MANAJEMEN DAN STRATEGI DAKWAH
DALAM MERESPON PROBLEMATIKA UMAT
Oleh :
MAS’UDI
NPM :
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS TERBUKA
UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH SURABAYA
2011
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Aktivitas kegiatan dakwah
dapat dilakukan dengan
berbagai cara atau metode
dan direncanakan dengan tujuan mencari kebahagiaan hidup dengan dasar
keridhaan Allah Swt. Dakwah adalah
usaha peningkatan pemahanman
keagamaan untuk mengubah
pandangan hidup, sikap bathin
dan perilaku umat
yang tidak sesuai menjadi sesuai
dengan tuntunan syariat untuk
memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dai harus mempunyai pemahaman yang mendalam bukan saja menganggap bahwa dakwah dalam frame “amar ma’ruf nahi mungkar”, sekedar menyampaikan saja melainkan harus memenuhi beberapa syarat,
yakni mencari materi yang cocok, mengetahui psikologis objek dakwah,
memilih metode yang representatif, menggunakan bahasa yang bijaksana dan
sebagainya. Secara konvensional, subjek
dakwah terdiri dari dai (mubaligh) dan pengelola dakwah. Komposisi
subjek dakwah tersebut muncul karena dakwah selama ini lebih diartikan
atau dititikberatkan pada
dialog lisan (verbal)
saja.
Dai sering diidentikkan
dengan penceramah, sementara pengelola
dakwah adalah penyelenggara
kegiatan dakwah yang dilembagakan dalam institusi permanen (ta’mir masjid, pengurus
pengajian dan sebagainya) atau institusi
sementara dalam bentuk
kepanitiaan. Subjek dakwah,
lembaga atau pusat dakwah,
adalah institusi atau
organisasi yang menjalankan atau mempunyai usaha
berupa kegiatan dakwah.
Mendakwahkan Islam berarti
memberikan jawaban Islam
terhadap berbagai
permasalahan umat. Karenanya
dakwah Islam selalu
terpanggil untuk menyelesaikan berbagai permasalahan
yang sedang dan
akan dihadapi oleh
umat manusia. Meskipun misi dakwah
dari dulu sampai
kini tetap pada mengajak
umat manusia ke dalam
sistem Islam, namun tantangan
dakwah berupa problematika umat senantiasa berubah dari waktu kewaktu.
Permasalahan yang dihadapi oleh umat selalu berbeda baik secara kualitatif
maupun kuantitatif. Namun demikian, permasalahan-permasalahan umat tersebut perlu diidentifikasi dan dicari
solusi pemecahan yang
relevan dan strategis
melalui pendekatan-pendekatan
dakwah yang sistematis, smart, dan profesional.
B. Rumusan Masalah
Membaca dan memahami latar belakang di atas
maka penulis merumuskan pokok permasalahannya adalah bagaimana manajemen dan
strategi dakwah dalam merespom problematika umat ?
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Salah satu tujuan dan manfaat penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Sebagai tambahan
pengayaan wawasan
2. Salah satu
indicator suplemen pendukung kejayaan islam dan pemeluknya
3. Sebagai upaya pembenahan
manajemen dan strategi dakwah dalam merespom problematika umat
BAB
II
LANDASAN
TEORI
A. Pengertian Dakwah
Dakwah adalah usaha
peningkatan pemahanman keagamaan
untuk mengubah pandangan hidup, sikap
bathin dan perilaku
umat yang tidak
sesuai menjadi sesuai dengan
tuntunan syariat untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan
akhirat. Dai harus mempunyai
pemahaman yang mendalam bukan saja menganggap bahwa dakwah dalam frame “amar ma’ruf nahi mungkar”, sekedar menyampaikan saja melainkan harus memenuhi beberapa syarat,
yakni mencari materi yang cocok, mengetahui psikologis objek dakwah,
memilih metode yang representatif, menggunakan bahasa yang bijaksana dan
sebagainya. Secara konvensional, subjek
dakwah terdiri dari dai (mubaligh) dan pengelola dakwah. Komposisi
subjek dakwah tersebut muncul karena dakwah selama ini lebih diartikan
atau dititikberatkan pada
dialog lisan (verbal)
saja.
