MANAJEMEN DAN STRATEGI DAKWAH
DALAM MERESPON PROBLEMATIKA UMAT


 


















Oleh :
MAS’UDI
                                                           NPM :










DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS TERBUKA
UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH SURABAYA
2011
BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Aktivitas  kegiatan  dakwah  dapat  dilakukan  dengan  berbagai  cara  atau metode  dan  direncanakan dengan  tujuan mencari kebahagiaan hidup dengan dasar keridhaan Allah  Swt. Dakwah  adalah  usaha  peningkatan  pemahanman  keagamaan  untuk  mengubah  pandangan hidup,  sikap  bathin  dan  perilaku  umat  yang  tidak  sesuai menjadi  sesuai  dengan  tuntunan syariat untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.  Dai harus mempunyai pemahaman  yang mendalam bukan  saja menganggap bahwa dakwah dalam  frame “amar ma’ruf nahi mungkar”,  sekedar menyampaikan  saja melainkan harus memenuhi beberapa  syarat,  yakni mencari materi  yang  cocok, mengetahui psikologis objek dakwah, memilih metode yang representatif, menggunakan bahasa yang bijaksana dan sebagainya. Secara konvensional,  subjek dakwah  terdiri dari dai  (mubaligh) dan pengelola dakwah. Komposisi subjek dakwah tersebut muncul karena dakwah selama ini lebih diartikan atau  dititikberatkan  pada  dialog  lisan  (verbal)  saja.
Dai  sering  diidentikkan  dengan penceramah,  sementara  pengelola  dakwah  adalah  penyelenggara  kegiatan  dakwah  yang dilembagakan dalam  institusi permanen (ta’mir masjid, pengurus pengajian dan sebagainya) atau  institusi  sementara  dalam  bentuk  kepanitiaan.  Subjek  dakwah,  lembaga  atau  pusat dakwah,  adalah  institusi  atau  organisasi  yang menjalankan  atau mempunyai  usaha  berupa kegiatan dakwah.
Mendakwahkan  Islam  berarti  memberikan  jawaban  Islam  terhadap  berbagai permasalahan  umat.  Karenanya  dakwah  Islam  selalu  terpanggil  untuk  menyelesaikan berbagai  permasalahan  yang  sedang  dan  akan  dihadapi  oleh  umat manusia. Meskipun misi dakwah  dari  dulu  sampai  kini  tetap  pada mengajak  umat manusia  ke  dalam  sistem  Islam, namun tantangan dakwah berupa problematika umat senantiasa berubah dari waktu kewaktu. Permasalahan yang dihadapi oleh umat selalu berbeda baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Namun demikian, permasalahan-permasalahan umat  tersebut perlu diidentifikasi dan  dicari  solusi  pemecahan  yang  relevan  dan  strategis  melalui  pendekatan-pendekatan dakwah yang sistematis, smart, dan profesional.

B.   Rumusan Masalah
                Membaca dan memahami latar belakang di atas maka penulis merumuskan pokok permasalahannya adalah bagaimana manajemen dan strategi dakwah dalam merespom problematika umat ?

C.   Tujuan dan Manfaat Penulisan
                 Salah satu tujuan dan manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.     Sebagai tambahan pengayaan wawasan
2.     Salah satu indicator suplemen pendukung kejayaan islam dan pemeluknya
3.     Sebagai upaya pembenahan manajemen dan strategi dakwah dalam merespom problematika umat
                                                

















BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Dakwah
Dakwah  adalah  usaha  peningkatan  pemahanman  keagamaan  untuk  mengubah  pandangan hidup,  sikap  bathin  dan  perilaku  umat  yang  tidak  sesuai menjadi  sesuai  dengan  tuntunan syariat untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.  Dai harus mempunyai pemahaman  yang mendalam bukan  saja menganggap bahwa dakwah dalam  frame “amar ma’ruf nahi mungkar”,  sekedar menyampaikan  saja melainkan harus memenuhi beberapa  syarat,  yakni mencari materi  yang  cocok, mengetahui psikologis objek dakwah, memilih metode yang representatif, menggunakan bahasa yang bijaksana dan sebagainya. Secara konvensional,  subjek dakwah  terdiri dari dai  (mubaligh) dan pengelola dakwah. Komposisi subjek dakwah tersebut muncul karena dakwah selama ini lebih diartikan atau  dititikberatkan  pada  dialog  lisan  (verbal)  saja.
Dai  sering  diidentikkan  dengan penceramah,  sementara  pengelola  dakwah  adalah  penyelenggara  kegiatan  dakwah  yang dilembagakan dalam  institusi permanen (ta’mir masjid, pengurus pengajian dan sebagainya) atau  institusi  sementara  dalam  bentuk  kepanitiaan.  Subjek  dakwah,  lembaga  atau  pusat dakwah,  adalah  institusi  atau  organisasi  yang menjalankan  atau mempunyai  usaha  berupa kegiatan dakwah.
Mendakwahkan  Islam  berarti  memberikan  jawaban  Islam  terhadap  berbagai permasalahan  umat.  Karenanya  dakwah  Islam  selalu  terpanggil  untuk  menyelesaikan berbagai  permasalahan  yang  sedang  dan  akan  dihadapi  oleh  umat manusia. Meskipun misi dakwah  dari  dulu  sampai  kini  tetap  pada mengajak  umat manusia  ke  dalam  sistem  Islam, namun tantangan dakwah berupa problematika umat senantiasa berubah dari waktu kewaktu. Permasalahan yang dihadapi oleh umat selalu berbeda baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Namun demikian, permasalahan-permasalahan umat  tersebut perlu diidentifikasi dan  dicari  solusi  pemecahan  yang  relevan  dan  strategis  melalui  pendekatan-pendekatan dakwah yang sistematis, smart, dan professional serta utuh.

B.  Melihat Problematika Umat
   Dinamisasi  kehidupan  global  yang  semakin  tinggi  dan  kompetitif  telah  mengiring umat manusia senantiasa memandang persoalan hidup  secara pragmatis,  logis,  serba  instan, dan bahkan matematis. Keadaan demikian di  samping membawa manfaat berupa kemajuan ilmu  pengetahuan  dan  teknologi  yang  semakin  memudahkan  aktifitas manusia,  juga  telah membawa  implikasi  negatif  berupa  lemahnya  semangat  transendental  dan  memudarnya hubungan-hubungan  sosial.  Implikasi  ini  berlangsung  demikian  lama,  sehingga  dewasa  ini telah melahirkan  berbagai  kenyataan  sosial  yang  cukup  bertentangan  dengan  cita-cita  ideal Islam.
    Realitas sosial di atas ada yang tidak sesuai dengan cita ideal Islam, karenanya harus diubah  melalui  dakwah  Islam.  Mengingat  kenyataan-kenyataan  sosial  tersebut  banyak dijumpai  dalam  beberapa  komunitas  Islam  dengan  permasalahan  yang  berbeda-beda, maka diperlukan paradigma baru dalam melakukan dakwah  Islam  yang mempertimbangkan  jenis dan  kualitas  permasalahan  yang  dihadapi  oleh  umat.  Di  sinilah  institusi-institusi  dakwah dituntut  dapat  melakukan  usaha-usaha  dakwah  secara  sistematis  dan  profesional  melalui langkah-langkah  yang  srategis,  sebagaimana  yang  diisyaratan  dalam  surat  at-Taubah  ayat 105 yang artinya: bekerjalah kamu (secara profesional) maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-
orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.

