STRATEGI
PEMBELAJARAN
KOOPERATIF

Oleh :
ACH MURTADA
ABD QODIR
ABD BASIT
JUNAIDI
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM AL-KHAIRAT PAMEKASAN
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
TAHUN 2009
KATA PENGANTAR
Puji syukur hanya kepada Allah SWT atas segala limpahan nikmat serta
karunia-Nya, sehingga penulisan makalah ini telah selesai sesuai dengan
rencana. Kemudian shalawat serta salamnya semoga senantiasa tercurahkan kepada
Nabi Muhammad SAW begitu juga kepada keluarga dan para sahabat-sahabatnya.
Selanjutnya penulis menghaturkan ucapan terima kasih yang tak terhingga
kepada pihak-pihak terkait yang telah membantu penulis dalam penyusunan makalah
ini.
Akhirnya penulis berharap kepada para
pembaca makalah ini, jika terdapat kesalahan dan kekurangan, baik dari sisi penulisan,
kaidah bahasa ataupun dari sisi sistematika maka penulis mengharap kritikan dan
saran yang konstruktif demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL
................................................................................ i
KATA PENGANTAR
…………………………………………………. ii
DAFTAR ISI
........................................................................................... iii
BAB I : PENDAHULUAN ……………………………………. 1
BAB II : PEMBAHASAN………………………………………. 2
BAB III : PENUTUP …………………………………………….. 3
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Strategi adalah
cara yang fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Metode koperatif
sebagai metode pengajaran yang proses belajar mengajarnya merupakan kegiatan
kerjasama dan interaksi yang bersifat edukatif sungguh dapat mendinamisir
interaksi dua arah antara guru dengan para siswi. Metode pengajaran koperatif
ini diterapkan untuk membina, membimbing tingkah laku belajar secara edukatif
dalam berbagai peristiwa kerjasama dan interaksi pembelajaran secara efektif
dan efisien (Mailah, 1995 : 29).
Untuk mendukung
penerapan metode koperatif ini maka harus ada upaya-upaya efektif dalam
melakukan dan menciptakan pendekatan terhadap corak kegiatan kerjasama
interaksional yang edukatif. Corak itu misalnya dengan membuka dialog melalui
tanya-jawab, mencari alternatif melalui metode diskusi dan metode kerja
kelompok agar supaya siswa terlibat langsung dalam proses belajar-mengajar.
Metode koperatif ini menjadi penting oleh karena dapat menciptakan proses
pembelajaran yang selalu mendinamisir kerjasama atau interaksi timbal balik
antara guru dan siswi dalam pembahasan dan pemahaman mata pelajaran tertentu.
Cukup rasional jika metode koperatif ini dipandang bisa mendorong para siswa
untuk berlatih mengembangkan potensi berpikirnya, sedangkan guru akan lebih
mudah mengetahui kualitas potensi berpikir mereka dalam proses pembelajaran
tersebut.
Adapun tujuan
pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggungjawab (Undang-Undang SISDIKNAS Nomor 20 Tahun 2003
Pasal 3).
Dengan demikian
peran serta guru, orang tua, dan orang-orang yang ada di sekitar anak. Dalam
hal ini penulis ingin meneliti tentang “ Strategi Pembelajaran
Kooperatif ”.
BAB II
PEMBAHASAN
Strategi pembelajaran kooperatif merupakan
bagian metode interaksi edukatif yang di dalamnya terdapat dua buah kegiatan
yakni kegiatan guru di satu pihak dan kegiatan peserta didik di pihak lain.