Dai sering diidentikkan
dengan penceramah, sementara pengelola
dakwah adalah penyelenggara
kegiatan dakwah yang dilembagakan dalam institusi permanen (ta’mir masjid, pengurus
pengajian dan sebagainya) atau
institusi sementara dalam
bentuk kepanitiaan. Subjek
dakwah, lembaga atau
pusat dakwah, adalah institusi
atau organisasi yang menjalankan atau mempunyai usaha
berupa kegiatan dakwah.
Mendakwahkan Islam berarti
memberikan jawaban Islam
terhadap berbagai
permasalahan umat. Karenanya
dakwah Islam selalu
terpanggil untuk menyelesaikan berbagai permasalahan
yang sedang dan
akan dihadapi oleh
umat manusia. Meskipun misi dakwah
dari dulu sampai
kini tetap pada mengajak
umat manusia ke dalam
sistem Islam, namun tantangan
dakwah berupa problematika umat senantiasa berubah dari waktu kewaktu.
Permasalahan yang dihadapi oleh umat selalu berbeda baik secara kualitatif
maupun kuantitatif. Namun demikian, permasalahan-permasalahan umat tersebut perlu diidentifikasi dan dicari
solusi pemecahan yang
relevan dan strategis
melalui pendekatan-pendekatan
dakwah yang sistematis, smart, dan professional serta utuh.
B. Melihat Problematika
Umat
Dinamisasi kehidupan
global yang semakin
tinggi dan kompetitif
telah mengiring umat manusia
senantiasa memandang persoalan hidup
secara pragmatis, logis, serba
instan, dan bahkan matematis. Keadaan demikian di samping membawa manfaat berupa kemajuan
ilmu pengetahuan dan
teknologi yang semakin
memudahkan aktifitas
manusia, juga telah membawa
implikasi negatif berupa
lemahnya semangat transendental
dan memudarnya hubungan-hubungan sosial.
Implikasi ini berlangsung
demikian lama, sehingga
dewasa ini telah melahirkan berbagai
kenyataan sosial yang
cukup bertentangan dengan
cita-cita ideal Islam.
Realitas sosial di atas
ada yang tidak sesuai dengan cita ideal Islam, karenanya harus diubah melalui
dakwah Islam. Mengingat
kenyataan-kenyataan sosial tersebut
banyak dijumpai dalam beberapa
komunitas Islam dengan
permasalahan yang berbeda-beda, maka diperlukan paradigma baru
dalam melakukan dakwah Islam yang mempertimbangkan jenis dan
kualitas permasalahan yang
dihadapi oleh umat.
Di sinilah institusi-institusi dakwah dituntut dapat
melakukan usaha-usaha dakwah
secara sistematis dan
profesional melalui
langkah-langkah yang srategis,
sebagaimana yang diisyaratan
dalam surat at-Taubah
ayat 105 yang artinya: bekerjalah
kamu (secara profesional) maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-
orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.
C. Strategi Dakwah dalam
Merespon Problematika Umat
Untuk mengatasi berbagai
persoalan umat yang
begitu kompleks, institusi
dakwah tidak cukup hanya dengan dengan melakukan program dakwah yang
konvensional, sporadis, dan
reaktif, tetapi harus
bersifat profesional, strategis,
dan pro-aktif. Menghadapi sasaran dakwah (mad’u)
yang semakin kritis
dan tantangan dunia
global yang makin
kompleks dewasa ini, maka
diperlukan strategi dakwah yang mantap, sehingga aktivitas dakwah yang
dilakukan dapat bersaing di tengah bursa informasi yang semakin kompetitif.