C.  Strategi Dakwah dalam Merespon Problematika Umat
   Untuk mengatasi  berbagai  persoalan  umat  yang  begitu  kompleks,  institusi  dakwah tidak cukup hanya dengan dengan melakukan program dakwah yang konvensional, sporadis, dan  reaktif,  tetapi  harus  bersifat  profesional,  strategis,  dan  pro-aktif. Menghadapi  sasaran dakwah  (mad’u)  yang  semakin  kritis  dan  tantangan  dunia  global  yang  makin  kompleks dewasa  ini, maka diperlukan strategi dakwah yang mantap, sehingga aktivitas dakwah yang dilakukan dapat bersaing di tengah bursa informasi yang semakin kompetitif.
Ada  beberapa  rancangan  dakwah  yang  dapat  dilakukan  untuk  menjawab
permasalahan dewasa ini, yaitu:
  1. Memfokuskan aktivitas dakwah untuk mengentaskan kemiskinan umat
  2. Menyiapkan elit strategis Muslim untuk disuplai ke berbagai jalur kepemimpinan bangsa sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.
  3. Membuat peta sosial umat sebagai informasi awal bagi  pengembangan dakwah
  4. Mengintregasikan  wawasan  etika,  estetika,  logika,  dan  budaya  dalam  berbagai perencanaan dakwah
  5. Mendirikan  pusat-pusat  studi  dan  informasi  umat  secara  lebih  propesional  dan berorientasi pada kemajuan iptek
  6. Menjadikan masjid  sebagai  pusat  kegiatan:  ekonomi,  kesehatan  dan  kebudayaan  umat Islam. Karenanya, sistem manajemen kemasjidan perlu ditingkatkan
  7. Menjadikan sebagai pelopor yang propertis, humanis, dan transpormatif. Karenanya perlu dirumuskan pendekatan-pendekatan dakwah yang progkresif dan inklusif. Dakwah Islam tidak  boleh  hanya  dijadikan  sebagai  objek  dan  alat  legitimasi  bagi  pembangunan  yang semata-mata bersifat ekonomis-pragmatis berdasarkan kepentingan sesaat para penguasa.
Untuk merencanakan strategi dakwah yang mumpuni, maka diperlukan pembenahan secara  internal  terhadap  beberapa  unsur  yang  terlibat  dalam  proses  dakwah. Unsur-unsur tersebut adalah Dai/juru dakwah (aktivis dakwah) materi dakwah, metode dakwah, dan alat atau media dakwah.
Pembenaran  strategis  terhadap  unsur  tersebut  dapat  dilakukan  melalui  langkah-langkah sebagai berikut:
1.   Peningkatan Sumber Daya Muballigh / Da’i (SDM)
    Untuk mencapai  tujuan dakwah  secara maksimal, maka perlu dukungan  oleh para juru dakwah yang handal. Keandalan tersebut meliputi kualitas yang seharusnya dimiliki oleh  seorang  juru  dakwah  yang  sesuai  dengan  tujuan  dewasa  ini.  Aktivitas  dakwah dipandang  sebagai  kegiatan  yang  diperlukan  keahlian.  Mengingat  suatu  keahlian memerlukan penguasaan pengetahuan, maka para aktivis dakwah (Dai/muballigh) harus memiliki  kualifikasi  dan  persyaratan  akademik  dan  empirik    dalam  melaksanakan kewajiban dakwah.
     Di  era  modern  ini,  juru  dakwah  perlu  memiliki  dua  kompetensi  dalam
melaksanakan  dakwah,  yaitu  :  kompetensi  substantif  dan  kompetensi  metodologis. Kompetensi  substantif meliputi penguasaan  seorang  juru dakwah  terhadap ajaran-ajaran Islam secara tepat dan benar. Kompetensi metodologis meliputi kemampuan juru dakwah dalam mensosialisasikan ajara-ajaran Islam kepada sasaran dakwah (mad’u).
  1. Pemanfaatan Teknologi Modern sebagai Media Dakwah
     Salah  satu  sasaran  yang  efektif untuk menyebarluaskan ajaran-ajaran  Islam  adalah alat-alat  teknologi  modern  di  bidang  informasi  dan  komunikasi.  Kemajuan  di  bidang informasi  dan  telekomunikasi  harus  dimanfaatkan  oleh  aktivis  dakwah  sebagai  media dalam melakukan dakwah  Islam, sebab dengan cara demikian ajaran agama  Islam dapat diterima dalam waktu yang relatif singkat oleh sasaran dakwah dalam skala luas.
     Dalam  hal  ini,  lembaga-lembaga  dakwah  masih  banyak  yang  belum  dapat memanfaatkan  akses  teknologi-informasi  secara  maksimal,  begitu  juga  dengan penyediaan dakwah modern, misal TV. Hingga kini masih menjadi  impian. Oleh karena itu,  lembaga dakwah perlu membangun  sinergis  antar kekuatan guna merealisasikannya dalam rangka mengimbangi laju informasi dan meredam program-program TV yang tidak mendidik dan cenderung merusak tatanan masyarakat. 
  1. Pengembangan Metode Dakwah Fardhiyah
Untuk  menjawab  tantangan  dunia  global,  maka  perlu  dikembangkan  metode dakwah  fardhiyah, yaitu metode dakwah yang menjadikan pribadi dan keluarga  sebagai sendi utama dalam aktivitas dakwah. Dalam usaha membentuk masyarakat yang dicirikan oleh  Islam  harus  berawal  dari  pembinaan  pribadi  dan  keluarga  yang  Islami,  sebab lingkungan  keluarga merupakan  elemen  sosial  yang  amat  strategis  dan memberi  corak paling dominan bagi pengembangan masyarakat secara luas.
Pembinaan pribadi dan keluarga yang  Islami  ini dapat ditempuh melalui dua cara, yaitu:  pertama,  peningkatan  fungsi  orang  tua  (ibu  dan  bapak)  sebagai  tauladan  dalam rumah tangga; kedua, perlunya dibentuk lembaga konsultan keluarga sakinah (KKS) dan klinik rohani Islam (KRI) dalam setiap komunitas Muslim. Untuk pelaksanaan KKS dan KRI ini diperlukan tenaga penyuluh dan counselor Islam yang handal baik secara teoritis
maupun secara praktis. Disinilah peran lembaga dakwah untuk membina dan mendorong agar anggotanya mengembangkan dakwah fardiyah sehingga masing-masing keluarga dapat terpantau dan terkendali, sekaligus menjadi benteng kontrol sosial.
4.   Penerapan Dakwah Kultural
