FAKTOR FAKTOR YANG HARUS DIPERHATIKAN
DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR
SISWA
MELALUI KEGIATAN ORGANISASI INTRA
SEKOLAH (OSIS)

Oleh:
MOH ALI
NIM: 2036
No Absen : 49
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL-KHAIRAT
PAMEKASAN
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
2009
DAFTAR ISI
Halaman Judul……………………………………………………………….. i
Daftar Isi……………………………………………………………………… ii
BAB I :
PENDAHULIAN
A.
Latar
Belakang Masalah…………………………………. 1
B.
Rumusan
Masalah…………………………………………2
C.
Tujuan
Penulisan Makalah……………………………….3
BAB II :
LANDASAN TEORI
1.
Pengertian Tentang
Peningkatan Prestasi Belajar……………………………………………..……..4
2.
Macam Macam
Prestasi Belajar………………………..6
a.
Akademis………………………………………….6
b.
Non Akademis …………………………………...7
3.
Fungsi
Perkembangan Belajar………………………….8
4.
Faktor Faktor
Yang Mempengaruhi Peningkatan
Prestasi
Belajar……………………..………...................6
a.
Faktor
Internal ………………………………...10
b.
Faktor
Psikologi………………………………...10
BAB III :
PENUTUP
A.
Kesimpulan……………………………………………..15
B.
Saran……………………………………………………15
DAFTAR PUSTAKA
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Keberadaan sebuah organisasi sangat
penting dalam merealisasikan tujuan kegiatan bersama. Selain itu, organisasi
adalah media atau alat untuk menampung semua aspirasi, kemudian dilaksanakan
dalam bentuk perbuatan aksi sebagai perwujudan dari keinginan bersama. Banyak
sekali orang yang ingin mewujudkan keinginannya tidak melalui organisasi
sehingga keinginan itu belum terwujud sepenuhnya.
Melakukan pekerjaan secara
terorganisir adalah bagian dari proses kerja organisasi. Setiap personalia
harus benar-benar melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab. Seperti
hadist Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :
مَا ِمنْ عَبْدٍ
يَسْتَرْعِيَّهِ ا للهُ رَعِيَّة
يَمُوْتُ يَوْم يَمُوْتُ وَ هُوَ
غَاشِ لِرَعِيَّتِهِ اِلاَّ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهَ الجَنَّةَ { متفق عليه}
Artinya: “ Setiap hamba
yang diserahi untuk memimpin rakyat oleh Allah, kemudian pada saat matinya ia
dalam keadaan menipu rakyatnya, pasti Allah mengharamkan surga baginya “ ( HR.
Bukhori dan Muslim ) (Hassan, 1996:729)
Dalam organisasi diperlukan personalia yang
melakukan tugas berdasarkan tanggung jawab yang diembannya. Melalui personalia
tersebut semua kegiatan dapat dilaksanakan dengan baik, tidak mungkin kegiatan
organisasi akan berjalan tanpa adanya personalia yang bertanggung jawab akan
tugas yang telah ditetapkan. Karena itu, personalia adalah bagian dari
organisasi yang tak terpisahkan.
Agar kegiatan yang telah direncanakan
tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diinginkan, maka perlu untuk
diorganisir dengan baik. Dengan mengorganisir di sini, pencapaian tujuan dengan
menetapkan orang-orang yang akan melaksanakan kegiatan organisasi, mengadakan
pembagian kerja serta menetapkan kedudukan masing-masing dalam hubungan antara
yang satu dengan yang lain.
Dengan demikian, organisasi dalam pengertian
statis adalah merupakan suatu wadah atau tempat bekerja sama untuk melaksanakan
tugas-tugas sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Sedangkan organisasi
dalam pengertian dinamis adalah “Suatu proses kerjasama antara dua orang atau
lebih dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu”.
(Nitisemito, 1978:73 ).
Sebagai Organasi Siswa Intra Sekolah (OSIS),
memiliki “tujuan sebagai wadah latihan berorganiasi, sarana penyambung
inspirasi siswa dan memperlancar program-program sekolah” (Muker, 1999:3).
Adapun hubungan OSIS dengan tujuan pendidikan yaitu mengembangkan potensi siswa dengan penekanan
terhadap jiwa pemimpin, pengembangan sikap, kepribadian profesional dan
pelengkap, penambah terhadap pendidikan non formal.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas maka
masalah-masalah yang akan dikaji dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.
Apa korelasi antara
kegiatan OSIS dengan peningkatan prestasi belajar siswa ?
