimpin      ..................................... 37
2. Meningkatkan Prestasi di Bidang Intra Kurikuler .................... 39
3. Menigkatkan Prestasi di Bidang Kokurikuler    ....................... 40
4. Meningkatkan Perstasi di Bidang Ekstra Korikuler   .............. 41
BAB III :  METODOLOGI PENELITIAN
A.    Pengertian Metodologi Penelitian        ........................................... 43
B.     Rancangan Penelitian         ............................................................... 43
C.     Metode Penentuan Subjek Penelitian      ....................................... 44
D.    Metode Pengupulan Data       ........................................................... 45
E.     Instrumen Penelitian          ................................................................ 49
F.      Teknik Analisis Data        ................................................................. 50
BAB IV : LAPORAN HASIL PENELITIAN
            A. Tahap Persiapan           ....................................................................... 52
            B. Tahap Pelaksanaan        ..................................................................... 53
            C. Tahap Penyajian Data       .................................................................. 53
BAB V : ANALISIS DATA             .................................................................... 61
BAB V : PENUTUP
            A. Kesimpulan          ................................................................................ 68
            B. Saran-saran          ................................................................................ 68
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN




Posted on 21.02 by Unknown

No comments