Dakwah  kultural  adalah  dakwah  Islam  dengan  pendekatan  kultural,  yaitu: pertama, dakwah yang bersifat akomodatif  terhadap nilai budaya  tertentu secara  inovatif dan  kreatif  tanpa  menghilangkan  aspek  substansial  keagamaan;  kedua,  menekankan pentingnya  kearifan  dalam  memahami  kebudayaan  komunitas  tertentu  sebagai  sasaran dakwah. Jadi, dakwah kultural adalah dakwah yang bersifat buttom-up dengan melakukan pemberdayaan  kehidupan  beragama  berdasarkan  nilai-nilai  spesifik  yang  dimiliki  oleh sasaran  dakwah.  Lawan  dari  dakwah  kultural  adalah  dakwan  struktural,  yaitu  dakwah yang  menjadikan  kekuasaan,  birokrasi,  kekuatan  politik  sebagai  alat  untuk memperjuangkan Islam. Karenanya dakwah struktural lebih bersifat top-down. Secara  sunnatullah,  setiap  komunitas  manusia,  etnis,  dan  daerah  memiliki kehasan  dalam  budaya.  Masing-masing  memiliki  corak  tersendiri  dan  menjadi kebanggaan  komunitas  bersangkutan.  Dalam  melakukan  dakwah  Islam  corak  budaya yang dimiliki oleh komunitas tertentu dapat dijadikan sebagai media dakwah yang ampuh dengan  mengambil  nilai  kebaikannya  dan  menolak  kemunkaran  yang  terkandung dalamnya.
Perbedaan penghayatan dan pengamalan agama selalu dipengaruhi oleh beberapa faktor,  seperti:  karakteristik  individu,  umur,  lingkungan  sosial,  dan  lingkungan  alam. Kelahiran mazhab  dalam  Islam  pun  turut  dipengaruhi  oleh  faktor  alam  dan  geografis. Karena  itu,  akan  selalu  ada perbedaan cara beragama antar orang desa dan kota, petani dengan nelayan, masyarakat agraris dan masyarakat industri, dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan  itu  perlu  dimengerti  oleh  para  aktivis  dakwah  supaya  dakwah  Islam  yang dilakukan dapat menyeseuaikan diri dengan kondisi objektif manusia yang dihadapi dan kecendrungan dinamika kehidupan mutakhir. Dalam  melakukan  dakwah  kultural,  para  aktivis  dakwah  harus  menawarkan pemikiran dan aplikasi syari’at Islam yang kaffah dan kreatif. Materi-materi dakwah perlu disistematiskan  dalam  suatu  rancangan  sillabi  dakwah  berdasarkan  kecendrungan  dan kebutuhan mad’u.
Para  aktivis  dakwah  tidak  boleh  langsung menghakimi  jamaah  berdasarkan persepsinya  sendiri,  tanpa mempertimbangkan  apa  sesungguhnya  yang  sedang mereka alami.  Karena  itu  materi  dakwah  kultural  tidak  semata-mata  bersifat  fiqh  sentries, melainkan  juga materi-materi  dakwah  yang  aktual  dan  bernilai  praktis  bagi  kehidupan umat dewasa ini. Kaedah formal ketentuan-ketentuan syari’ah yang selama ini merupakan tema  utama  pengajian  dan  khutbah  harus  diimbangi  dengan  uraian  mengenai  hakikat, substansi, dan pesan moral  yang terkandung dalam ketentuan syari’ah dan fiqh tersebut. Seiring  dengan  pergeseran  ini,  maka  tema-tema  dakwah  pun  yang  muncul  ke permukaan  adalah masalah-masalah  yang menyangkut  lingkungan  hidup,  polusi  udara, perubahan  iklim, pemanasan global, etika bisnis dan kewiraswastaan dan, bio-teknologi dan  cloning,  HAM,  demokrasi,  supremasi  hukum,  etika  politik,  kesenjangan  sosial ekonomi  dan  pemerataan  hasil-hasil  pembangunan,  budaya  dan  teknologi  informasi, gender, dan tema-tema kontemporer lainnya. Keharusan  untuk  medesain  ulang  tema-tema  dakwah  ini  merupaka  tuntunan modernisasi spiritualitas Islam yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Sebab, problema yang muncul  di  zaman  modern  jauh  lebih  kompleks  dan  memerlukan  respon  yang  lebih beragam  dan  akomodatif.  Di  sinilah  lembaga  dakwah  secara  sistematis  memberikan respon-proaktif bukan  reaktif  yang  sporadis. Sehingga dampaknya dapat dirasakan oleh umat secara konkrit. 
5.   Monitoring dan Evaluasi Dakwah
Aktivis dakwah yang mencakup segi-segi kehidupan yang amat  luas hanya dapat berlangsung dengan efektif dan efesien apabila sebelumnya telah dilakukan persiapan dan perencanaan  yang matang. Unutk melakukan persiapan dan perencanaan  yang matang, maka  diperlukan monitoring  dan  evaluasi  dakwah. Dari monitoring  dan  evaluasi  inilah dapat  diperoleh  imformasi  tentang  permasalahan  umat-umat  yang  selanjutnya  dapat dijadikan sebagai bahan masukan  dalam melakukan persiapan dan perencanaan dakwah. Pada  aspek  ini  sering kurang mendapatkan perhatian  secara  serius dan profesional oleh lembaga  dakwah,  sehingga  banyak  program-program  dakwah  yang  terkadang  tanpa termonitoring dan terevaluasi secara baik dan dibiarkan berjalan ala kadarnya. Monitoring dan evaluasi dakwah  ini sangat diperlukan untuk mendapat  informasi yang akurat mengenai tingkat keberhasilan dakwah. Dalam evaluasi tersebut akan terlihat kelebihan dan kekurangan dakwah yang  telah dilaksanakan,  tingkat  relevasi paket-paket dakwah  yang  ditawarkan  dengan  kebutuhan mad’u  (sasaran  dakwah),  dan  sejauh mana aktivitas  dakwah  yang  telah  dilakukan  dapat  mentransformasikan  cita  ideal  Islam  ke dalam realitas empirik umat.
6.   Membuat Pemetaan (Peta Dakwah)
Salah  satu usaha untuk mengetahui materi dan metode dakwah  yang dibutuhkan oleh kelompok masyarakat tertentu adalah melalui penyusunan peta dakwah. Peta dakwah adalah gambaran (deskriptif) menyeluruh tentang berbagai komponen yang terlibat dalam proses dakwah.
Adapun  komponen  pokok  yang  akan  dimuat  dalam  peta  dakwah  ini,  yaitu: Pertama, komponen yang berkaitan dengan keadaan umat Islam sebagai sasaran dakwah; kedua,  komponen  yang  berkaitan  dengan  proses  yang  berkiatan  dengan  pelaksanaan dakwah.  Komponen  yang  terkait  dengan  keadaan  umat  Islam,  seperti:  tingkat  sosial ekonomi,  tingkat  pendidikan,  perkerjaan  pokok  dan  sampingan, religiulitas/keberagamaan,  integrasi  sosial,  mobilitas  sosial  dan  dan  lain  sebagainya. Komponen  yang  terkait  dengan  proses  pelaksanaan  dakwah,  seperti:  aktivitas  lembaga-lembaga dakwah, keadaan muballigh/  aktivis dakwah, metode dakwah  yang digunakan, materi dakwah yang disajikan, pra sarana dakwah yang tersedia, dan lain sebagainya.









BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
   Dakwah  adalah  usaha  peningkatan  pemahanman  keagamaan  untuk  mengubah  pandangan hidup,  sikap  bathin  dan  perilaku  umat  yang  tidak  sesuai menjadi  sesuai  dengan  tuntunan syariat untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.  Dai harus mempunyai pemahaman  yang mendalam bukan  saja menganggap bahwa dakwah dalam  frame “amar ma’ruf nahi mungkar”,  sekedar menyampaikan  saja melainkan harus memenuhi beberapa  syarat,  yakni mencari materi  yang  cocok, mengetahui psikologis objek dakwah, memilih metode yang representatif, menggunakan bahasa yang bijaksana dan sebagainya.
    Dinamisasi  kehidupan  masyarakat  sebagai  sarana  dakwah  dewasa  ini  semakin kompeks  dan  menuntut  perlunya  perubahan  paradigma  strategi  dakwah  Islam.  Strategi dakwah  Islam  yang  diyakini  dapat  menjawab  tantangan  zaman  tersebut,  meliputi: peningkatan  sumberdaya  da’i/muballigh  (SDM),  pemanfaatan  teknologi  modern  sebagai media  dakwah,  penerapan metode  dakwah  fardhiyah  dan  dakwah  kultural, monitoring  dan evaluasi dakwah, serta penyusunan peta dakwah. Tanpa strategi dakwah Islam yang sistematis dan profesional, maka lembaga dakwah yang menghimpun da’i yang bertugas mendakwahkan nilai-nilai  Islam akan kehilangan andil dalam membentuk masyarakat yang religius dan beradab.