Ada beberapa
rancangan dakwah yang
dapat dilakukan untuk
menjawab
permasalahan
dewasa ini, yaitu:
- Memfokuskan aktivitas dakwah untuk mengentaskan kemiskinan umat
- Menyiapkan elit strategis Muslim untuk disuplai ke berbagai jalur kepemimpinan bangsa sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.
- Membuat peta sosial umat sebagai informasi awal bagi pengembangan dakwah
- Mengintregasikan wawasan etika, estetika, logika, dan budaya dalam berbagai perencanaan dakwah
- Mendirikan pusat-pusat studi dan informasi umat secara lebih propesional dan berorientasi pada kemajuan iptek
- Menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan: ekonomi, kesehatan dan kebudayaan umat Islam. Karenanya, sistem manajemen kemasjidan perlu ditingkatkan
- Menjadikan sebagai pelopor yang propertis, humanis, dan transpormatif. Karenanya perlu dirumuskan pendekatan-pendekatan dakwah yang progkresif dan inklusif. Dakwah Islam tidak boleh hanya dijadikan sebagai objek dan alat legitimasi bagi pembangunan yang semata-mata bersifat ekonomis-pragmatis berdasarkan kepentingan sesaat para penguasa.
Untuk merencanakan strategi dakwah yang mumpuni, maka diperlukan
pembenahan secara internal terhadap
beberapa unsur yang
terlibat dalam proses
dakwah. Unsur-unsur tersebut adalah Dai/juru dakwah (aktivis dakwah)
materi dakwah, metode dakwah, dan alat atau media dakwah.
Pembenaran strategis terhadap
unsur tersebut dapat
dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
1. Peningkatan
Sumber Daya Muballigh / Da’i (SDM)
Untuk mencapai tujuan dakwah
secara maksimal, maka perlu dukungan
oleh para juru dakwah yang handal. Keandalan tersebut meliputi kualitas
yang seharusnya dimiliki oleh
seorang juru dakwah
yang sesuai dengan
tujuan dewasa ini.
Aktivitas dakwah dipandang sebagai
kegiatan yang diperlukan
keahlian. Mengingat suatu
keahlian memerlukan penguasaan pengetahuan, maka para aktivis dakwah
(Dai/muballigh) harus memiliki
kualifikasi dan persyaratan
akademik dan empirik
dalam melaksanakan kewajiban
dakwah.
Di era
modern ini, juru
dakwah perlu memiliki
dua kompetensi dalam
melaksanakan dakwah,
yaitu : kompetensi
substantif dan kompetensi
metodologis. Kompetensi
substantif meliputi penguasaan
seorang juru dakwah terhadap ajaran-ajaran Islam secara tepat dan
benar. Kompetensi metodologis meliputi kemampuan juru dakwah dalam
mensosialisasikan ajara-ajaran Islam kepada sasaran dakwah (mad’u).
- Pemanfaatan Teknologi Modern sebagai Media Dakwah
Salah satu
sasaran yang efektif untuk menyebarluaskan ajaran-ajaran Islam
adalah alat-alat teknologi modern
di bidang informasi
dan komunikasi. Kemajuan
di bidang informasi dan
telekomunikasi harus dimanfaatkan
oleh aktivis dakwah
sebagai media dalam melakukan
dakwah Islam, sebab dengan cara demikian
ajaran agama Islam dapat diterima dalam
waktu yang relatif singkat oleh sasaran dakwah dalam skala luas.
Dalam hal
ini, lembaga-lembaga dakwah
masih banyak yang
belum dapat memanfaatkan akses
teknologi-informasi secara maksimal,
begitu juga dengan penyediaan dakwah modern, misal TV.
Hingga kini masih menjadi impian. Oleh
karena itu, lembaga dakwah perlu
membangun sinergis antar kekuatan guna merealisasikannya dalam
rangka mengimbangi laju informasi dan meredam program-program TV yang tidak
mendidik dan cenderung merusak tatanan masyarakat.