2.
Bagaimanakah korelasi antara
kegiatan OSIS dengan peningkatan prestasi belajar siswa ?
C. Tujuan Penelitian
Ada beberapa
hal yang ingin dicapai oleh penulis dalam melakukan penelitian, antara lain :
1.
Ingin mengetahui apa korelasi antara
kegiatan OSIS dengan peningkatan prestasi belajar siswa.
2.
Ingin mengetahui bagaimanakah
korelasi
antara kegiatan OSIS dengan peningkatan prestasi belajar siswa.
BAB II
LANDASAN TOERI
A. Tinjauan Tentang Peningkatan
Prestasi Belajar
1.
Pengertian
Peningkatan Prestasi Belajar
Dalam Kamus Besar Basaha Indonesia, “peningkatan yaitu
selalu naik dan bertambah dari sebelumnya” (1994:1078). Dengan kata lain
peningkatan juga berarti prestasi. Menurut Djamarah (1999:19), “Prestasi adalah
hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara
individual maupun secara kelompok.
Menurut
Qohar (dalam Djamarah, 1999:19), berpendapat bahwa “Prestasi adalah apa yang
telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh
dengan jalan keuletan kerja”.
Prestasi
adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang
berkenaan dengan pengusahaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta
nilai-nilai yang terdapat di dalam kurikulum.
Menurut Djauhari (1997:1), “belajar adalah sebuah proses
dasar dari perkembangan manusia, hanya dengan belajar manusia dapat melakukan perubahan-perubahan
pada dirinya, baik secara kuantitatif ataupun kualitatif”.
Berbicara
tentang prestasi, dalam Al-Qur’an telah diterangkan dalam surat Al-Baqarah : 148, yang berbunyi :
... فاستبقوا الخيرات...
(البقرة:148)
Artinya : “…. Maka berlomba-lombalah kamu mengerjakan kebajikan
…”. (Al-Baqarah, 2:148) (YPPA,
1971:38).
Bardasarkan ayat di atas penulis pahami bahwa Allah menegaskan
kepada umat manusia untuk berlomba-lomba menuju ke jalan kebaikan, belajar itu
wajib bagi umat manusia, mulai sejak lahir sampai ke liang lahat seperti sabda
Nabi. Sebagai pencari ilmu (mahasiswa), kewajiban hanya belajar, karena dengan
belajar akan menjadi orang yang dihormati dan Allah akan mengangkat derajatnya
daripada orang yang tidak berilmu. Seperti firman Allah ;
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا
مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوتُوْا العِلْمَ دَرَجت (المجادلة:11)
Artinya :
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Al-Mujadalah, 58:11) (YPPA,
1971:910).
Kembali pada lingkup belajar, sedangkan
pengertian belajar menurut para ahli psikologi adalah suatu perubahan yang
relatif permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari
praktik atau latihan (Sudjana, 1989:5). Menurut Skinner yang dikutip oleh Syah (1995:80),
belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang
berlangsung secara progresif.
Adapun belajar menurut Sardiman (1987:22), mengatakan bahwa
pengertian “belajar bisa dilihat dengan dua sudut yaitu makro dan mikro.
Dilihat dalam arti makro atau luas, belajar adalah kegiatan psiko-fisik menuju
ke perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit, belajar adalah
usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan
menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya”.
Dengan demikian yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah
perubahan tingkah laku individu sebagai akibat dari pengetahuan yang diperoleh
atau keterampilan yang dikembangkan pada pelajaran sekolah dan biasanya
ditunjukkan dengan nilai-nilai pada test atau angka-angka hasil penugasan guru
dan lain-lain.
Berpijak dari beberapa pengertian peningkatan prestasi belajar
pendidikan agama Islam tersebut di atas, maka dapat ditarik suatu pengertian
bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar pendidikan agama Islam adalah suatu
hasil atau kemampuan yang dicapai oleh siswa sebagai bukti dari kesungguhan dan
ketekunan belajar dalam usaha menuju terbentuknya kehidupan dan kepribadian
yang baik dan utama yang sesuai dengan ajaran Islam.
Adapun pengertian prestasi belajar pendidikan agama Islam yang
penulis maksud dalam pembahasan ini adalah suatu bukti keberhasilan yang
dicapai atau diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran Pendidikan Agama Islam
di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk angka tertulis dan tertulis dalam buku
raport.
Jadi pengertian prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku
akibat dari pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh.