B.  Saran
               Makalah ini masih membutuhkan revisi dari mereka yang lebih proforsional dalam menulis karena masih jauh dari kesempurnaan yang memuaskan pembaca. Dengan harapan bermanfaat serta memberikan satu konsef tentang strategi dakwah saat ini.
                Hanya kepada Allah Swt kita berdoa dan berharap semoga makalah ini memperoleh imbalan yang lebih baik dari-Nya.
                                                                                                                                                                       
DAFTAR PUSTAKA


Azra,  Azyumardi,  Konteks  Berteologi  di  Indonesia:  Pengalaman  Islam,  Jakarta:
          Paramadina, 1999.

Ditjen Pendidikan Islam Depag RI, 2007.

Eldin, Achyar, Dakwah Stratejik, Jakarta: Pustaka Tarbiyatuna, 2003.

Harahap,  Syahrin,  Islam:  Konsep  dan  Implementasi  Pemberdayaan,  Yogyakarta:  Tiara Wacana, 1999.

Kontowijoyo,  Dinamika  Sejarah  Umat  Islam  Indonesia,  Yogyakarta:  Salahudin  Press,
          1985.
Masyari, Anwar, Butir-Butir Problematika Dakwah Islamiyah, Surabaya: Bina Ilmu, 1992.

Muhyidin,  Asep,  Dakwah  dalam  Perspektif  al-Qur’an:  Studi  Kritis  atas  Visi, Misi  dan
          Wawasan, Bandung: Pustaka Setia, 2002.

Mulkhan,  Abdul Munir,  Ideologi  Gerakan  Dakwah:  Episode  Kehidupan M.  Natsir  dan
            Azhar Basyir, Yogyakarta: Sipress, 1996.

Noer, Mohammad, “Dakwah untuk Umat,” Makalah dalam Workshop Program Studi Sejenis

Suparta, Munzier dan Harjani (Ed.), Metode Dakwah, Jakarta: Rahmat Semesta, 2003.