- Pengembangan Metode Dakwah Fardhiyah
Untuk menjawab tantangan
dunia global, maka
perlu dikembangkan metode dakwah
fardhiyah, yaitu metode dakwah yang menjadikan pribadi dan keluarga sebagai sendi utama dalam aktivitas dakwah.
Dalam usaha membentuk masyarakat yang dicirikan oleh Islam
harus berawal dari
pembinaan pribadi dan
keluarga yang Islami,
sebab lingkungan keluarga
merupakan elemen sosial
yang amat strategis
dan memberi corak paling dominan
bagi pengembangan masyarakat secara luas.
Pembinaan pribadi dan keluarga yang Islami
ini dapat ditempuh melalui dua cara, yaitu: pertama,
peningkatan fungsi orang
tua (ibu dan
bapak) sebagai tauladan
dalam rumah tangga; kedua, perlunya dibentuk lembaga konsultan keluarga
sakinah (KKS) dan klinik rohani Islam (KRI) dalam setiap komunitas Muslim.
Untuk pelaksanaan KKS dan KRI ini diperlukan tenaga penyuluh dan counselor
Islam yang handal baik secara teoritis
maupun secara
praktis. Disinilah peran lembaga dakwah untuk membina dan mendorong agar
anggotanya mengembangkan dakwah fardiyah sehingga masing-masing keluarga dapat
terpantau dan terkendali, sekaligus menjadi benteng kontrol sosial.
4. Penerapan
Dakwah Kultural
Dakwah kultural adalah
dakwah Islam dengan
pendekatan kultural, yaitu: pertama,
dakwah yang bersifat akomodatif terhadap
nilai budaya tertentu secara inovatif dan
kreatif tanpa menghilangkan
aspek substansial keagamaan;
kedua, menekankan pentingnya kearifan
dalam memahami kebudayaan
komunitas tertentu sebagai
sasaran dakwah. Jadi, dakwah kultural adalah dakwah yang bersifat buttom-up
dengan melakukan pemberdayaan
kehidupan beragama berdasarkan
nilai-nilai spesifik yang
dimiliki oleh sasaran dakwah.
Lawan dari dakwah
kultural adalah dakwan
struktural, yaitu dakwah yang
menjadikan kekuasaan, birokrasi,
kekuatan politik sebagai
alat untuk memperjuangkan Islam.
Karenanya dakwah struktural lebih bersifat top-down. Secara sunnatullah,
setiap komunitas manusia,
etnis, dan daerah
memiliki kehasan dalam budaya.
Masing-masing memiliki corak
tersendiri dan menjadi kebanggaan komunitas
bersangkutan. Dalam melakukan
dakwah Islam corak
budaya yang dimiliki oleh komunitas tertentu dapat dijadikan sebagai
media dakwah yang ampuh dengan
mengambil nilai kebaikannya
dan menolak kemunkaran
yang terkandung dalamnya.
Perbedaan penghayatan dan pengamalan agama selalu dipengaruhi oleh
beberapa faktor, seperti: karakteristik
individu, umur, lingkungan
sosial, dan lingkungan
alam. Kelahiran mazhab dalam Islam
pun turut dipengaruhi
oleh faktor alam
dan geografis. Karena itu,
akan selalu ada perbedaan cara beragama antar orang desa
dan kota,
petani dengan nelayan, masyarakat agraris dan masyarakat industri, dan
sebagainya. Perbedaan-perbedaan itu perlu
dimengerti oleh para
aktivis dakwah supaya
dakwah Islam yang dilakukan dapat menyeseuaikan diri
dengan kondisi objektif manusia yang dihadapi dan kecendrungan dinamika
kehidupan mutakhir. Dalam melakukan dakwah
kultural, para aktivis
dakwah harus menawarkan pemikiran dan aplikasi syari’at
Islam yang kaffah dan kreatif. Materi-materi dakwah perlu disistematiskan dalam
suatu rancangan sillabi
dakwah berdasarkan kecendrungan
dan kebutuhan mad’u.