2. Macam-Macam
Perstasi Belajar
Komponen
prestasi belajar dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu: akademis dan non akademis
a.
Akademis
Untuk mempertinggi tingkat intelektual timbul usaha mencapai “excellent” atau keunggulan yang diberi
nama “meritocrasy” yaitu membentuk
elite intelektual berdasarkan prestasi akademis. Dilihat dari segi akademisnya,
bahwa siswa bukan hanya dinilai dari hasil ulangan saja, akan tetapi dinilai
dari berbagai aspek di antaranya nilai prestasi keseharian baik itu amaliah, maupun tahriri yang dirampung dalam sebuah penilaian khusus yaitu rapor.
Memang seorang guru mempunyai hak dan kewajiban untuk memberi penilaian
terhadap hasil belajar anak didik dan siswa tersebut mempunyai hak untuk
mengetahui hasil belajar mereka setiap bidang studi.
Menurut Nasution (1992:37) menyatakan bahwa “penilaian selalu
memegang peranan penting dalam segala bentuk pengajaran yang efektif”. Dengan penilaian akan diperoleh balikkan yang
dipakai untuk memperbaiki bahan pengajaran untuk menyesuaikan bahan yang
diperkembangkan ilmu pengetahuan, jadi penilaian berguna sampai dimanakah siswa
telah mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Seorang guru tentu menyadari bahwa prestasi belajar sebagai reinforcement yang dapat memberikan
motivasi kepada siswa, dengan mengetahui prestasi belajar, guru dapat mengambil
tindakan konstruktif, baik siswa yang berprestasi dan siswa yang tidak
berprestasi. Jadi hasil keseluruhan penilaian siswa dapat dilihat di dalam
rapor. Hal ini penting karena mempertimbangkan prestasi yang diperoleh yang
dalam arti luas berarti keberhasilan yang meliputi ranah cipta, rasa dan karsa
siswa.
b.
Non Akademis
Banyak pernyataan tentang prestasi ini baik dinilai dari kesadaran
emosionalnya seperti bakat, lomba-lomba, percaya diri/berani tampil.
Banyak contoh di sekitar kita membuktikan bahwa orang yang
memiliki kecerdasan otak saja atau banyak memiliki gelar yang tinggi belum
tentu berkiprah di dunia pekerjaan. Bahkan sering kali yang berpendidikan
formal lebih rendah ternyata lebih banyak yang berhasil. Kebanyakan program
pendidikan hanya berpusat pada kecerdasan (IQ) padahal yang diperlukan
sebenarnya adalah bagaimana mengembangkan kecerdasan hati seperti ketangguhan,
inisiatif, optimisme, kemampuan beradaptasi yang kini menjadi dasar penilaian
baru.
Bahwa keterampilan teknik tidak seberapa penting dibandingkan
kemampuan dasar untuk belajar, dalam pekerjaan yang bersangkutan di antaranya
adalah kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi, adaptasi, kreatifitas, mental,
kepercayaan diri dan motivasi. Hal ini bukan hanya didapati di bangku sekolah
tetapi di luar akademik prestasi tersebut dapat diperoleh.
Dapat penulis simpulkan bahwa sebuah prestasi bukan hanya didapat
dari lembaga formal saja di luar sekolah juga diperoleh.
3. Fungsi
Perkembangan Belajar
Perkembangan belajar itu dapat diketahui melalui
serangkaian proses penilaian (evaluasi), sehingga dengan demikian fungsi
perkembangan belajar ada kaitannya dengan fungsi penilaian (evaluasi).
Dalam hal perkembangan belajar ini setidaknya ada beberapa
kegunaan (fungsi) yang dapat diperoleh oleh kedua belah pihak yang saling
berinteraksi yakni guru dan murid antara lain :
a.
Bagi guru perkembangan
belajar yang diperoleh melalui evaluasi berfungsi sebagai informasi yang
bermakna dalam pengambilan keputusan. Dengan perkembangan belajar guru dapat
mengetahui tingkat pencapaian siswa, tingkat pencapaian kurikulum dan lain-lain
yang hal itu berguna bagi guru dalam proses pengambilan keputusan. Misalnya
keputusan kenaikan kelas, seleksi atau peringkat atau keputusan dalam
menentukan langkah-langkah yang harus ia tempuh sebagai perbaikan untuk masa-masa
selanjutnya. Menurut Ardiwinata (1997:208), dengan informasi tersebut guru
dapat pula mengamati dan mengantisipasi kendala-kendala yang dapat mempengaruhi
perkembangan belajar pada masing-masing siswa.