Guru harus berusaha agar peserta didik aktif dan kreatif secara optimal
khususnya dalam kecerdasan atau kejelian memahami satu bahasan pelajaran, sebab
interaksi ini merupakan sebuah instrumen dari proses pembelajaran antara guru
dan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan ideal pendidikan. Peserta didik
yang aktif dan kreatiflah yang diharapkan dari pembelajaran ini sehingga proses
itu dapat memberi pengaruh yang sangat dalam bagi mereka untuk dapat mencapai
tujuannya secara efektif dan efiisien. Demikian juga sebagaimana definisi yang
diutarakan oleh Kauchak dan Enggen dalam buku Belajar dan Pembelajaran
(Mailah, 2002: 19) bahwa: “Belajar kooperatif merupakan suatu kumpulan strategi
mengajar yang digunakan siswa untuk membantu satu dengan yang lain dalam
mempelajari sesuatu.” Sedangkan
menurut Slavin: “Dalam pembelajaran kooperatif siswa bekerja sama dalam
kelompok kecil saling membantu untuk mempelajari suatu materi” (Mailah, 2002: 24). Pandangan
yang serupa disampaikan oleh Thompson dan Smith bahwa “dalam pembelajaran
kooperatif siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk mempelajari
materi akademik dan keterampilan antar pribadi. Anggota-anggota kelompok
bertanggung jawab atas ketuntasan tugas-tugas kelompok dan untuk mempelajari
materi itu sendiri” (Mailah, 2002: 25).
Berdasarkan uraian di atas,
penulis berpendapat bahwa aplikasi pembelajaran kooperatif senantiasa
memanfaatkan kecenderungan siswa untuk berinteraksi secara timbal balik dari
satu teman ke teman lainnya di antara sesama siswa atas bimbingan dan petunjuk
dari guru yang bersangkutan dan diharapkan mereka benar-benar memahami arti dan
maksud dari materi pelajaran yang dibahas bersama.
Pembelajaran kooperatif
sebetulnya merupakan aktualisasi kegiatan mengajar yang lebih memfokuskan pada
upaya merangsang peserta didik untuk belajar secara mandiri dalam memahami
materi pelajaran.
BAB III
PENUTUP
Pembelajaran kooperatif terkesan sebagai eksperimentasi aplikatif dari
konsep filsafat konstruktivisme pendidikan. Itu memang betul, karena
pembelajaran kooperatif merupakan salah satu penjabaran aplikatif dari filsafat
konstruktivisme pendidikan. Menurut filsafat ini, pendidikan identik dengan
usaha serius membelajarkan peserta didik dengan berpatokan kepada
prinsip-prinsip berikut ini:
a. Pengetahuan dibangun oleh siswa
secara aktif.
b. Tekanan dalam proses belajar
terletak pada siswa.
c. Mengajar adalah membantu siswa
belajar.
d. Tekanan dalam proses belajar lebih
pada proses bukan pada hasil akhir.
e. Kurikulum menekankan partisipasi
siswa, dan
f. Guru adalah fasilitator (Suparno,
1997: 73).
Dari enam prinsip filsafat konstruktivisme
pendidikan tersebut di atas ditemukan suatu substansi pembelajaran yang khas
dan bermakna sangat kooperatif, yaitu memadukan kegiatan pendidikan kognitif
dengan pendidikan afektif secara simultan. Secara kognitif, peserta didik
memperoleh tambahan konsep-konsep ilmu pengetahuan yang ditransfer ke dalam
ruang abstraksi alam berpikirnya, dan secara afektif mereka dirangsang
menghayati nilai- nilai kebersamaan dalam proses belajar melalui proses
sosialisasi pikiran- pikirannya sendiri ke tengah-tengah anggota kelompok
belajarnya.
Kebiasaan berdiskusi, menjawab
pertanyaan, mengapresiasi pikiran peserta didik lainnya, bersikap kritis dan
memberi alternatif pikiran pada yang lain adalah contoh-contoh tujuan
pendidikan afektif (Mudyahardjo, 2002: 226).
Makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka saran dan kritik sangat saya harapkan untuk memperbaiki kualitas
penulisan makalah di masa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Mailah, 2002. Strategi Belajar Mengajar. Bandung:
Pustaka Setia.
Mudyahardjo,
Redja, 2002. Filsafat Ilmu Pendidikan Suatu Pengantar. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
R.I., Pemerintah,
2003. Undang-Undang Sistem Pendidikan. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Sardiman, 2005. Guru
dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta
Suparno, 2006. Aplikasi Strategi Belajar Mengajar.
Bandung: Pustaka Setia.
UU
RI No. 20, 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.
0 komentar:
Posting Komentar