Para aktivis dakwah
tidak boleh langsung menghakimi jamaah
berdasarkan persepsinya
sendiri, tanpa
mempertimbangkan apa sesungguhnya
yang sedang mereka alami. Karena
itu materi dakwah
kultural tidak semata-mata
bersifat fiqh sentries, melainkan juga materi-materi dakwah
yang aktual dan
bernilai praktis bagi
kehidupan umat dewasa ini. Kaedah formal ketentuan-ketentuan syari’ah
yang selama ini merupakan tema
utama pengajian dan
khutbah harus diimbangi
dengan uraian mengenai
hakikat, substansi, dan pesan moral
yang terkandung dalam ketentuan syari’ah dan fiqh tersebut. Seiring dengan
pergeseran ini, maka tema-tema dakwah
pun yang muncul
ke permukaan adalah
masalah-masalah yang menyangkut lingkungan
hidup, polusi udara, perubahan iklim, pemanasan global, etika bisnis dan kewiraswastaan
dan, bio-teknologi dan cloning, HAM,
demokrasi, supremasi hukum,
etika politik, kesenjangan
sosial ekonomi dan pemerataan
hasil-hasil pembangunan, budaya
dan teknologi informasi, gender, dan tema-tema kontemporer
lainnya. Keharusan untuk medesain
ulang tema-tema dakwah
ini merupaka tuntunan modernisasi spiritualitas Islam yang
tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Sebab, problema yang muncul
di zaman modern
jauh lebih kompleks
dan memerlukan respon
yang lebih beragam dan
akomodatif. Di sinilah
lembaga dakwah secara
sistematis memberikan
respon-proaktif bukan reaktif yang
sporadis. Sehingga dampaknya dapat dirasakan oleh umat secara
konkrit.
5. Monitoring
dan Evaluasi Dakwah
Aktivis dakwah yang mencakup segi-segi kehidupan yang amat luas hanya dapat berlangsung dengan efektif
dan efesien apabila sebelumnya telah dilakukan persiapan dan perencanaan yang matang. Unutk melakukan persiapan dan
perencanaan yang matang, maka diperlukan monitoring dan evaluasi dakwah. Dari monitoring dan
evaluasi inilah dapat diperoleh
imformasi tentang permasalahan
umat-umat yang selanjutnya
dapat dijadikan sebagai bahan masukan
dalam melakukan persiapan dan perencanaan dakwah. Pada aspek
ini sering kurang mendapatkan
perhatian secara serius dan profesional oleh lembaga dakwah,
sehingga banyak program-program dakwah
yang terkadang tanpa termonitoring dan terevaluasi secara
baik dan dibiarkan berjalan ala kadarnya. Monitoring dan evaluasi dakwah ini sangat diperlukan untuk mendapat informasi yang akurat mengenai tingkat
keberhasilan dakwah. Dalam evaluasi tersebut akan terlihat kelebihan dan
kekurangan dakwah yang telah
dilaksanakan, tingkat relevasi paket-paket dakwah yang
ditawarkan dengan kebutuhan mad’u (sasaran
dakwah), dan sejauh mana aktivitas dakwah
yang telah dilakukan
dapat mentransformasikan cita
ideal Islam ke dalam realitas empirik umat.
6. Membuat
Pemetaan (Peta Dakwah)
Salah satu usaha untuk
mengetahui materi dan metode dakwah yang
dibutuhkan oleh kelompok masyarakat tertentu adalah melalui penyusunan peta
dakwah. Peta dakwah adalah gambaran (deskriptif) menyeluruh tentang berbagai
komponen yang terlibat dalam proses dakwah.