Penilaian
merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh informasi
mengenai proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan
berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan
keputusan setelah sebelumnya dilakukan analisis, penafsiran dan sebagainya
b.
Bagi siswa, perkembangan belajar yang diperoleh melalui evaluasi
dapat berfungsi sebagai motivasi bagi mereka untuk memperbaiki atau
meningkatkan prestasinya menjadi lebih baik.
Menurut Indrakusuma (1997:163), dengan perkembangan belajar
tersebut siswa akan mengetahui kelemahan dan kelebihan dirinya.
Adanya pengetahuan tentang kemampuan sendiri, dengan anak
mengetahui hasil-hasil atau prestasi-prestasi sendiri, dengan anak mengetahui
apakah ia ada kemajuan atau sebaliknya ada kemunduran, maka hal ini dapat
menjadi pendorong bagi anak untuk belajar lebih giat lagi
c.
Perkembangan belajar dapat pula berfungsi sebagai bahan
pertanggung jawaban pihak-pihak yang punya tanggung jawab terhadap proses
pendidikan siswa terhadap pihak-pihak yang berkepentingan dengan hal tersebut.
Menurut
Ardiwinata (1997:211), “Hasil penilaian yang dicantumkan dalam raport dapat
dijadikan sebagai bahan pertanggung jawaban siswa kepada orang tua yang telah
memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan”
4.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Prestasi Belajar
Prestasi
atau peningkatan belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik
berasal dari dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Prestasi
belajar yang dicapai siswa pada hakikatnya merupakan hasil interaksi antara
berbagai faktor tersebut. Oleh karena itu, pengenalan guru terhadap faktor yang
dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa penting sekali.
Menurut
Purwanto, (1996:102), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar
ada dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a) Faktor internal (faktor
dari dalam siswa), yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa.
b) Faktor eksternal (faktor
dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan disekitar siswa.
Sumadi
Suryabrata, mengklasifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dan
hasil belajar, yaitu :
a.
Faktor Internal
Menurut Suryabrata (1991:249), “Faktor Internal adalah
faktor-faktor yang berasal dari dalam diri si pelajar. Faktor ini meliputi
faktor fisiologi dan psikologis”.
1) Faktor fisiologi, antara
lain :
a) Keadaan jasmani pada
umumnya
Keadaan jasmani pada umumnya dapat dikatakan melatar belakangi
aktivitas belajar siswa; misalnya keadaan jasmani yang segar akan lain
pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar.
b) Keadaan fungsi-fungsi jasmani tertentu
Dalam hal ini adalah fungsi-fungsi panca indera seperti mata,
telinga dan sebagainya. Orang mengenal dunia sekitar-nya dan belajar dengan
mempergunakan panca inderanya. Oleh karena itu, berfungsinya panca indra
merupakan syarat dapatnya belajar itu berlangsung dengan baik.
2) Faktor Psikologi
Yang dimaksud dengan faktor psikologi disini adalah suatu faktor
atau hal yang dapat mendorong aktivitas belajar atau suatu faktor atau hal yang
menjadi alasan dilakukannya belajar.
Dalam hal ini, menurut Frendsen yang dikutip oleh Suryabrata
(1971:253), mengatakan bahwa yang mendorong seseorang untuk belajar antara lain
:
-
Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih
luas.
-
Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan
untuk selalu maju.
-
Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru
dan teman-teman.
-
Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan
usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun dengan kompetisi;
-
Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai
pelajar;
-
Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir daripada belajar.
Selanjutnya, faktor yang dapat mempengaruhi belajar dan hasil
belajar pada anak atau siswa, antara lain :
a) Intelegensi
Menurut Chaplin (dalam Purwanto, 1996:56),
Intelegensi
adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis, yaitu kecakapan untuk menghadapi
dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif,
menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan
mempelajarinya dengan cepat
Intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dalam
situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan
lebih berhasil daripada yang mempunyai intelegensi yang rendah. Walaupun begitu,
siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi belum pasti berhasil dalam
belajarnya. Hal ini disebabkan karena belajar adalah suatu proses yang kompleks
dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, sedangkan intelegensi adalah salah
satu faktor diantara faktor yang lain.
b) Perhatian
Menurut Gazali (dalam Djauhari, 1997:34), “perhatian adalah
keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu semata-mata tertuju kepada suatu
obyek atau sekumpulan objek”.
Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus
mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran
tidak menjadi perhatian siswa maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi
suka belajar.
c) Minat
Menurut Hilgrad (dalam Purwanto, 1996:73), “minat adalah
kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan”.
Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus-menerus yang disertai
dengan rasa senang. Oleh karenanya, minat mempunyai pengaruh yang besar
terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajarinya tidak sesuai
dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena
tidak ada daya tarik baginya.
d) Bakat
Menurut Hilgrad (dalam Purwanto, 1996:74), bakat adalah “Kemampuan
untuk belajar. Dan kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang
nyata sesudah belajar atau berlatih”.
Sebagai pendidik mengetahui dan menempatkan siswa sesuai dengan
bakatnya sangatlah penting, karena bahan pelajaran yang dipelajari siswa yang
sesuai dengan bakatnya, akan lebih berhasil dengan baik karena ia akan belajar
dengan senang hati dan pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi dalam belajarnya
itu.
e) Motif
Menurut Hilgrad (dalam Purwanto, 1996:75), motif adalah “Daya
penggerak atau pendorong manusia dalam melakukan sesuatu untuk mencapai suatu
tujuan”.
Dalam proses belajar harus diketahui apa yang mendorong siswa agar
mau belajar dengan baik dan melaksanakan kegiatan yang dapat menunjang belajar.
Motif-motif tersebut dapat ditanamkan kepada diri siswa dengan cara memberikan
latihan-latihan dan kebiasaan-kebiasaan yang terkadang juga dipengaruhi oleh
keadaan lingkungan. Oleh karenanya, motif yang kuat sangatlah perlu di dalam
belajar agar siswa lebih bersungguh-sungguh dalam belajarnya.
f)
Kematangan
Menurut Hilgrad (dalam Purwanto, 1996:75), kematangan adalah
“Suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya
sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru”.
Kematangan disini bukan berarti anak dapat melaksanakan kegiatan
secara terus-menerus, untuk itu diperlukan adanya latihan-latihan dan
pelajaran. Dengan kata lain, anak yang matang belum tentu dapat melaksanakan
kecakapannya sebelum belajar. Dan belajar akan lebih berhasil jika anak sudah
siap atau matang.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat mengambil berberapa
kesimpulan
terhadap penelitian ini diantaranya ialah :
1.
Kegiatan
OSIS memiliki korelasi positif dengan peningkatan prestasi belajar siswa.
2.
Korelasi
antara kegiatan OSIS dengan peningkatan prestasi belajar sangat diharapkan akan
pengaruhnya.
B. Saran
Seteleh melihat hasil penelitian ini, maka penulis memberikan
saran-saran sebagai berikut :
1.
Kepada kepala sekolah, disarankan agar selalu memberikan motivasi
kepada guru-guru untuk selalu memberikan peran yang positif ikut mengawasi
jalannya program OSIS.
2.
Kepada guru-guru diharapkan berusaha untuk menciptakan peran
positif dengan ikut mengawasi dan memberikan bimbingan guna terciptanya
hubungan kondusif dan lancarnya program yang telah ditetapkan.
3.
Kepada siswa diharapkan berperan aktif dalam kegiatan OSIS karena
OSIS merupakan sarana latihan kepemimpinan yang kelak pasti akan bermanfaat di
masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, 1998. Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:PT.
Rineka Cipta
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1990.
---------------, 1995, Bahan Penataran
P-4 bagi Siswa, Jakarta:Tim
Nasional Penataran P-4
Dhofir, Syarqowi ,. 1997. Pengantar Metodologi Riset Dengan Spektrum
Islami, Prenduan: Percetakan
Al-Amien
---------------,. 1997. Pengantar Metodologi Riset. Prenduan : Iman Bela
Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi
Belajar, Bandung,
Psikologi Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya
Djauhari, Moh. Idris tp. Disiplin dan Hidup
Berdisiplin (Seri Kuliah Kepondokan 3), Prenduan: Al-Amien Printing
--------------- 1997. Hakekat Pesantren Dan
Kunci Sukses Belajar Di Dalamnya. Prenduan : Al-Amien
Printing
Echols, John M. dan Shadily, Hassan, Kamus
Inggris Indonesia, Jakarta
:PT. Gramedia
Gita sudarmo, Manajemen Suatu Pengantar, Jakarta:Balai Pustaka
Hadi, Sutrisno. 1989. Metodologi Research I, Jakarta:
Andi Off Set
Handoko, tp. Dasar-dasar Manejemen, Jakarta:
PT. Gramedia
Hassan, 1996, Tarjemah Bulughul Maram, Bandung:CV. Diponegoro
Herujito, M. Yayat,. 2001, Dasar-dasar
Manajemen, Jakarta:
PT Grasindo
Moekijat, 1989, Dasar-dasar Administrasi
dan Manajemen Perusahaan. Bandung;
Mandar Maju
Musyawarah Kerja (MUKER), 1999, Program Kerja OSIS, Sumenep:MTs.