Adapun komponen pokok
yang akan dimuat
dalam peta dakwah
ini, yaitu: Pertama, komponen
yang berkaitan dengan keadaan umat Islam sebagai sasaran dakwah; kedua, komponen
yang berkaitan dengan
proses yang berkiatan
dengan pelaksanaan dakwah. Komponen
yang terkait dengan
keadaan umat Islam,
seperti: tingkat sosial ekonomi, tingkat
pendidikan, perkerjaan pokok
dan sampingan,
religiulitas/keberagamaan,
integrasi sosial, mobilitas
sosial dan dan
lain sebagainya. Komponen yang
terkait dengan proses
pelaksanaan dakwah, seperti:
aktivitas lembaga-lembaga dakwah,
keadaan muballigh/ aktivis dakwah,
metode dakwah yang digunakan, materi
dakwah yang disajikan, pra sarana dakwah yang tersedia, dan lain sebagainya.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dakwah adalah
usaha peningkatan pemahanman
keagamaan untuk mengubah
pandangan hidup, sikap bathin
dan perilaku umat
yang tidak sesuai menjadi sesuai
dengan tuntunan syariat untuk memperoleh
kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Dai harus mempunyai pemahaman
yang mendalam bukan saja
menganggap bahwa dakwah dalam frame “amar
ma’ruf nahi mungkar”, sekedar
menyampaikan saja melainkan harus
memenuhi beberapa syarat, yakni mencari materi yang
cocok, mengetahui psikologis objek dakwah, memilih metode yang
representatif, menggunakan bahasa yang bijaksana dan sebagainya.
Dinamisasi kehidupan
masyarakat sebagai sarana
dakwah dewasa ini
semakin kompeks dan menuntut
perlunya perubahan paradigma
strategi dakwah Islam.
Strategi dakwah Islam yang
diyakini dapat menjawab
tantangan zaman tersebut,
meliputi: peningkatan
sumberdaya da’i/muballigh (SDM),
pemanfaatan teknologi modern
sebagai media dakwah, penerapan metode dakwah
fardhiyah dan dakwah
kultural, monitoring dan evaluasi
dakwah, serta penyusunan peta dakwah. Tanpa strategi dakwah Islam yang
sistematis dan profesional, maka lembaga dakwah yang menghimpun da’i yang
bertugas mendakwahkan nilai-nilai Islam
akan kehilangan andil dalam membentuk masyarakat yang religius dan beradab.
B. Saran
Makalah ini
masih membutuhkan revisi dari mereka yang lebih proforsional dalam menulis
karena masih jauh dari kesempurnaan yang memuaskan pembaca. Dengan harapan
bermanfaat serta memberikan satu konsef tentang strategi dakwah saat ini.
Hanya kepada
Allah Swt kita berdoa dan berharap semoga makalah ini memperoleh imbalan yang
lebih baik dari-Nya.
DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi,
Konteks Berteologi
di Indonesia: Pengalaman
Islam, Jakarta:
Paramadina, 1999.
Ditjen
Pendidikan Islam Depag RI, 2007.
Eldin,
Achyar, Dakwah Stratejik, Jakarta: Pustaka
Tarbiyatuna, 2003.
Harahap, Syahrin,
Islam: Konsep
dan Implementasi Pemberdayaan, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999.
Kontowijoyo, Dinamika Sejarah
Umat Islam Indonesia, Yogyakarta: Salahudin
Press,
1985.
Masy‟ari, Anwar, Butir-Butir Problematika Dakwah Islamiyah,
Surabaya: Bina
Ilmu, 1992.
Muhyidin, Asep, Dakwah
dalam Perspektif al-Qur’an:
Studi Kritis atas
Visi, Misi dan
Wawasan, Bandung: Pustaka Setia, 2002.
Mulkhan, Abdul Munir,
Ideologi Gerakan
Dakwah: Episode Kehidupan M.
Natsir dan
Azhar Basyir, Yogyakarta:
Sipress, 1996.
Noer,
Mohammad, “Dakwah untuk Umat,”
Makalah dalam Workshop Program Studi Sejenis
Suparta,
Munzier dan Harjani (Ed.), Metode Dakwah, Jakarta:
Rahmat Semesta, 2003.
0 komentar:
Posting Komentar