Raudlatu Ihsan
Purwanto, Ngalim,1996, Psikologi
Pendidikan, Bandung,
PT. Remaja Rosdakarya
Sardiman, 2001, Interaksi dan Motivasi
Belajar Mengajar, Jakarta:PT
Raja Grafindo Persada
Sukama, 1992, Dasar-dasar Manajemen, Bandung :Maju Mundur
Suryabrata, 2002, Proses
Belajar Mengajar di Sekolah, Jakarta:PT. Rineka Cipta
Syah , Muhibbin, 2001, Psikologi Belajar,
Jakarta,
Logos Wacana Ilmu
Tim Penyusun, 1999, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta :Balai Pustaka
Tunggal, Amin Widaja, , 1993, Manajemen
Suatu Pengantar, Jakarta:Reneka
Cipta
Yayasan Penyelenggara dan
Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, 1971. Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta:Departemen Agama
RI
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL ............................................................................... i
HALAMAN
PEMBIMBING ................................................................... ii
HALAMAN
PENGESAHAN .................................................................... iii
HALAMAN
MOTTO .............................................................................. iv
HALAMAN
PERSEMBAHAN ............................................................... v
KATA
PENGANTAR ............................................................................... vi
DAFTAR
ISI .............................................................................................. viii
DAFTAR
TABEL ...................................................................................... xi
ABSTRAKSI .............................................................................................. xii
BAB I :
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ............................................................ 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................... 4
C. Tujuan Penelitian ....................................................................... 4
D. Kegunaan Penelitian .................................................................. 5
E. Postulat dan Hipotesis ................................................................. 6
F. Ruang Lingkup Penelitian ........................................................... 7
G. Alasan Memilih Judul .................................................................. 8
H. Penegasan Judul ....................................................................... 8
I. Sistematika Pembahasan ............................................................... 10
BAB II :
LANDASAN TEORI
........... A. Kajian Teoritis tentang OSIS
1. Pengertian Organisasi ............................................................. 12
2. Pengertian OSIS .................................................................... 13
3. Manajemen OSIS .................................................................. 14
4. Fungsi dan Peranan
Manajemen OSIS .................................. 16
5. Prinsip-prinsip OSIS .............................................................. 17
6. Pengawasan dan Pengendalian
OSIS ..................................... 18
7. Program Kerja Pimpinan atau
Ketua OSIS .......................... 21
B.
Tinjauan Teoritis tentang Peningkatan Prestasi Belajar
1. Pengertian Peningkatan
Prestasi Belajar ................................. 22
2. Macam-macam Prestasi
Belajar ............................................ 25
3. Fungsi Perkembangan Belajar ................................................. 28
4. Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Peningkatan Belajar ....... 30
C.
Pengaruh OSIS terhadap Peningkatan
Belajar
1. Melatih Siswa Bermental
Pemimpin ..................................... 37
2. Meningkatkan Prestasi di
Bidang Intra Kurikuler .................... 39
3. Menigkatkan Prestasi di
Bidang Kokurikuler ....................... 40
4. Meningkatkan Perstasi di
Bidang Ekstra Korikuler .............. 41
BAB III
: METODOLOGI PENELITIAN
A.
Pengertian Metodologi Penelitian ........................................... 43
B.
Rancangan Penelitian ............................................................... 43
C.
Metode Penentuan Subjek Penelitian ....................................... 44
D.
Metode Pengupulan Data ........................................................... 45
E.
Instrumen Penelitian ................................................................ 49
F.
Teknik Analisis Data ................................................................. 50
BAB IV :
LAPORAN HASIL PENELITIAN
A. Tahap Persiapan ....................................................................... 52
B. Tahap Pelaksanaan ..................................................................... 53
C. Tahap Penyajian Data .................................................................. 53
BAB V :
ANALISIS DATA .................................................................... 61
BAB V :
PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................ 68
B. Saran-saran ................................................................................ 68
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
0 komentar:
Posting Komentar